MESSAGE FROM FESTIVAL DIRECTOR

Ifa Isfansyah

IT’S TIME TO DEFEND OUR TERRITORY

In times of crisis, the most important thing we must do is protect and defend our territory. For this reason, this year’s JAFF is without a doubt focusing on the revival of Indonesian Cinema, which is also an important part of Southeast Asian Cinema. Indonesian cinema has become the center of attention in recent times. A number of films brought home prestigious trophies at several International Film Festivals and numerous films produced throughout the pandemic era have begun to appear in theaters towards the end of this year.

That’s why we chose TENACITY as the theme of this year’s festival. Tenacity means persistence to keep doing something no matter the circumstances. The word ‘Tenacity’ is close in meaning with ‘determination’ and ‘persistence’ which are relevant to how we adapt and live our daily lives under the current ‘new normal’ conditions.

The victory of Asian films such as Parasite, Nomadland and Minari at the Academy Awards is the fruit of the persistence of Asian directors and their actors who continue to produce amazing work, although in this case the American public is actually a bit late in learning about its brilliance.

Fifteen years of JAFF’s journey have established strong roots in the viewing culture. It is this foundation of hardcore film fans that will sustain cinema in Indonesia. In my notes from the 13th edition of the festival, I asked a lot of questions from a filmmaker’s perspective. The question of how much are we defending cinema? How many filmmakers still use cinema to defend voices that are not heard? And can that voice really be heard amidst the noise of the distribution system as it is today? Does anyone still make room for films showing people who have never been seen? In times of crisis like this when cinema is at its lowest point, it turns out that the most basic thing we can do to defend cinema is to watch it. It is very important that we take a stand as the audience, whoever we are.

Every year JAFF improves in terms of its implementation. This year the focus is on keeping the implementation team more effective. So far, JAFF has always been based on a large implementation team and most of them are volunteers. The pandemic has required us to make restrictions. This year is Alexander Matius’ first year as Program Director of JAFF, this change will certainly affect the selection of JAFF films which, of course, will showcase different perspectives and we are certain will be enthusiastically welcomed by the audiences. Our new Festival Manager, Intan Nadya Maulida, has also brought in new names, young people, with new energy that JAFF will always need.

The venue is one of the main parts of a festival. This year we will return to the same main venue as the last JAFF before the pandemic, Empire XXI Yogyakarta. Film festival events, which are essentially gatherings, we feel are very effective in this venue, supported by high standard technical facilities that enable films to be appreciated in the way they were intended. Klik Film, which last year was able to widen JAFF’s audience through online screenings, are also still collaborating this year. Last year’s online program experience expanded JAFF’s audience segment. In previous years, JAFF’s face-to-face implementation had an average of 12,000 admissions, last year there were 22,000 admissions by people who accessed our online program. For more than ten years, JAFF has built its audience so there will always be some who may not be able to come to Jogja in person but can still be part of the festival. This year we have started to organize screenings while maintaining strict rules regarding health protocols. We have chosen to make it our policy not to invite festival guests, but instead we welcome guests who are able to come to take part in the festival. This year’s revival will also be marked by the return of the competition program whilst keeping an online judging system. For this reason, viewing activities for community screenings have been started, but there won’t be a program for community forums which are usually filled by various communities throughout Indonesia.

From the beginning I believed that quality films would emerge in times of crisis. This year, films produced during the pandemic began to be released. This year’s closing film, Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga by Gina S. Noer is the first film that was brave enough to go ahead with production during the pandemic, and also has a story set during the pandemic. A new generation of Indonesian filmmakers have come forward with their first feature-length films, the generation that emerged and grew with JAFF: Akhirat: A Love Story (Jason Iskandar), Photocopier (Wregas Bhanuteja), Aum! (Bambank Ipoenk) and also Just Mom (the second film by Jeihan Angga). Aum! is a special film for JAFF because it was the first success story of our project market program, Jogja Future Project. Not to forget our respect for Indonesian filmmakers who always make JAFF the home of their work, such as Waiting for Mother (Richard Oh), Tris (Djenar Maesa Ayu) and Pages (Paul Agusta).

