Menjelajahi Kepulauan Secara Sinematis

Kian luas pulau pengetahuan, kian panjang garis pantai keingintahuan,” ujar pemimpin agama Amerika Ralph Washington Sockman. Lebih dari sekadar metafora ihwal pengetahuan, pulau menyimbolkan keterbukaan dan mengandaikan  beragam interaksi. Perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang ke-11 ini memilih  Islandscape” sebagai tema festival yang menggarisbawahi tak hanya keragaman ungkapan artistik dan representasi budaya  dalam sinema Asia, tapi juga sebentuk tanda bagi pertukaran dan silang pengaruh budaya sinema di kawasan Asia.

Film Pembuka Salawaku besutan Pritagita Arianegara dengan tepat menggemakan tema festival. Dengan mengambil latar pulau Seram, film ini menunjukkan bagaimana pulau bisa menjadi kekuatan penyembuh sekaligus  menautkan orang dengan latar budaya berbeda. Begitu pula, kami mempersembahkan film-film pilihan dari Pasifik yang merepresentasikan budaya dan masyarakat dari kawasan itu yang mengagumkan, sebagaimana JAFF tahun ini memperluas jangkauannya ke wilayah Pasifik. Karenanya, tak seperti  frasa ”No man’s land” (pulau tak bertuan), tema Islandscape justru merayakan inter-koneksi sinema di kawasan Asia dan Pasifik.

Mesti dicatat, tahun ini kami menerima  banyak film dari seluruh Asia. Oleh karena itu, demi memberi ruang yang lebih lapang bagi film Asia berkompetisi, maka tahun ini kami mulai memilah film yang berkompetisi untuk mendapatkan penghargaan  JAFF dan penghargaan NETPAC. Sementara penghargaan NETPAC bertujuan hendak mempromosikan film karya sutradara pemula, berbakat serta menjanjikan di masa depan, penghargaan  JAFF diberikan pada film terbaik karya sutradara Asia yang  telah berpengalaman.  Meski demikian, sesungguhnya film-film Asia yang berkompetisi untuk meraih penghargaan NETPAC dan JAFF semuanya menarik dan mempesona  yang layak memperoleh apresiasi yang hangat dan luas.

Seperti kita tahu, pada 4 Juli 2016 jagad film Asia sungguh kehilangan sosok penting karena meninggalnya sutradara besar Iran, Abbas Kiarostami. Di samping meletakkan film Iran di peta sinema dunia, Kiarostami  sejatinya telah menjadikan film Asia diapreasiasi sekaligus disegani di seluruh dunia.  Karena itu, kami menyajikan program bertajuk “Tribute to Abbas Kiarostami” dengan memutar film Kiarostami terakhir Take Me Home dan dokumenter mengenai Kiarostami bertajuk 76 Minutes 25 Seconds With Abbas Kiarostami  yang dibuat oleh sahabat dekatnya Saifollah  Samadian.  Lebih jauh, kami menyajikan gambaran sekilas karya generasi pasca-Kiarostami dalam “Iranian Independent Films.”

Sebagaimana program khusus kami tahun sebelumnya, Anda  tetap bisa mengikuti perkembangan mutakhir sinema Korea dan Jepang. Akan tetapi, tahun ini  Anda juga akan menjumpai film-film eksperimental Jepang serta film-film pendek Korea sebagai buah kolaborasi dengan Busan Shorts. Kami berharap program khusus ini bakal memperluas perspektif Anda tentang kultur sinema Jepang dan Korea. Tentu, tak ketinggalan Anda bisa mengikuti perkembangan mutakhir sinema Indonesia dalam program “The Faces of Indonesian Cinema Today” yang tahun ini ditandai oleh restorasi film Indonesia klasik, remake film populer dan adaptasi novel laris ke dalam film.    

Sebagai salah satu program khas JAFF, kami menyelenggarakan “Public Lecture” yang mengangkat beragam topik: pasar film di Asia dan Pasifik, tantangan pengarsipan film di Asia, dan praktik seni yang berkaitan dengan sinema serta representasi budaya laut dalam film Asia dan Pasifik. Kami  juga  menyelenggarakan lokakarya tentang pengkurasian dan pemrograman festival film yang memberi kesempatan untuk menimba ilmu dari juru program  kelas  dunia tentang bagaimana memilih film dengan cerdas dan menjustfikasi pilihan itu. Di samping itu, kami menyelenggarakan lokakarya secara kolaboratif dengan Papermoon Puppet Theater  tentang pembuatan  film dengan menggunakan material yang tak konvensional.

