MESSAGE FROM FESTIVAL PROGRAMMER

Alexander Matius

WELCOMING OLD ADAPTATION

Festival as an annual ritual is an activity which relies heavily on in person meeting. Like questions, many people are present, overlooking their daily life momentarily to focus on certain activities and interact with each other. The pandemic leads us to ask again, can a festival be celebrated without physical presence? Are virtual room sessions replacing the togetherness and the festivity of a festival? The conditions during the pandemic made several festivals, willingly or not, attempt to adapt to the situation and circumstances. Celebrations were carried out in online rooms. Festivals also followed the same path. In an atmosphere of high vigilance, screening spaces were closed, so film screenings, including festivals, moved towards digital channels. Some remained loyal to the format and shut the whole event altogether, convinced that cinema and its activities are something sacred and cannot be argued with.

This year, 2021, carries with it a wealth of experience from the initial period of the pandemic. Several international film festivals returned to physical screenings or combined physical and online events. Audience management was adapted according to health protocols. One thick bottom line that must be agreed upon is that the audience’s safety is the most important thing at any event. Films, which screenings had to be postponed willingly or not, finally have the opportunity to premiere, and meet in person with their audience.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) as well, is (finally) coming back to physical screenings after last year’s edition was only carried out on a very limited scale. Online screenings were carried out to spread the festivity of Asian Cinema to friends who were unable to come. Looking at the composition of the programming team, not many changes were made in order to maintain the consistency of the JAFF program, while not ruling out the possibility of further exploration by consistently making JAFF a home for Indonesian and Asia-Pacific films.

The focus of JAFF 16 is to make the festival become a place for everyone who loves film, not limited to one or two groups. This year, we have assembled the feature films competitions into one competition even though the number of awards remains the same as in previous years. It’s interesting to note that about half of the nominees happen to be first time feature-length film directors. The short film competition, Light of Asia, presents 12 nominees from 7 countries. The Indonesia Screen Awards are also back, but this time presenting representatives of several film industry associations to serve as the jury.

The non-competition sections also include a wealth of new films that will also become a vital part of this year’s JAFF. We divided them into several sections. Classics is most certainly an important program, albeit not very big in number, although the continued introduction of the Asia Pacific film archive is an important milestone and hopefully can be maintained so the chance to watch films in their original format can be enjoyed by future generations. We are also providing a space for our fellows from Jogja Film Academy and several film maker communities in Indonesia with the Layar Komunitas program so that they can show off their work. There’s also a special program from VIU Pitching Forum and short films screening from selected participants of the Kemendikbudristek (Ministry of Education, Culture, Research and Technology) short film competition.

In memory of our friend Gunawan Maryanto, two films will be shown in which he played an extraordinary role as the main character. Several Indonesian films also have special place in this year’s JAFF including 2 short films and 1 directorial debut feature film from actors who have switched roles to work behind the camera. In Asian Perspectives, we present many short and feature films, including two films from Ryusuke Hamaguchi: “Drive My Car” and “Wheel of Fortune and Fantasy”, “In Front of Your Face” from Hong Sangsoo and “Memoria” from Apichatpong Weerasethakul. We are also pleased to open and close the festival with Asghar Farhadi’s “A Hero” and Gina S. Noer’s “Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga”.

Lastly, we are grateful to all parties who have supported the 16th JAFF. Without you, perhaps JAFF wouldn’t come to life. This year, we are adapting back into the regular routine. For everyone who comes to the live screenings, please follow health protocols and see you soon, let go of your daily routines, set your schedules, meet with your friends, exchange tickets, watch movies in dark rooms and join after screening discussions. Let’s make this year an answer to whether we can stay in touch through cinema, with joy and a sense of responsibility for each other.

MENYAMBUT ADAPTASI LAMA

Festival sebagai sebuah ritual tahunan adalah aktivitas yang sangat mengandalkan pertemuan secara fisik. Layaknya sebuah perayaan, banyak orang hadir, melupakan sejenak kesehariannya untuk berfokus kepada aktivitas tertentu dan berinteraksi satu dengan yang lainnya. Pandemi membuat kita kembali bertanya apakah sebuah festival dapat dirayakan tanpa perlu kehadiran fisik? Apakah ruang virtual dapat menggantikan kebersamaan dan semaraknya sebuah festival? Kondisi pandemi kemudian mau tidak mau membuat beberapa festival mencoba untuk beradaptasi dengan keadaan dan kenyataan. Perayaan dilakukan dengan ruang daring. Festival film pun demikian. Di tengah tingkat kewaspadaan yang tinggi, ruang putar fisik ditutup sehingga pemutaran, termasuk festival, beralih ke dalam kanal-kanal digital. Beberapa tetap setia untuk tutup karena percaya bahwa sinema dan kegiatannya adalah bentuk yang sakral dan tidak dapat diganggu gugat.

