MESSAGE FROM FESTIVAL PRESIDENT
BUDI IRAWANTO

Staying Faith-ful during Pandemic

In times of crisis, cinema never fails to prove its vitality, becoming a beacon of inspiration and hope in the dark. The depiction of conditions under crisis through its narrative and the act of producing film during troubled times itself are evidences of the faith of filmmaker. Through its compelling narrative and riveting performance, cinema comforts and heals its audience.

The current COVID-19 pandemic arrived unexpectedly and has introduced fundamental changes to many aspects of our life, urging us to adapt to a ‘new normal.’ As widely reported by the media, film companies have cancelled or postponed their production schedule and most film theatres have been closed. Likewise, some film festivals have postponed their events, while others are shifting towards digital (online) platforms. In particular, the festive atmosphere of film festivals has dimmed this year, becoming more understated in order to abide to strict health protocols.

This year, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) has chosen ‘Kinetic’ as our theme. The word ‘kinetic’ refers to the perennial character of cinema as the ‘illusion of movement.’ In fact, the term ‘kinetic’ is usually attributed to distinct characteristic of martial arts genre in Asian cinema. However, within a larger context, ‘kinetic’ can be understood as the continuous movement of Asian cinema in reaching greatness as well as the various attempts that followed to preserve Asian cinema as an organic part of Asian culture and society.

Meanwhile, in the context of COVID-19 pandemic, ‘Kinetic’ serves as a highly important reminder to actively engage ourselves in mitigating the impacts of the pandemic, rather than surrendering to pessimism and hopelessness. While we should act according to our capabilities, we should not be deterred from taking up the opportunity to collaborate with others to leave behind a larger impact of our act. Despite the devastation it has brought in its wake, the pandemic can perhaps be understood as a moment of human solidarity where we should pay serious attention to those who are disproportionately affected by the pandemic.

Therefore, this year’s festival symbolises our faith as we believe that a festival is another form for the celebration of life. In order to spread optimism and hope, we decided to organize the Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) which coincides with the 15th anniversary of the festival despite the pandemic. Since our festival participant’s safety is our ultimate priority, we will utilize the digital platform for most film screenings and public lectures to avoid crowd and maintain physical distancing.

Offline film screening in Yogyakarta will remain, although we are restricting the number of attendees to comply with the strict health protocols. This year, we are working together with 15 film communities across Indonesia for offline film screenings in order to open up more access for people in some cities from Aceh in the tip of Sumatera island to Papua in eastern part of Indonesia. Most importantly, collaborating with film communities serve as a great reminder of JAFF’s humble roots 15 years ago.

Indeed, organizing film festival is a difficult task during the pandemic due to limited source of funding and tailoring a festival format which meets the expectation of festival visitors. However, we are lucky as many filmmakers are willing to send their films to JAFF despite the absence of the competition programme. By postponing competition section, it would provide more spaces for film appreciation and further audiences’ reflection. Moreover, the absence of competition programme this year perhaps can be understood as affective gesture of filmmakers as well as the festival to express our deep solidarity during the pandemic.

We hope that you can still experience JAFF’s true spirit, despite it being shown mostly through the digital interface. Perhaps what has connected us all this time extends beyond our physical interactions, instead, our common perspective to strengthen the network and connection among Asian filmmakers and audiences.

Enjoy the festival, stay healthy and keep the faith!

Budi Irawanto

Menjaga Keyakinan di Tengah Pandemi

Di kala krisis, sinema tak pernah gagal menunjukkan vitalitasnya sebagai sumber inspirasi dan harapan di tengah kegelapan. Kondisi krisis yang digambarkan sinema lewat narasi dan tindakan membuat film di tengah masa-masa sulit adalah bukti betapa para pembuat film tetap memiliki keyakinan yang teguh. Lewat kisah yang memikat dan seni peran yang memukau, sinema memberi ketenangan dan kesembuhan pada penontonnya.