JAFF is able to be so consistent in no small part thanks to our partners who provide invaluable support year on year. Thank you to the Ministry of Education, Culture, Research and Technology, the Directorate of Film, Music and New Media, Yogyakarta Culture Service, MLDSPOT, Empire XXI, Klik Film and all Indonesian film producers who choose JAFF as a space to promote their work. What I imagined this year would happen, has happened. JAFF has been realized with the support of the Indonesian film industry, support from the government, support from filmmakers and also support from the audience. It is these mutually supportive forces that will protect our cinema, because no one else will take care of our cinema but ourselves.

While maintaining health protocols, let’s come together to show our persistence in reviving Indonesian Cinema, Southeast Asian Cinema and Asian Cinema!

WAKTUNYA MEMPERTAHANKAN TERITORI KITA

Di saat krisis terjadi, hal terpenting yang harus kita lakukan adalah menjaga dan mempertahankan wilayah kita. Untuk itu, tanpa ragu JAFF tahun ini berfokus pada kebangkitan Sinema Indonesia yang juga merupakan bagian penting dari Sinema Asia Tenggara. Sinema Indonesia sedang menjadi pusat perhatian beberapa waktu belakangan ini. Sejumlah film membawa pulang ke tanah air piala-piala bergengsi di beberapa Festival Film Internasional dan tidak sedikit film-film yang diproduksi di era pandemi sudah mulai muncul di bioskop akhir tahun ini.

Untuk itulah kami memilih TENACITY sebagai tema festival tahun ini. Tenacity berarti kegigihan untuk terus melakukan sesuatu apa pun kondisinya. Kata ‘Tenacity’ memiliki kedekatan makna dengan ‘determination’ dan ‘persistence’ yang relevan dengan bagaimana kita beradaptasi dan menjalani hidup sehari-hari di bawah kondisi ‘new normal’ saat ini.

Kemenangan film-film bercita rasa Asia seperti Parasite, Nomadland dan Minari di ajang Academy Awards adalah buah dari kegigihan sutradara Asia dan para pemainnya yang terus menghasilkan karya terbaik, meskipun dalam hal ini publik Amerika sebenarnya agak terlambat mengetahui kekuatan ini.

Lima belas tahun perjalanan JAFF telah membentuk akar budaya menonton yang kuat. Fondasi dari penonton garis keras inilah yang akan mempertahankan sinema di Indonesia. Di catatan saya saat pelaksanaan festival edisi ke-13, saya melontarkan banyak pertanyaan dari perspektif pembuat film. Pertanyaan tentang Seberapa jauh kita membela sinema? Seberapa banyak pembuat film yang masih menggunakan sinema untuk membela suara-suara yang tidak terdengar? Dan apakah suara itu benar-benar bisa terdengar di antara riuhnya sistem distribusi seperti sekarang ini? Adakah yang masih memberi ruang untuk film-film yang memperlihatkan orang-orang yang tidak pernah terlihat? Di saat krisis terjadi seperti sekarang ini dan sinema berada di titik terendahnya, ternyata hal yang paling dasar yang harus dilakukan untuk membela sinema adalah dengan menonton sinema itu sendiri. Penting sekali kita mengambil posisi sebagai penonton, siapa pun kita.

Setiap tahunnya JAFF selalu berbenah dari segi pelaksanaan. Tahun ini berfokus untuk menjaga tim pelaksana agar lebih efektif. Selama ini JAFF selalu berbasis pada tim pelaksana yang besar dan sebagian besar adalah volunteer. Pandemi menuntut kita untuk melakukan pembatasan-pembatasan. Tahun ini adalah tahun pertama Alexander Matius sebagai Program Director JAFF, perubahan ini tentunya akan berpengaruh pada film-film seleksi JAFF yang tentunya mempunyai perspektif berbeda dan kami yakin akan disambut oleh penonton dengan antusias. Festival Manager baru kami, Intan Nadya Maulida, juga membawa nama-nama baru, anak-anak muda, energi-energi baru yang selalu dibutuhkan oleh JAFF.

