Fluidity of Boundaries and Identity

 

 

It must be acknowledged that reaching our twelfth year is of no easy feat for Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF)—challenges have arisen, hopes are continually sown, and crucial responsibilities are inevitably taken up. This turning point serves as a moment for us to contemplate the limits in both transcending existing boundaries as well as exploring our identity. In continuing our endeavors, JAFF hopes to remain humble in exposing ourselves to extensive collaborations.

As such, this year’s JAFF zeroes in on the theme of “Fluidity”, which was inspired by the characteristic of water to continually adapt itself in various mediums without losing its core essence. In the same vein, the Asian cinema must continue to navigate the ever-changing and volatile world from various angles, producing creative and artistic works without losing its core sensibility on the culture of their communities. To quote a legendary samurai, Miyamoto Musashi (1584-1645), “Fixation is the way to death. Fluidity is the way to life.”

In echoing the central theme of the festival, the opening film of Nyai, directed by Garin Nugroho, depicts the trials and tribulations of a woman in facing the throes of life with fluidity of endurance. The film also reflects on how the cinema itself professes an adaptability and fluidity in various fields of art such as dance, vocals, and drama as well as the ability in discovering something new. The artwork created by the artist, Eko Nugroho, for this year’s JAFF reflects the enduring spirit of collaboration.

Following the spirit of collaboration, JAFF and Aprofi (Association of Indonesian Film Producers), together with Busan Film Commission, will be organizing the ASEAN-ROK Film Leaders Incubator: FLY 2017 which will be held from the 20th of November to the 3rd of December. As a workshop for short film production, FLY 2017 is joined by 25 participants from several ASEAN countries as well South Korea. Out of this workshop, two resulting short films will be screened during the film festival. This program reflects JAFF’s vision in promoting new talents in Southeast Asian cinema—as it is they who bring promise to introduce colors into this field in the future.

Driven by a similar vision, JAFF this year launches a brand-new program entitled “Jogja Future Project” which selects 10 promising film projects that will be chosen by a group of panelists. All selected participants will meet every figure from the Indonesian or even international cinema, all of whom possesses a plethora of professional experience in film production. Through this meeting, it is hoped that Indonesian films, offering radical insights from alternative viewpoints, would be produced as a result.

As part of our goal to continue reinventing ourselves, the program “The Faces of Indonesian Cinema Today” has undergone a transformation into “JAFF-ISA (Indonesian Screen Awards)” and will be selecting the best film, best filmmaker, best actor/actress in leading role, and best cinematography. This forms our genuine appreciation towards the admirable growth of the Indonesian cinema in the last few decades. In order to capture an alternate perspective in the appreciation of Indonesian cinema, JAFF-ISA offers a panel of juries based in countries outside Indonesia, who are well reputed internationally in the field of cinema. Aside from that, to better appreciate the accomplishment of Indonesian filmmakers, this year’s JAFF plans to provide a spotlight on the filmmaker Joko Anwar who debuted twelve years ago with Janji Joni (2005).

Of course, the selected films for the “Asian Feature” program will continue to entice the audience to probe deeper into the niche of Asia with its respective dynamics. For instance, the film directed by Adolfo Alix Jr. entitled Dark is the Night recounts the conditions of contemporary Filipino society which has been gripped by the extrajudicial killings in the War on Drugs. Similarly, Roya Sadat’s A Letter to the President from Afghanistan paints the difficult situations faced by the Afghans during the post-Taliban regime. In other words, JAFF continues to offer cinematic experiences from countries which may seem ‘foreign’ within the landscape of Asian cinema, but exposes the audience to captivating narratives from Tajikistan, Mongolia, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Timor Leste, as well as others.

As per our festival’s tradition, JAFF’s “Public Lecture” will provide a space for the exchange of ideas and creation of discourse through seminars, discussions, or book launch. Unlike previous years, JAFF invited and selected research-based poster presentations, aimed at raising various topics regarding the Asian cinema, together with the Center for Southeast Asian Social Studies of Universitas Gadjah Mada. By doing so, JAFF does not merely stop at film screenings, but instead, takes on the initiative to cultivate a film culture that is colored by a robust exchange of ideas.