Menyelenggarakan festival film nyaris menjadi kemustahilan tanpa dukungan  tak pernah letih dan antuisas dari pelbagai institusi seperti Japan Foundation, Korean Cultural Centre, Badan Ekonomi Kreatif dan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami sangat berterima kasih pada institusi tersebut yang telah menjadikan JAFF festival film yang berhasil dan bermakna dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan, kami menerima penghargaan sebagai festival terbaik dalam ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI) tahun ini yang sungguh melecut kami untuk terus-menerus melakukan perbaikan diri dan menjadi yang lebih baik.

Pada akhirnya, dengan menjelajahi kepulauan di Asia dan Pasifik secara  sinematik, Anda tak hanya menyaksikan kontur geografis yang berbeda-beda, tapi juga lanskap sosial dan kultural yang beragam. Dengan jiwa petualang dan keterbukaan pikiran dalam mengeksplorasi budaya dan wilayah yang tak terpetakan, Anda mungkin akan memperoleh pengertian baru dan  pandangan  alternatif.

Maka, mari kita rayakan keluasan bentang pulau (Islandscape) di Asia dan Pasifik lewat lensa sinematik dan nikmatilah festival!

Cruising the Islands Cinematically

The larger the island of knowledge, the longer the shoreline of wonder,” said  American religious  leader Ralph Washington Sockman. More than a metaphor of knowledge, an island symbolizes openness to any influences and it implies diverse interactions. The 11th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) chooses “Islandscape” as a festival theme to underscore not only the multitude of artistic expressions and cultural representations in Asian cinema, but also a signature of exchange and confluence of cinematic culture in the region. 

The Opening Film Salawaku directed by Pritagita Arianegara precisely reflects the theme of the festival. Set in a remote island Seram, this film shows that the island landscape has the power of healing and connecting people with different cultural backgrounds. Moreover, we present some selected films from the Pacific, which represents the incredible culture and people of the region, as this year’s JAFF expands its scope to the Pacific. Therefore, unlike the saying “No man’s land,” the theme Islandscape precisely celebrates the inter-connection of cinemas in Asia and Pacific region.

It should be noted that this year we received enormous entries across Asia. Therefore, in order to provide more spaces for Asian features, this year we are starting to separate films competing for JAFF Award and NETPAC Award. While NETPAC award aims to promote films made by young, talented and promising Asian filmmakers, JAFF award appreciates the best films made by experienced Asian filmmakers. However, Asian films both in NETPAC Award and JAFF Award are as equally interesting and captivating, worthy for warm and wide appreciation.

As it is well known, on 4 July 2016, the Asian film world felt a great loss due to the departure of the leading Iranian film director Abbas Kiarostami. Aside from putting Iranian film on the map of world cinema, Kiarostami has made Asian film to be respected and appreciated globally. Therefore, we are presenting a special program “Tribute to Abbas Kiarostami” by screening his last film Take Me Home and a wonderful documentary film on him entitled 76 Minutes 25 Seconds With Abbas Kiarostami by his close friend, Saifollah Samadian. Furthermore, to give you a glimpse of the works of post-Kiarostami generation, we are presenting to you “Iranian Independent Films.”

Like our last year’s special programs, you can still keep abreast of contemporary Japanese and Korean cinema. But this year, you will find Japanese experimental films and Korean shorts as part of new collaboration with Busan Shorts. We hope that these special programs will broaden your perspective on Japanese and Korean film culture. Indeed, you can witness the current development of Indonesian cinema in “The Faces of Indonesian Cinema Today” marked by restoration of classic film, remake of popular films and best seller novel adaptation.

As one of our distinctive programs, we hold public lectures on various issues in contemporary cinema world such as film market in Asia and Pacific, challenges of film archive in Asia, and many art practices related to cinema as well as the representations of oceanic culture in Asian and Pacific films. We will also be conducting a workshop on festival curating and programming that provides an opportunity to learn from the world-class programmer on how to select films intelligently and justify the selection. In addition, we organize workshop collaboratively with Papermoon Puppet Theater on making a film by utilizing unconventional materials.

Organizing a film festival would have been impossible without the unfailing and enthusiastic support from various institutions such as Japan Foundation, Korean Cultural Centre, Badan Ekonomi Kreatif (Indonesian Creative Economy Council), and Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Culture Office of   Yogyakarta Special Province). We are very grateful to those institutions for making JAFF a successful and meaningful festival for the past years. Moreover, receiving an award for the best film festival in Indonesia this year during the Indonesian Film Appreciation (AFI) truly encourages us to continuously improve and excel.   

Finally, by cruising the islands in Asia and Pacific cinematically, you will not only see the different physical (geographical) contours, but also the social and cultural landscapes as well. With adventurous spirit and open-mindedness in exploring the uncharted   territories and cultures, we might obtain new insights and alternative perspectives.

So, let’s celebrate the vastness of Islandscape in Asia and Pacific through cinematic lens and enjoy the festival!

BUDI IRAWANTO

BUDI IRAWANTO

Festival Director