MESSAGE FROM FESTIVAL PRESIDENT

Our Asian Stories

J ogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) was born out of our love for and fascination with Asian cinema, as well as our unwavering belief that the region’s stories are not only entertaining exotica for foreign audience, but also, intrinsically important and worth telling. Asia is our home; we want Asian cinema to weave a narrative on our own terms, in ways which are meaningful and important for Asians.  

Therefore, JAFF not only comprises film screenings, but we also include our audiences to participate in our conversations during post-screening discussion and various sidebar events of the festival. As the French author Marguerite Duras once said, “What a bore life would be if we stopped talking about cinema.” By intently discussing cinema, we preserve the life of cinema longer while appreciating it beyond the commercially imposed function as a medium of entertainment. 

The stories of Asian cinema might have originated from the past but the contemporary conditions we are in allow us to contemplate our past and perceive our present in a meaningful way. Through stories we communicate and share our actual, even precarious experiences in many ways. Moreover, as Roger Bingham, a co-founder and director of Science Network states, “We tell stories in order to feel at home in the universe.” In other words, stories make enlivens us, making us more human in the process. And film is an apt medium to craft and tell a story artistically but culturally meaningful.  Thus, film festival can be perceived as a celebration of cinematic story telling.  

Indeed, organizing film festival requires endurance and patient. We have witnessed many promising film festivals collapsed or simply disappeared even after their first edition. More than financial issues, the sustainability of film festival heavily relies on the organizer’s faith on the noble mission of the festival: creating an intimate space for filmmakers and their audiences with warm appreciation. During the festival, filmmakers might get an honest and spontaneous appreciation, but, in return, the audiences might gain a better understanding of thoughts, emotions and even sufferings behind the incredible cinematic works.

Furthermore, film festivals have facilitated films from less known countries with a shoestring budget to be visible and recognizable. Not surprisingly, film festival can be understood as a moment of discovery of cinematic gems, which can be an eyes-opener to the new panorama and perspective for the audiences. Film festival should be more than lavish parties and events, red carpet procession, and star-studded weeklong event.  Rather, it is an event, which encourage a better understanding and respect for other cultures as represented in the cinema. 

Finally, film festival perhaps is one of avenues where the stories flow and reach their audiences. As an eternal work of arts, film will continue to expand the filmmakers’ life, with its story becoming indelible in the audiences’ mind through time.             

Kisah-Kisah Asia Kita

J ogja-NETPAC Asian Film Festival  (JAFF) lahir karena kecintaan dan keterpukauan pada sinema Asia serta keyakinan yang kukuh bahwa kisah-kisah di kawasan ini tak hanya sekadar menjadi hiburan eksotis bagi penonton asing; tapi, memang laik untuk dikisahkan. Asia adalah rumah kita; kita menginginkan sinema Asia menuturkan kisahnya lewat caranya sendiri yang memang penting dan  bermakna bagi warga Asia. 

Karenanya, JAFF tak sekadar mempertunjukkan film, tapi sebentuk undangan hangat agar penonton turut mengambil bagian dalam perbincangan usai pertunjukan dan pelbagai program festival. Sebagaimana penulis Perancis, Marguerite Duras pernah mengemukakan, “Betapa membosankannya hidup kita jika kita berhenti memperbincangkan sinema.” Lewat perbincangan yang intens, kita telah memperpanjang usia sinema sembari mengapresiasinya melampaui fungsi komersial yang acap dinisbatkan sebagai medium hiburan. 

Kisah-kisah dalam sinema Asia barangkali berasal dari masa lalu, tapi kondisi kekinian kita memungkinkan kita merenungkan masa lalu dan memahami masa kini lewat cara yang bermakna. Lewat cerita kita berkomunikasi dan berbagi pengalaman nyata bahkan pengalaman penuh marabahaya dalam pelbagai cara.  Sebagaimana Roger Bingham, pendiri dan direktur Science Network menyatakan, “Kita menuturkan kisah agar merasa betah di alam semesta.” Dengan kata lain, kisah-kisah itu menjadikan kita lebih hidup dan kian manusiawi. Dan film merupakan medium yang tepat untuk merangkai dan menuturkan kisah secara artistik serta bermakna secara kultural.  Maka, festival film bisa dimaknai sebagai perayaan bagi pengisahan sinematik. 

Tentu saja, menyelenggarakan festival menuntut daya tahan dan kesabaran. Kita menyaksikan sejumlah festival film yang memberi harapan berguguran atau menghilang, bahkan setelah edisi perdananya. Lebih dari perkara finansial, keberlangsungan sebuah festival bergantung sepenuhnya pada keyakinan penyelenggaranya terhadap misi yang diembannya: menjadi ruang yang intim bagi pembuat film dan penonton yang diwarnai oleh kehangatan apresiasi.  Selama festival, pembuat film memperoleh apreasiasi yang jujur dan langsung dari penonton, sementara penonton kian memahami pemikiran, emosi dan juga kepedihan di balik karya sinematik yang mengangumkan.

Lebih jauh, festival film membantu film dari negara yang kurang dikenal dan dengan anggaran terbatas  menjadi terlihat dan diakui. Tak aneh, festival film bisa dipahami sebagai momen penemuan permata sinematik yang membuka mata penonton terhadap panorama dan perspektif baru. Festival film semestinya  lebih dari sekadar pesta dan peristiwa yang serba mewah, prosesi karpet merah dan rangkaian acara yang bertaburan para bintang. Melainkan, sebentuk peristiwa yang mendorong pemahaman yang lebih baik dan sikap menghargai budaya lain sebagaimana direpresentasikan oleh  sinema. 

Pada akhirnya, festival film barangkali salah satu ruang tempat kisah-kisah mengalir dan menjumpai penontonnya. Sebagai karya seni yang kekal, film senantiasa melampaui usia pembuatnya dan kisahnya akan melekat di benak penonton sepanjang masa. 

Budi Irawanto

Festival President