MESSAGE FROM PROGRAM DIRECTOR
REZA FAHRI

NOTES ON JAFF FILM PROGRAM

The cinematic treasure of Asia never seems to stop manifesting a dynamic diversity. The diversity is shown not only in a matter of form, but also the issue and context presented. Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) as a space for exhibition and appreciation never puts any boundaries in regards to the said diversity. Instead, JAFF welcomes them as a way to respond to the dynamics of Asian cinema which is always actively in adjustment.

Although being faced with a tough situation, JAFF still strives to offer the experience of celebrating the Asian cinema. This attempt is done through certain adaptations to the current condition. Carrying the theme of “Kinetic”, The 15h JAFF has a goal to keep moving on and to evoke the spirit of movies which has been recently dimmed out due to the current situation.

The said adaptations include the altering form of the programs as well as its watching access. This year we have to cancel the competition events in order to give equal amount of appreciation to all the films screened. JAFF functions as a room open for filmmakers and film connoisseurs to celebrate the Asian cinema without boundaries.

As a festival focusing on new filmmakers (the ones who are just starting to create one to two feature-length films), we do still provide the NETPAC program. Also, in order to better display the contextual diversity of the Asian cinema both from the rookie and experienced filmmakers, we sum them up in the Asian Perspective program for the feature-length movies and the Light of Asia for the short ones.

We are bringing back the special programs for Indonesian films which used to be provided during the JAFF 2015, namely Shorts Film Splashes. This year, we are doing a little modification to the program and change the title into Indonesian Film Splash, in which the films screened are not only the short films but also the feature-length ones. The purpose of this program is to present the diversity of Indonesian movies which came from different regions in the country and are becoming more and more developed in their own way.

Not only we are once again collaborating with the Shanghai International Film Festival in screening the movies from China, we are also doing a collaboration with KEMENPAREKRAF in screening short films using the approach of creative economics. In this particular program, the selected films are not only entertaining; they also have the potential to give impact to the shooting location, the subject of profession used in the film, and so on.

Although the execution of JAFF this year is mostly done online via the KLIK Film media platform, we are trying to keep the screening event offline within a smaller scale. We are collaborating with several communities located in the 14 cities in Indonesia (beside Jogja) to do the offline film screening in the said cities. The fact that the film communities always annually attend the JAFF event made us think of how important it is for JAFF to keep being close to them amidst the tough condition we are in today. After all, it is the film communities that have always kept JAFF alive.

In conclusion, we sincerely hope that the programs and films that we present in this year’s JAFF could possibly be a refreshment in the middle of the seemingly long and uncertain situation.

Let’s celebrate the Asian cinema in modesty!

Reza Fahri

CATATAN PROGRAM

Khazanah film Asia tak pernah berhenti menawarkan keberagaman yang dinamis. Keberagaman tersebut nampak tak hanya dari segi bentuk, namun ragamnya isu dan konteks yang disajikan. Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) sebagai ruang ekshibisi dan apresiasi tak pernah membangun sekat atas keberagaman yang ditawarkan. Sebaliknya, JAFF menyambut hal tersebut sebagai salah satu cara untuk merespon dinamika film Asia yang adaptif dalam merespon keadaan.

Dihadapkan dengan situasi yang sulit, JAFF berusaha untuk tetap hadir dan menawarkan pengalaman merayakan sinema Asia. Upaya ini diwujudkan dengan melakukan adaptasi-adaptasi tertentu. Kinetik menjadi tema yang diusung pada gelaran JAFF yang ke-15 dengan tujuan untuk tetap bergerak dan bersumbangsih dalam membangkitkan laju gejolak perfilman yang sempat melambat sebab situasi pandemi.

Adaptasi yang dilakukan meliputi penyesuaian bentuk program film dan tawaran akses menonton. Tahun ini, JAFF memutuskan untuk meniadakan program kompetisi. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan ruang apresiasi yang merata bagi film-film yang ditayangkan. JAFF berperan sebagai ruang yang terbuka untuk para pembuat dan penikmat film untuk merayakan sinema Asia tanpa adanya sekat yang memisahkan film-film tersebut.

Sebagai sebuah festival film yang berfokus pada filmmaker baru (pembuat film yang baru memulai pengaryaan film panjang pertama hingga kedua), kami menyediakan program NETPAC sebagai wadahnya. Kemudian, untuk menampilkan keberagaman konteks sinema Asia dengan lebih luas, baik dari para filmmaker baru maupun yang sudah memiliki rekam jejak dalam pembuatan film, kami merangkumnya dalam program Asian Perspective untuk film-film panjang dan Light of Asia untuk film-film pendek.

Selanjutnya, kami menghadirkan kembali program khusus film-film Indonesia yang sebelumnya sempat hadir di JAFF 2015, yaitu Shorts Film Splashes. Berbeda dengan sebelumnya, tahun ini kami sedikit memodifikasi program tersebut dan mengubah namanya menjadi Indonesian Film Splash, di mana film-film yang ditayangkan bukan hanya film pendek, tetapi juga film Panjang. Program ini bertujuan menunjukkan keberagaman film-film Indonesia yang semakin berkembang dengan caranya masing-masing dari berbagai daerah.

Tahun ini kami juga kembali bekerjasama dengan Shanghai International Film Festival untuk menayangkan film-film dari China. Selain itu, di tahun ini kami juga bekerjasama dengan KEMENPAREKRAF dengan cara menayangkan film-film pendek melalui pendekatan ekonomi dan kreatif. Pada program tersebut, film-film yang dipilih bukan saja sebagai film hiburan melainkan juga memiliki potensi untuk memberikan dampak pada lokasi syuting yang digunakan, profesi subjek dalam film, dan lain sebagainya.

Meskipun pelaksanaan JAFF tahun ini lebih didominasi oleh penayangan film secara daring via platform KLIK Film, kami mencoba untuk tetap melaksanakan penayangan film secara luring dengan skala yang lebih kecil. Caranya ialah berkerja sama dengan sejumlah komunitas yang ada di 14 kota di Indonesia (selain Jogja) untuk menayangkan film secara luring di kota-kota tersebut. Pelaksanaan JAFF yang setiap tahunnya dihadiri oleh berbagai komunitas film di Indonesia membuat kami merasa perlu untuk membuat JAFF bisa tetap dekat dengan mereka dengan cara yang sederhana meskipun situasinya sedang serba rumit dan banyak batasan. Sebab, bagi kami, komunitas film lah yang selama ini bisa membuat JAFF tetap ada.

Akhir kata, semoga program-program dan film-film yang kami hadirkan pada JAFF tahun ini bisa memberikan kesegaran di tengah kondisi yang masih belum pasti kapan berakhirnya.

Selamat merayakan sinema Asia dalam kesederhanaan!

Reza Fahri

© 2020 Jogja-NETPAC Asian Film Festival. All Rights Reserved.