OPEN AIR CINEMA

Hakikat Sinema yang Sederhana

Film adalah karya seni audio visual yang pada zaman sekarang digunakan untuk menyampaikan gagasan, ide atau kegelisahan tentang sesuatu, kepada seseorang atau khalayak ramai. Pada era sekarang, film sangat mudah didapatkan dengan bantuan internet, hampir semua kalangan bisa mengakses melalui smartphone, tetapi untuk orang-orang yang jauh dari jangkauan internet mendapatkan hiburan seperti film sangat sulit. Pemuda pemudi yang peduli dalam budaya menonton juga semakin sedikit.

Open Air Cinema adalah program layar tancepan untuk menciptaan  budaya menonton di desa-desa, bukan hanya menimbulkan rasa untuk membuat film, tetapi untuk menciptakan pemutaran layar tancepan juga, supaya budaya menonton atau program layar tancepan tidak hilang. Tahun ini film-film yang akan diputar adalah film layar lebar Indonesia yang dibuka oleh film pendek buatan Indonesia. Film layar lebar yang diputar pada Open Air Cinema tahun ini adalah Guru Ngaji, Petualangan Menangkap Petir, Sultan Agung, Sesat, Moonrise Over Egypt, Jelita Sejuba Mencintai Kesatria Negara. Film pendek yang menemani film layar lebar tersebut adalah Tilik, Golek Balung Butho, Gumbregan, Lukisan Napas, Salam Aspal Gronjal, Tentaticles!, Gula dan Pasir.

Pada tahun ini, kami memilih lokasi Open Air Cinema yaitu Desa Sutodirjan, Desa Sabunan, dan Studio Gamplong, terpilihnya venue tersebut karena daerah tersebut merupakan desa wisata yang menarik sekali. Desa Sutodijan, Kemetiran menjadi desa wisata dan mendapati juara ke dua se indonesia sebagai desa piala dunia, untuk Desa Sabunan, Ganjuran menjadi desa wisata karena ada gereja Katolik Roma untuk wisatawan beragama Katolik di Bantul dan Studio Gamplong adalah desa wisata yang dibangun untuk menjadi studio shooting layaknya Hollywood.

Pada tahun ke-13 ini pula, JAFF mengadakan Open Air Cinema di venue utama, Jogja National Museum di Pendopo Ajiyasa selama festival tanggal 28 November hingga 3 Desember 2018. Open Air Cinema di Venue utama JAFF 13 ini pula gratis dan bisa dinikmati untuk segala kalangan dan khususnya untuk warga desa sekitar Jogja National Museum.

Akhir kata, selamat menyaksikan film Open Air Cinema bersama dengan syahdunya keindahan malam desa wisata Jogja.

Mahardhika Subangun

Chief Open Air Cinema

FEATURES

Guru Ngaji

Erwin A/105 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Petualangan Menangkap Petir

Kuntz Agus/90 minutes/2018/ Indonesia/Fiction

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta

Hanung Bramantyo/148 minutes/2018/Indonesia/Fiction

Sesat

Sammaria Simanjuntak/90 minutes/2018/Indonesia/Fiction

Moonrise Over Egypt

Pandu Adiputra/107 minutes /2018/Indonesia/Fiction

Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara

Ray Nayoan/105 minutes/2018/Indonesia/Fiction

22 Menit(22 Minutes)

Eugene Panji & Myrna Paramita/ 73 minutes/2018/ Indonesia/Fiction

SHORT

Tilik (Woman on Top)  

Wahyu Agung Prasetyo/30 minutes/2018/ Indonesia/Fiction

Golek Balung Butho

Khunul Khitam/28 minutes/2018/ Indonesia/Fiction

Gumbregan

Najam Yardo/17 minutes/2017/ Indonesia/Fiction

Lukisan Nafas (Breath Painting)

Fajar Ramayel/12 minutes/2017/ Indonesia/Fiction

Ayo Dolen

Muhammad Rosyid/25 minutes/2017/ Indonesia/Fiction

Salam Aspal Gronjal

Fajar Martha Santosa/28 minutes /2018/ Indonesia/Documentary

Tentickles!

Michael Gavin/7 minutes/2018/ Indonesia/Fiction

Gula dan Pasir (Sandy Sugar)

Sarah Adilah/14 minutes/2017/ Indonesia/Fiction

Rong

Kelik Sri Nugroho/34 minutes/2018/ Indonesia /Fiction

It’s Wijilan

Alexander Sinaga/ 20minutes /2018/Indonesia/Documentary