Pandemi global COVID-19 saat ini yang tak pernah disangka bakal melanda dan melahirkan perubahan mendasar dalam segenap aspek kehidupan telah memaksa kita berdaptasi dengan ‘normal baru.’ Sebagaimana luas diberitakan, sejumlah perusahaan film membatalkan atau menunda jadwal produksinya serta sebagian besar bioskop ditutup. Begitu pula, sejumlah festival film meniadakan kegiatannya, sedangkan festival yang lain bergeser ke platform daring (online). Lebih jauh, kemeriahan festival film meredup dan kurang menonjol demi mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

Tahun ini, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) memilih ‘Kinetic’ sebagai tema festival. Kata ‘kinetic’ merujuk pada karakter asali sinema sebagai ‘ilusi gerak.’ Kenyataannya, istilah ‘kinetic’ dinisbatkan pada karakteristik yang khas dari genre laga dalam sinema Asia. Meski demikian, dalam konteks yang lebih luas, ‘kinetic’ bisa dimaknai sebagai gerak terus-menerus sinema Asia menggapai kebesarannya serta pelbagai ikhtiar untuk menjaga sinema Asia sebagai bagian organik dari budaya dan masyarakat Asia.

Sementara itu, dalam konteks pandemi COVID-19, ‘kinetic’ menjadi pengingat penting agar kita aktif terlibat dalam melakukan mitigasi terhadap dampak pandemi, ketimbang menyerah pada pesimisme dan keputusasaan. Kendati kita mesti bertindak sesuai dengan kapabilitas kita, semestinya tak memalingkan kita dari peluang melakukan kolaborasi dengan pihak lain agar tindakan kita menorehkan dampak yang lebih luas. Di samping dampaknya yang mengerikan, pandemi ini sesungguhnya merupakan momen solidaritas kemanusiaan agar kita menaruh perhatian serius pada mereka yang paling terkena dampak pandemi.

Oleh karena itu, festival tahun ini menjadi simbol keyakinan kami karena kami percaya bahwa festival adalah bentuk perayaan kehidupan. Demi menebarkan optimisme dan harapan di tengah pandemi, kami memutuskan menggelar JAFF yang berbarengan dengan peringatan penyelenggaraannya yang ke-15. Mengingat keselamatan peserta menjadi prioritas utama, kami menggunakan platform daring (online) untuk sebagian besar pertunjukan film dan public lecture demi menghindari kerumuman dan menjaga penjarakan fisik.

Pemutaran luring (offline) di Yogyakarta tetap diselenggarakan secara terbatas, tentu kami membatasi jumlah pengunjung agar sesuai dengan protokol kesehatan. Tahun ini pula kami berkolaborasi dengan 15 komunitas film di Indonesia untuk pemutaran luring demi membuka akses menonton dari kota Aceh di ujung pulau Sumatera hingga Papua di ujung timur Indonesia. Penting dicatat, kolaborasi dengan komunitas film itu menjadi pengingat agar JAFF tak melupakan akarnya ketika memulai kiprahnya 15 tahun silam.

Tentu saja, menggelar festival film di tengah pandemi bukanlah pekerjaan yang gampang mengingat keterbatasan sumber pendanaan dan keharusan mengadaptasi format festival agar sesuai dengan harapan pengunjung festival. Meski demikian, kami beruntung karena sejumlah pembuat film dengan ringan hati mengirimkan filmnya walaupun tidak ada seksi kompetisi tahun ini. Dengan meniadakan seksi kompetisi tahun ini, diharapkan akan lebih memberi ruang bagi apresiasi dan perenungan yang lebih mendalam pada penonton. Lebih jauh, ditiadakannya kompetisi tahun ini barangkali bisa dimaknai sebagai sebentuk gestur para pembuat film dan penyelenggara festival untuk menyatakan solidaritas yang berasal dari lubuk hati kami selama pandemi.

Kami berharap Anda tetap merasakan semangat JAFF yang sesungguhnya, meskipun semua itu hanya lewat perjumpaan digital. Barangkali apa yang mempertautkan kita selama ini melampaui interaksi fisik, alih-alih perspektif yang sama untuk memperkuat jejaring dan koneksi di antara pembuat film Asia dan penontonnya.

Selamat menikmati festival, jaga kesehatan dan tetaplah penuh keyakinan!

Budi Irawanto

© 2020 Jogja-NETPAC Asian Film Festival. All Rights Reserved.