MESSAGE FROM FESTIVAL PRESIDENT

Budi Irawanto

Maintaining Our Tenacity

Within nearly two years, the Covid-19 pandemic has shaped the way we interact, communicate and live our fate in the volatile world. Moreover, the pandemic can be understood as a litmus test for our resilience in dealing with the perpetual crisis of our contemporary world. While there are massive vaccination programmes across the globe to curb the spread of virus, the new variants of COVID-19 continue to emerge in many parts of the world. In the Asian context, people have greatly suffered from the pandemic as indicated by the number of victims, economic loss, the troubled public services and the like. Moreover, the pandemic has deepened the economic gap and poverty in some Asian countries.

Cinema has to unavoidably embrace and adapt to the pandemic which has transformed the mode of film production, distribution, exhibition and consumption. For instance, the digital platform for film streaming is becoming increasingly popular and convenient, particularly when social and physical distancing measures are being imposed by the government. The costs of production have increased due to the requirement of COVID-19 detection tests (PCR, antigen, etc.) in order to comply with updated health protocols. Despite the numerous obstacles posed by the pandemic, Asian filmmakers have persisted and managed to produce diverse range of quality films by innovating and adapting creatively to these uncertain conditions.

Not surprisingly, this year’s Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) decided to celebrate the theme of ‘Tenacity’. In its barest essence, ‘tenacity’ can be understood as the determination to continue creating despite the challenges that may come. Tenacity is the light at the end of the tunnel that sustain our energy to continue running headfirst to the finishing line, despite the darkness and unseen obstructions. In other words, tenacity is the stamina that our motivation feeds on.

Since 2006, we continue to organize JAFF without interruption despite the struggles we were forced to reckon with from various natural disasters and the pandemic. We firmly believe that Asian cinema should be promoted, disseminated and appreciated by people in Asia in order to gain a better understanding of the multitude of Asian culture and identity. Of course, this is not a blatant ethnocentric sentiment in viewing cinema but an awareness of our position in the world and respect for our historical root, which have been gradually eroded from the massive marketing and distribution of global, and often, western film corporations.

In the broader context, ‘tenacity’ can be understood as a spirit of determination and persistence of Asian cinema in resolving diverse problems and seeking an innovative response to those challenges. Moreover, we can interpret ‘tenacity’ as a capacity of Asian cinema to show that an alternative vision is always possible in the midst of difficult situations which are no precedence before. The evidence of the tenacity of Asian cinema can be seen in the number of film submission in JAFF this year. There are more than 450 submissions from more than 30 countries across Asia.

We hope that JAFF offers sufficient space for the audience to appreciate the works of Asian filmmakers who have tenaciously produced their films under difficult conditions in the previous years. In a time of unprecedented crisis, the unfailing support of filmmakers, audiences and our partners alike have sustained JAFF to remain hopeful and optimistic on the development and future of Asian cinema.

Budi Irawanto

Merawat Kegigihan Kita

Hampir dua tahun, pandemi COVID-19 telah membentuk cara kita berinteraksi, berkomunikasi serta hidup di tengah dunia yang kian rentan. Lebih dari itu, pandemi sejatinya bisa dilihat sebagai batu ujian yang menakar ketahanan kita tatkala berhadapan dengan krisis nan tak kunjung usai dari jagat kontemporer yang kita diami ini. Sementara aksi vaksinasi massal digelar di seluruh penjuru dunia untuk mencegah persebaran virus, varian baru COVID-19 terus saja bermunculan di pelbagai belahan dunia. Dalam konteks Asia, masyarakat sungguh menderita karena pandemi yang ditunjukkan lewat jumlah korban, kemerosotan ekonomi, layanan publik yang yang terganggu dan seterusnya. Yang tak kalah gawatnya, pandemi telah memperdalam kesenjangan ekonomi dan kemiskinan di sejumlah negara Asia.

Tak pelak, sinema mesti berhadapan dan beradaptasi dengan pandemi yang telah mengubah cara produksi, distribusi, eksibisi dan konsumsi film. Umpamanya, platform digital untuk menonton film kian popular dan gampang diakses, terutama ketika pemerintah memberlakukan pembatasan fisik dan sosial. Biaya produksi film pun membengkak karena keharusan melakukan sejumlah tes untuk mendeteksi virus korona agar sesuai dengan protokol kesehatan paling mutakhir. Terlepas dari pelbagai rintangan yang diusung oleh pandemi, para pembuat film Asia terus gigih dan mampu memproduksi film berbobot dengan terus melakukan pembaruan dan penyesuaian kreatif di tengah kondisi yang tak menentu.

Tidaklah mengejutkan, jika tahun ini Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) mengusung tema ‘Tenacity.’ Dalam maknanya yang sederhana, ‘tenacity’ bisa dipahami sebagai keteguhan untuk terus mencipta di tengah tantangan yang menghadang. ‘Tenacity’ bak cahaya di ujung terowongan yang menjaga energi kita untuk terus berlari hingga mencapai garis finis di bawah kegelapan dan halangan yang tak tampak. Dieja secara lain, ‘tenacity’ adalah stamina yang disuntikkan oleh motivasi kita.

Sejak tahun 2006, kami terus menggelar JAFF tanpa terputus di tengah perjuangan kami menghadapi berbagai bencana alam dan pandemi. Kami berkeyakinan bahwa sinema Asia mesti dipromosikan, didesiminasikan, dan diapresiasi oleh orang Asia agar mereka beroleh pemahaman yang lebih baik tentang budaya dan identitas Asia. Tentu saja, ini bukanlah sentimen etnosentris tanpa tedeng aling-aling dalam melihat sinema, alih-alih sebentuk kesadaran atas posisi kita di dunia ini serta penghormatan terhadap akar sejarah kita yang pelan-pelan digerus oleh masifnya pemasaran dan distribusi film global.

Sementara itu, dalam ranah yang lebih luas, ‘tenacity’ bisa dipahami sebagai semangat kegigihan dari sinema Asia dalam mengatasi berbagai persoalan serta merumuskan respon yang inovatif dalam menjawab tantangan. Lebih dari itu, ‘tenacity’ merupakan kapasitas sinema Asia yang mampu menunjukkan bahwa visi alternatif itu mungkin di tengah situasi yang pelik dan tak pernah kita duga sebelumnya. Bukti kegigihan pembuat film Asia itu bisa disimak dari jumlah film yang didaftarkan ke JAFF tahun ini. Ada sekitar lebih dari 450 film yang didaftarkan dan berasal lebih dari 30 negara.

Kami berharap JAFF tahun ini menawarkan cukup ruang bagi penonton untuk mengapresiasi film-film Asia yang secara gigih diproduksi pada tahun sebelumnya di bawah kondisi yang sulit. Di tengah krisis yang tak berkesudahan ini, dukungan tanpa putus dari pembuat film, penonton dan mitra telah menjadikan JAFF tetap berpengharapan dan optimis memandang pertumbuhan dan masa depan sinema Asia.

Budi Irawanto