Tahun ini, 2021, adalah tahun yang mempunyai bekal pengalaman dari kondisi awal pandemi. Beberapa festival film dunia kembali mengadakan pemutaran fisik atau menggabungkan fisik dan online. Manajemen pengelolaan penonton dibentuk menyesuaikan protokol kesehatan. Satu garis bawah tebal yang harus disepakati bersama adalah keselamatan penonton adalah hal yang paling utama dalam sebuah perhelatan. Film-film, yang bahkan mau tidak mau harus tertunda penayangannya, akhirnya mendapat kesempatan untuk rilis perdana, bertemu langsung dengan penontonnya.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) juga (akhirnya) hadir kembali ke pemutaran fisik setelah tahun lalu melakukannya dengan sangat terbatas. Pemutaran secara online pun tetap dilakukan guna menyebarkan semaraknya sinema Asia ke kawan-kawan yang belum dapat hadir. Secara komposisi tim program, tidak banyak pengubahan untuk membawa konsistensi program JAFF sekaligus tidak menutup kemungkinan untuk semakin eksplorasi dengan tetap menjadikan JAFF sebagai rumah bagi film Indonesia juga Asia-Pasifik.

Fokus edisi ke-16 JAFF adalah menjadikan JAFF sebagai tempat bagi semua orang yang mencintai film, tidak terkotakkan oleh satu dua kelompok saja. Tahun ini, kami menggabungkan kompetisi untuk film panjang dalam satu kompetisi walau secara jumlah apresiasi sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Fakta menarik bahwa secara tidak sengaja sekitar setengah dari nominator merupakan film panjang perdana mereka. Kompetisi film pendek, Light of Asia, menghadirkan 12 nominator dari 7 negara. Indonesia Screen Awards juga kembali hadir, namun kali ini kami memberikan perwakilan dari beberapa asosiasi pekerja pembuatan film untuk menjadi juri.

Dari bagian non kompetisi, ada banyak sekali film yang menjadi bagian dari JAFF tahun ini. Kami membaginya dalam beberapa bagian. Classics tentu saja menjadi program yang penting meski secara jumlah tidak terlalu banyak, namun keberlanjutan pengenalan arsip film Asia-Pasifik adalah hal yang perlu dan diharapkan terus berlanjut sehingga paling tidak kesempatan untuk menonton film dalam format yang sama sepanjang waktu terus dijaga. Kami juga memberi ruang untuk teman-teman dari Jogja Film Academy dan beberapa komunitas pembuat film di Indonesia lewat Layar Komunitas untuk unjuk gigi atas karya mereka. Ada program spesial juga dari VIU Pitching Forum dan pemutaran film pendek dari kawan-kawan yang terpilih dalam kompetisi film pendek yang diadakan oleh Kemendikbudristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi).

Kami juga mengenang kawan kami Gunawan Maryanto lewat dua pemutaran filmnya dimana dia berperan dengan sangat luar biasa sebagai pemeran utama. Beberapa film Indonesia juga mendapat tempat khusus dalam JAFF kali ini, termasuk 2 film pendek dan 1 film panjang debutan dari para aktor yang kemudian berpindah kursi di balik layar. Pada Asian Perspectives, kami menghadirkan banyak film pendek dan panjang, termasuk dua film dari Ryusuke Hamaguchi: Drive My Car dan Wheel of Fortune and Fantasy, In Front of Your Face dari Hong Sangsoo dan Memoria dari Apichatpong Weerasethakul. Kami juga dengan senang membuka dan menutup festival ini dengan karya dari Asghar Farhadi (A Hero) dan Gina S. Noer (Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga).

Akhir kata, kami berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung JAFF ke-16. Tanpa kalian mungkin JAFF belum tentu akan terwujud. Tahun ini kita beradaptasi kembali dengan rutinitas yang dulu pernah kita lakukan. Bagi yang hadir ke pemutaran secara langsung, tetap patuhi protokol kesehatan dan selamat bertemu kembali dengan melepas rutinitas harian, pengaturan jadwal, bertemu dengan kawan-kawan, menukarkan tiket, menonton di ruang gelap dan berdiskusi selepas pemutaran. Mari kita jawab tahun ini apakah kita dapat bersilaturahmi lewat sinema dengan penuh sukacita dan rasa tanggung jawab satu sama lain.