Venue adalah bagian utama dari sebuah festival. Tahun ini kita kembali ke venue utama seperti pada saat festival terakhir sebelum pandemi, Empire XXI Yogyakarta. Festival film yang pada hakikatnya adalah pertemuan-pertemuan kami rasa sangat efektif di venue ini, didukung oleh fasilitas teknis agar sebuah film bisa diapresiasi di kualitas terbaiknya. Klik Film yang tahun lalu mampu melebarkan penonton JAFF melalui pemutaran online tetap kami lakukan di tahun ini. Pengalaman program online tahun lalu melebarkan segmen penonton JAFF. Tahun-tahun sebelumnya penyelenggaraan tatap muka JAFF yang rata-rata berjumlah 12.000 admission, tahun lalu terdapat 22.000 admission yang mengakses program online kami. Sepuluh tahun lebih penyelenggaraan JAFF sudah membentuk kelompok penonton yang tidak bisa hadir langsung ke Jogja tetapi tetap menjadi bagian dari penyelenggaraan festival. Walaupun tahun ini kami mulai menyelenggarakan aktivitas menonton dengan tetap menjaga ketat aturan yang berlaku tentang protokol kesehatan. Kami mengambil kebijakan untuk tidak mengundang tamu festival, tapi kami menerima tamu yang datang untuk mengikuti festival. Kebangkitan tahun ini juga ditandai dengan kembalinya program kompetisi tetapi tetap dengan sistem penjurian online. Untuk itu aktivitas menonton untuk layar komunitas dimulai, tapi tidak ada program untuk forum komunitas yang setiap tahunnya dipenuhi oleh berbagai komunitas di penjuru Indonesia.

Dari awal saya percaya bahwa film-fIlm berkualitas akan muncul di masa-masa krisis. Tahun ini film yang diproduksi di masa pandemi mulai release. Film closing tahun ini, Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga karya Gina S. Noer adalah film pertama yang memberanikan berproduksi di masa pandemi, juga mempunyai cerita dengan setting pandemi. Film-film generasi baru perfilman Indonesia mulai bermunculan dengan film panjang pertamanya, generasi yang berproses dan bertumbuh bersama JAFF: Akhirat: A Love Story (Jason Iskandar), Photocopier (Wregas Bhanuteja), Aum! (Bambank Ipoenk) dan juga Just Mom (film kedua dari Jeihan Angga). Aum! menjadi film spesial di JAFF karena film tersebut adalah cerita sukses pertama dari program project market kami, Jogja Future Project. Tak lupa hormat kami untuk pembuat film Indonesia yang selalu menempatkan JAFF sebagai rumah dari karya-karya mereka: Menunggu Bunda (Richard Oh), Tris (Djenar Maesa Ayu), Pages (Paul Agusta).

Konsistensi JAFF tentu saja tidak lepas dari dukungan-dukungan partner yang juga senantiasa selalu mendukung JAFF setiap tahunnya. Terima kasih kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Direktorat Perfilman Musik dan Media Baru, Dinas Kebudayaan Yogyakarta, MLDSPOT, Empire XXI, Klik Film dan semua produser film Indonesia yang memilih JAFF sebagai ruang untuk mempromosikan karya mereka. Apa yang saya bayangkan tahun ini terjadi, JAFF terlaksana dari dukungan pelaku perfilman Indonesia. Dukungan dari pemerintah, dukungan dari pembuat film dan juga dukungan dari penonton. Kekuatan-kekuatan saling mendukung inilah yang akan menjaga sinema kita, karena tidak ada orang lain yang akan menjaga sinema kita selain kita sendiri.

Dengan tetap menjaga protokol kesehatan, mari bertemu untuk menunjukkan kegigihan kita untuk membangkitkan Sinema Indonesia, Sinema Asia Tenggara, Sinema Asia!