OPEN AIR CINEMA

The Ingenuous Nature of Cinema

Film is a form of entertainment supposedly enjoyed by all people regardless the class of society. However, in the development of modern era, the distribution of Indonesian films are mostly the privilege of the middle-up class people. The exclusive experiences of watching movies in comfortable spaces such as cinema, café, campus, mall, and so forth are not accessible for the middle-low class people.

Open Air Cinema brings people back to a nostalgic way of watching movies in a costless and modest way, thus films are not restricted for the middle-up class people. In this edition, Open Air Cinema tries to eliminate such kind of exclusivity by delivering to the public the movies that had attracted millions of viewers in Indonesia such as: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 and My Stupid Boss. As what we have been doing in recent years, Open Air Cinema also conducts the screening of films portraying the everyday life of the society such as Dluwang, Hoyen, Incang-Inceng, Munggah Kaji, and The Unseen Words.

This year, the activities of Open Air Cinema are concentrated in Taman Tebing Breksi (Breksi Cliff Park), Prambanan. We are interested in this very place due to its peculiar uniqueness. It is a potential screening stage since it is strongly attractive as a tourism object whose society is enthusiastic for film screening. People can enjoy the atmosphere of highland and the view of the town seen from above the cliff while watching the films presented by Open Air Cinema.

Lastly, we wish you a good time watching the Open Air Cinema films while at once being pampered by the wonderful and chilly Breksi Cliff Park, Prambanan.

Egha Harismina
Programmer of Open Air Cinema

Hakikat Sinema yang Sederhana

Film adalah sebuah media hiburan yang seharusnya dapat dinikmati secara luas oleh semua kalangan masyarakat. Namun dalam perkembangan di era modern ini persebaran film-film Indonesia mayoritas dinikmati kelas-kelas ekonomi menengah dan ke atas. Eksklusifitas menonton dengan tempat-tempat yang nyaman seperti bioskop, kafe, kampus, mall dan sebagainya membuat masyarakat kalangan bawah tidak dapat menjangkau hiburan akan sebuah sinema.

Open Air Cinema membawa nostalgia tersendiri ke hadapan masyarakat dengan cara yang murah dan sederhana, sehingga film tidak hanya dinikmati oleh kalangan menengah ke atas saja. Pada Open Air Cinema kali ini, kami mencoba menghilangkan eksklusifitas film untuk kalangan tertentu dengan cara menyuguhkan film-film yang telah mendapat jutaan penonton di Indonesia seperti: “Warkop DKI Reborn Part 1” dan “My Stupid Boss” kepada masyarakat umum. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Open Air Cinema juga menghadirkan film-film pendek yang dekat dengan masyarakat seperti film “Dluwang”, “Hoyen”, “Incang-Inceng”, “Munggah Kaji” dan “The Unseen Words”.

Pada tahun ini, kami memusatkan Open Air Cinema di Taman Tebing Breksi, Prambanan sebab kami pribadi menilai tempat tersebut selain memiliki keeksotisan yang unik, pun layak untuk dijadikan panggung pemutaran, terlebih tempat tersebut mempunyai potensi wisata yang kuat dan masyarakat yang senantiasa antusias akan sebuah pemutaran film. Atmosfer lokasi dataran tinggi serta pemandangan kota dari atas tebing dapat disaksikan dengan indahnya sekaligus asyiknya menonton film-film Open Air Cinema.

Akhir kata, selamat menyaksikan film-film Open Air Cinema bersama dengan syahdunya keindahan alam dan hawa sejuk di Taman Tebing Breksi, Prambanan.

Egha Harismina
Programmer Open Air Cinema

FILM LIST

Sunday, 19 November 2017 | 19:00 | Tebing Breksi

Warkop DKI Reborn Part 1

Anggi Umbara/110 minutes/2016/Indonesia/Fiction

The Unseen Words

Wahyu Utami/27 minutes/2017/ Indonesia/Documentary

Hoyen

Yopi Kurniawan/26 minutes/2017/Indonesia/Fiksi

Sunday, 26 November 2017 | 19:00 | Tebing Breksi

My Stupid Boss

Upi Avianto/108 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Dluwang

Agni Tirta/25 minutes/2017/Indonesia/Documentary

Incang-Inceng

Kelik Sri Nugroho/25 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Munggah Kaji (Pilgrimage to Mecca)

Rivandy Adi Kuswara/29 minutes/2017/Indonesia/Fiction