Asia-Pasifik: Sejarah Para Pengelana

 

Lima tahun lalu, saya berkesempatan membuat film dokumenter tentang pendaratan MacArthur, jenderal Amerika yang popular pada Perang Dunia II, di Pulau Morotai yang merupakan wilayah Indonesia di ujung Samudra Pasifik. Sejarah yang sering terlupakan, sebuah peristiwa penting dunia  sebelum MacArthur mengambil alih kembali Pearl Harbour dari Jepang. Sebuah film dokumenter dari militer Amerika menunjukkan pulau kecil Morotai serentak dipenuhi armada laut Amerika, pesawat Sekutu, pasukan Amerika hingga Australia dan jalanan macet oleh truk dan mobil Amerika  hingga pabrik-pabrik untuk membuat limun dan roti.

Beruntung pula, saya telah melakukan perjalanan dari Melbourne, Darwin, Ambon, Tidore, Jailolo, Ternate, Menado, Papua, Filipina hingga Hawai. Jejak perjalanan yang membawa ingatan tentang sejarah Pengelana Dunia (misalnya, Marco Polo, Magelhaens, dll.) abad XV dan XVI ke Asia-Pasifik yang mengubah sejarah dunia. Bahkan, tahun lalu saya juga beruntung, memimpin workshop bersama Hawai University dan Shangri-La-Doris Fuke Foundation serta menonton karya-karya film berkaitan dengan budaya  Fiji.

Yang pasti, catatan penting saya adalah diskusi bersama Lav Diaz serta mendengar pandangan-pandangannya tentang filmnya. Bagi saya, Lav membawa antropologi sosial dan budaya dalam perspektif film lewat cara yang sangat khas dan kuat. Lav menjadi juru bicara Asia-Pasifik yang luar biasa.

Oleh karena itu, pergeseran JAFF dari festival film Asia menjadi festival film Asia-Pasifik menjadi sebuah kebutuhan sejarah dan tuntutan membaca film yang menunjukkan Asia tak terpisahkan dari sejarah Asia-Pasifik.

Harus dicatat, berbagai festival besar seni yang berfokus Asia-Pasifik akan bermunculan pada 2017, seperti Asia Topa di Melbourne. Kebetulan Asia Topa dengan SET Workshop telah memproduksi karya saya, bertajuk Setan Jawa  (film pertama  dunia, hitam-putih dengan iringan live orkestra gamelan dan Melbourne Symphony) akan menjadi pembuka Asia Topa.

Setelah 10 tahun,  JAFF menjadi dasar pertumbuhan sinema independen Asia, film komunitas dan demokrasi media Asia. Kami merayakan  11 tahun dengan langkah baru ke depan: era Asia-Pasifik sebagai era penting abad ke depan demi menemukan pengelana-pengelana film Asia-Pasifik.

Asia-Pacific: A History of Travellers

 

Five years ago, I had the opportunity to create a documentary on the landing of MacArthur, a then popular American general in the WW II, in Morotai Island, an Indonesian territory at the tip of the Pacific Ocean.  There is a historical event, that is often overlooked, occurring prior to MacArthur’s takeover of Pearl Harbour from Japan. A documentary from the US Military shows that the small island Morotai was suddenly surrounded by the US Navy ships, allied forces aircraft, US Army, and Australian Army; American trucks and cars overcrowded the streets and the lemonade and bread factories.

I consider myself fortunate to have travelled from Melbourne, Darwin, Ambon, Tidore, Jailolo, Ternate, Manado, Papua, the Philippines, to Hawaii. This journey reminded me of the world-changing traces left by legendary World Travellers (Marco Polo, Magelhaens, etc.) in the 15th and 16th century to Asia-Pacific. It’s also fortunate that last year I had the opportunity to speak in a workshop held by Hawaii University and Shangri-La-Doris Fuke Foundation to watch films displaying the Fiji culture.

There is something worth noting from my discussion with Lav Diaz, particularly through listening to his views on his films. For me, Lav brings a perspective of social and cultural anthropology through his films, in a particularly strong manner. Indeed, he is an extraordinary spokesman for Asia-Pacific.

The shift of JAFF’s focus from Asia alone to Asia-Pacific is a matter of historical necessity and rooted from the demand of film ‘readers’ — showing that Asia is inseparable from the history of Asia-Pacific.

It should be noted that various big art festivals focusing on Asia-Pacific, such as Asia Topa in Melbourne, will emerge in 2017. Incidentally, in collaboration with SET Workshop, Asia Topa produced my work, Setan Jawa (Satan Jawa) a black and white movie screened along with live gamelan orchestra and Melbourne Symphony, and selected it as the opening film for Asia Topa.

After 10 years, JAFF has now become a solid platform for the development of Asian independent cinema, film community, and media democratization. We celebrate the 11th JAFF with a new step ahead: Asia-Pacific is a brand-new era to find Asia-Pacific film travellers.

GARIN NUGROHO

GARIN NUGROHO

Festival President