Nay

Djenar Maesa Ayu/80 minutes/2015/Indonesia/Fiction (Competition)

Showtimes

Thursday, December 3, 2015 | 09.30 | TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

Synopsis

Nay (Sha Ine Febriyanti) seorang aktris, mendapati janin yang dikandungnya telah berumur sebelas minggu. Nay pun segera mengutarakan perihal kehamilannya kepada pacarnya BEN (Paul Agusta) seorang anak mami yang ternyata lebih mementingkan ibunya ketimbang janin mereka. Hal ini membuat Nay menjadi sulit untuk mengambil keputusan yang seharusnya disepakati berdua. Ditambah Nay baru saja mendapat kabar jika ia terpilih sebagai pemeran utama dalam sebuah produksi film berskala internasional.

 

Akhirnya Nay menceritakan masalahnya kepada Adjeng (Cinta Ramlan) manajernya yang tidak setuju jika Nay menyia-nyiakan kesempatan yang amat berharga hanya demi janinnya. Dalam sebuah perjalanan di atas mobil, Nay harus menghadapi pelbagai macam fakta dan sifat manusia yang sebenarnya. Ben, Adjeng, Mami Ben (Niniek L. Karim) dan Pram (Joko Anwar) seorang laki-laki yang Nay piker bisa diandalkan.

 

Nay pun berhadapan kembali dengan sejarah kelamnya. Figur Ayah yang tak pernah dikenalnya. Juga Ibu yang pernah mengecewakannya.

Nay (Sha Ine Febriyanti) is an actress, who find her fetus is eleven weeks old already. Nay immediately tells her pregnancy to her boyfriend, Ben (Paul Agusta), a spoiled boy who turns to put his mother as the priority before the baby. It leads Nay to face a difficulty in deciding a decision that should be agreed by the two. Moreover, Nay just received the news that she is selected as the main actress in an international film production.

Finally, Nay tells her problem to Adjeng (Cinta Ramlan), her manager, who will not agree if Nay wastes a valuable chance only for the sake of the baby. In a trip by a car, Nay must face various facts and actual characteristics of human. Of Ben, Adjeng, Mami Ben (Niniek L. Karim), and Pram (Joko Anwar), a man whom Nay thinks she can rely on.

Again, Nay meets her dark history face to face. A father’s figure that she never recognizes. Also a mother who used to disappoint her.

Director

Ibu dari dua orang putri, Banyu Bening dan Bidari Maharani, serta eyang putri dari Embun Kinnara ini lahir di Jakarta 14 Januari 1973. Ia telah menerbitkan enam kumpulan cerpen berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet!, Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu), Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek, 1 Perempuan 14 Laki-laki, T(w)ITIT!, SAIA, dan sebuah novel berjudul Nayla. Cerpennya yang berjudul Menyusu Ayah menjadi cerpen terbaik Jurnal Perempuan 2003, sementara Waktu Nayla meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas di tahun yang sama. Selain menulis Djenar juga menyutradarai film Mereka Bilang, Saya Monyet! (2008) dan SAIA (2009). Ia mendapat Piala Citra dari katagori Skenario Adaptasi Terbaik bersama Indra Herlambang dan Sutradara Baru Terbaik pada Festival Film Indonesia 2009. Sementara film SAIA tidak didistribusikan di Indonesia. Nay adalah film ketiganya.

The mother of two daughters, Banyu Bening and Bidari Maharani, as well as the grandmother of Embun Kinnara, was born in Jakarta on January 14, 1973. She has published six anthologies of short stories entitled Mereka Bilang, Saya Monyet!, Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu), Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek, 1 Perempuan 14 Laki-laki, T(w)ITIT!, SAIA, and a novel entitled Nayla. Her short story, Menyusu Ayah, becomes the best short story of Jurnal Perempuan 2003, while Waktu Nayla won an award of Cerpen Terbaik Kompas (Kompas Best Short Story) in the same year. Besides writing, Djenar also directed the films of Mereka Bilang, Saya Monyet! (2008) and SAIA (2009). She won Piala Citra for Skenario Adaptasi Terbaik (Best Adaptation Scenario) category with Indra Herlambang and for Sutradara Baru Terbaik (Best New Director) category at Festival Film Indonesia (Indonesian Film Festival) 2009. Meanwhile, SAIA film is not distributed in Indonesia. Nay is her third film.