PRE-EVENT

OPEN AIR CINEMA

PROGRAM'S NOTES: OPEN AIR CINEMA

If Not the Mirror, At Least the Window

Not only as an entertainment for the locals, the Open Air Cinema program also aims to become a mirror, and a window. The purpose: to ignite the critical awareness and to provide a chance to broaden our perspectives on every story as well as problems in our daily lives.

The reason is, as we all know, no movie is created in an empty space, free from all kinds of value and concern in reality. Thus, as fictional as the story could be, every film always has a dimension of relationship that is contextual with the daily lives of the people around it.

In the said frame, through selected films—as a plenary medium in presenting faux reality—the designed purpose is not a hard thing to achieve, indeed without a trait and approach of patronizing superiority.

In achieving that goal, the films that have been chosen and presented in the form of open air cinema—which relies on the targeted number of audience with a wide range of social groups—are the films that have critical perspectives and a light way of delivering the story.

Some examples are Doremi & You and Bacakut Pandir which talk about the tolerance, mindset, and behavior of appreciating each other amidst all kinds of distinction is a priceless value. Meanwhile Kentut, in a very effective way, becomes a form of critical satire addressed to the people who like to be drifted by doubtful information. This movie blatantly proclaims a warn of danger, that these days, arguments are often beaten by sentiments.
Another example is Empu, which brings stories of many women in a variety of places that are still prone to all types of sexual harassment. There are still many other films with their critical loads and different degrees of social relevance.

Aside from having a vision from the audience’s point of view, hopefully this program could become a window for the creators of related films, as well as any other filmmakers, to see the responses coming from the diverse audience.

To wrap it up, though it is fun to be enjoyed through the bedroom or house window, in this celebration of the open air cinema program, may the rain not pour yet. What comes after it is up to God.

 

Theo Maulana

CATATAN PROGRAM: OPEN AIR CINEMA

Jika Bukan Cermin, Setidaknya Jendela

Tidak hanya sebagai sajian hiburan bagi warga setempat, program Open Air Cinema diupayakan dapat menjadi cermin, juga jendela. Tujuannya: memantik kesadaran kritis dan menyediakan kemungkinan tambahan untuk memperluas pandangan mengenai segala cerita sekaligus persoalan dalam keseharian.

Sebab, sebagaimana kita tahu, tidak ada film yang tercipta di ruang hampa dan bebas dari segala ragam nilai serta soal dalam kenyataan. Maka, sekhayal apapun ceritanya, setiap film selalu memiliki dimensi hubungan yang kontekstual dengan keseharian masyarakat di sekitanya.

Dalam kerangka itu, melalui film-film pilihan—sebagai medium yang paripurna dalam menghadirkan realitas buatan—tujuan yang telah dipancang bukanlah hal yang terjal untuk dicapai, tentu dengan pembawaan serta pendekatan yang sebisa mungkin tidak menggurui.

Demi mencapai tujuan itu, film-film yang dipilih dan disajikan dalam format layar tancap ini—yang mengandaikan adanya target penonton dengan jangkauan golongan beragam—ialah film-film yang memiliki perspektif kritis dan penyampaian cerita dengan cara ‘ringan’.

Seperti Doremi & You dan Bacakut Pandir yang berbicara bahwa toleransi, pikiran dan sikap saling menghargai satu sama lain, di tengah segala bentuk perbedaan adalah harga yang tidak bisa dinego. Sementara Kentut, dengan cara yang sangat efektif, menjadi sebentuk sindiran-kritis kepada orang-orang yang gemar—bukan gampang—terbawa arus informasi yang belum tentu kebenarannya. Film ini secara gamblang mewartakan sebuah peringatan bahaya, bahwa di hari-hari ini, argumen kian babak-belur dihajar sentimen.

Ada pun Empu, yang mengangkat kisah-kisah perempuan di banyak tempat yang masih rentan mengalami segala macam diskriminasi. Serta masih ada film-film lain dengan muatan kritis serta kadar relevansi sosialnya masing-masing.

Selain punya visi pada sisi penonton, program ini juga diharapkan dapat menjadi jendela bagi para pembuat film terkait, pun para pembuat film lainnya, untuk melihat respon-respon dari beragamnya penonton.
Dan sebagai penutup, meski menyenangkan jika dinikmati melalui jendela kamar atau rumah, pada perayaan program layar tancap ini, semoga hujan tidak datang lebih dulu. Setelahnya, sila atur sendiri.

 

Theo Maulana

Ranam – Looking for Land

David Richard/ 24 Minutes/ 2018/ Indonesia/ Fiction

Doremi & You

BW Purbanegara/ 99 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Feature

Kentut

Rangga Kusmalendra/ 8 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

TV Hanyar

Syarwani Muhammad/ 19 Minutes/ 2018/ Indonesia/ Fiction

Bacakut Pandir

M Rizal/ 11 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Nogi 1957 – Hunian Puisi dan Perempuan

Ade Triyan/ 23 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Empu

Harvan Agustriansyah/ 60 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Feature