Agama dan politik; tak akan ada habisnya jika membicarakan korelasi kedua hal yang sadar tak sadar selalu disangkutpautkan tersebut. Isu nasional, memang begitu kelihatannya, terutama setelah layar kaca penuh sesak dengan pemberitaan politik yang tak jarang menghegemoni dan memunculkan perpecahan di mana-mana. Namun, ternyata pembicaraan itu tak melulu harus disimak lewat layar kaca atau isu yang berputar dari ibu kota. Justru, sebuah kampung wisata yang cukup tenar di Surakarta, Kampung Batik Laweyan, ternyata juga menyimpan segumpal fanatisme yang berbalur dengan asyiknya pesta politik lokal di sana.

Pilkada Surakarta tahun 2015, melalui film bertajuk Sepanjang Jalan Satu Arah, Bani Nasution mencoba menguak kembali kisah di balik demonstrasi pasca terpilihnya Gubernur Surakarta pada waktu itu. Tak jauh-jauh, sejak awal hingga akhir, kisah dalam film ini berasal dari ibunya sendiri. Ibu dari Bani Nasution bisa dikatakan fanatik, khususnya dalam hal memilih pemimpin yang sesuai akidah. Pemimpin harus seagama dan dianggap dapat memperjuangkan kepentingan-kepentingan Islam. Film perdananya ini menampilkan Bani sendiri dan juga ibunya dalam sebagian besar adegan. Tentunya, karena film dokumenter ini menceritakan kisah nyata antara seorang ibu yang menuntut anaknya memilih pemimpin berdasarkan agama. Sedangkan sang anak tampak apatis mengenai hal itu, hingga pada akhirnya, Bani tidak memilih siapa pun.

Dalam durasi 16 menit, film ini berhasil menampakkan realita kekecewaan dan paniknya masyarakat musilm di Laweyan ketika pemimpin terpilih berasal dari agama yang berseberangan dengan akidah: Nasrani. Kekalutan sang ibu, hingga pecahnya demonstrasi di Laweyan turut mewarnai film dokumenter yang sempat mendapatkan special mention di Sea Short Film Festival Kuala Lumpur ini. Tahun ini, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dengan tema “Fluidity” mewadahi Sepanjang Jalan Satu Arah untuk bisa dipertontonkan kembali dalam  JAFF Indonesian Screen Awards (ISA) kategori short movie. Tentunya, film ini juga akan sengit berkompetisi dengan film lain untuk memperebutkan piala penghargaan dalam JAFF ke-12 ini.

Angela Shinta Dara Puspita