Dwein Baltazar mempersembahkan Sonya, seorang tokoh utama dalam Ode to Nothing dengan getir dan pahit. Sonya ialah seorang wanita paruh baya yang hidup hanya dengan ayahnya. Mereka berdua memiliki bisnis rumah duka yang mengurusi segala keperluan untuk pemakaman; sebuah bisnis keluarga yang bergantung pada kematian. Sepanjang film, semua adegan digambarkan dengan aura yang gelap dan pilihan palet warna yang muram. Sonya tinggal bersama ayahnya di lantai dua rumahnya sementara lantai satu rumahnya difungsikan sebagai ruangan untuk mengurus segala keperluan untuk pemakaman seperti peti mati, bunga untuk berbelasungkawa dan berbagai macam cairan kimia untuk mengurusi mayat. Seluruh benda-benda yang mengisi rumahnya bergaya kuno namun tertata sangat rapi dan hal ini berhasil disajikan oleh Dwein sebagai suatu estetika visual tersendiri bagi penonton yang suka akan keteraturan yang simetris.

Kematian akan selalu menyisakan kesedihan namun juga tidak menutup kemungkinan bahwa dari kematian pulalah ia bisa menumbuhkan kebahagiaan dan kehangatan. Hal tersebut terjadi dalam film ini ketika ada 2 preman yang datang dini hari membawa seonggok mayat perempuan tua tanpa identitas ke rumah duka milik Sonya dan Ayahnya. Sonya dan ayahnya yang telah lama ditinggal mati ibunya menghidupkan lagi sosok ibunya melalui mayat itu. Kehadiran mayat tersebut menumbuhkan kehangatan antara Sonya dan ayahnya yang telah lama tidak berbincang satu sama lain. Keanehan-keanehan lain yang ditampilkan dalam film ini dibuat seolah-olah seperti sebuah harapan Sonya yang telah lama pupus.  

Di tengah kehampaan yang Sonya rasakan ia harus menghadapi kenyataan bahwa keluarganya memiliki hutang. Theodor, sang penagih hutang yang tiap minggu datang ke rumah Sonya mulai mengincar properti dan bahkan rumah Sonya karena ia tidak kunjung melunasi hutangnya. Hal ini mempercantik alur cerita film ini yang tidak hanya menceritakan kehampaaan namun jua kegelisahan hidup yang sehari-hari biasa kita alami. Selain Theodor, ada juga satu tokoh yang menggambarkan tentang romansa cinta. Tokoh itu bernama Elmer, seorang penjual kembang tahu keliling membuat Sonya jatuh cinta. Sosok ibu yang menjadi pendengar yang baik dalam keluarga dihidupkan kembali pada seonggok mayat yang tidak jelas asal-usulnya. Secara epik, Sonya dan Ayahnya mulai berbincang dan bercerita tentang keluh kesah mereka pada mayat tersebut. Mereka berdua menghidupkan lagi kenangan dan masa-masa bahagia dengan mayat sebagai sosok Ibu dan juga sebagai Istri. 

Film ini pertama kali ditayangkan di  Festival Film Internasional QCinema 2018 dan memborong penghargaan sebagai film terbaik, sinematografi terbaik, sutradara terbaik, skenario terbaik, dan aktris terbaik. Pada tahun 2019 ini, Ode To Nothing telah mengantongi tiket mereka sebagai nominee dalam kategori best film di Karlovy Vary International Film Festival 2019 yang diadakan di Ceko. Anda dapat menyaksikan betapa kematian mampu membawa keajaiban-keajaiban yang ganjil yang terjadi di keluarga Sonya pada program Asian Feature: NETPAC and Geber Awards hanya di Jogja-NETPAC Film Festival 2019 ‘Revival’. (2019)

 

Ditulis oleh Bonivasios Dwi | Disunting oleh vanis