Prior to the official launch of the festival this year, there are two events which were held. The first is a “Special Presentation” of the film Marlina the Murderer in Four Acts—a pre-screening of the film before its commercial release in theatres. This screening was held in conjunction with JAFF’s first press conference on the 7th of November. The second event refers to the “Open Air Cinema” program which was held in Tebing Breksi (Prambanan) on the 19th and 26thof November to reach to a wider range audience in more rural areas. The main objective of the first event is to offer an opportunity to the public in Yogyakarta to experience an Indonesian premiere as well to serve as a gentle reminder to the launching of JAFF. Meanwhile, the main objective of the second event is to create a wider accessibility of the festival to the greater public—especially to those who live beyond the outskirts of the city.

It should be noted that both events are part of our desire to reach towards the public as well as to show our commitment as a community-based festival. The support made by various parties, extending from our donors, sponsors, the audience, filmmakers, the film community, to our volunteers continues to lend an energy which enlivens JAFF under any conditions.

Let’s explore the atmosphere of festival and immerse yourself in the wonder of the Asian cinema.

Lenturnya Batas dan Identitas

 

 

Menapaki usia kedua belas, mesti diakui, bukan langkah yang mudah bagi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Sejumlah tantangan menjelang, harapan kian banyak disematkan dan tanggung jawab besar tak bisa dielakkan. Pada saat yang berbarengan, usia keduabelas menjadi momen untuk menakar sejauh mana batas mesti ditimbang serta identitas patut dimaknai ulang. Ini agar dalam mengayun langkah, JAFF tetap memiliki kerendahan hati dengan membuka diri untuk kemungkinan kolaborasi seluas-luasnya.

Karena itulah, JAFF tahun ini memilih tema “Fluidity”, yang menimba ilham dari karakter air yang senantiasa memiliki kelenturan beradaptasi di pelbagai medan tanpa pernah kehilangan esensinya. Demikian halnya, sinema Asia senantiasa meniti arus perubahan dari segenap penjuru yang diolahnya menjadi karya kreatif dan artistik tanpa kehilangan sensibilitas pada kultur masyarakatnya. Inilah keniscayaan untuk terus menggeser batas dan merumuskan-ulang identitas. Sebagaimana kata-kata samurai kondang Miyamoto Musashi (1584-1645), “Pemapanan adalah jalan menuju kematian. Kelenturan adalah jalan menuju kehidupan.”

Seperti menggemakan tema festival, film pembuka Nyai karya Garin Nugroho menuturkan pergulatan seorang perempuan menghadapi deraan hidup dengan daya tahan yang lentur. Film ini juga mencerminkan betapa sinema memiliki kelenturan dalam bersenyawa dengan beragam cabang seni lain seperti tari, tarik suara, dan drama serta menunjukkan kemampuan menemukan kebaruannya. Spirit melakukan kolaborasi juga tercermin pada artwork JAFF yang tahun ini dikerjakan oleh seniman rupa Eko Nugroho.

Masih dalam spirit kolaboratif, JAFF dan Aprofi (Asosiasi Produser Film Indonesia) bersama dengan Busan Film Commission menggelar ASEAN-ROK Film Leaders Incubator: FLY 2017 yang diselenggarakan pada 20 November hingga 3 Desember. FLY 2017 merupakan workshop produksi film pendek yang diikuti 25 peserta dari sejumlah negara anggota ASEAN dan Korea Selatan yang menghasilkan dua film pendek yang bakal diputar di JAFF. Program ini bertaut dengan visi JAFF yang mendorong lahirnya bakat-bakat baru dalam perfilman di Asia Tenggara. Mereka inilah yang kelak bakal memberi warna masa depan perfilman di kawasan ini.

Dilambari oleh niatan yang serupa, JAFF tahun ini melansir program rintisan bertajuk “Jogja Future Project” yang memilih 10 proyek film yang menjanjikan dari banyak proposal yang diterima oleh panitia. Kesepuluh peserta terpilih itu akan bertemu satu per satu dengan para tokoh dari perfilman Indonesia maupun internasional yang memiliki segudang pengalaman profesional. Lewat pertemuan itu diharapkan bakal lahir film Indonesia yang mengusung gagasan-gagasan bernas dengan pendekatan yang segar.

Sebagai bagian dari ikhtiar untuk terus melakukan pembaruan, mulai tahun ini program “The Faces of Indonesian Cinema Today” mengalami transformasi menjadi “JAFF-ISA (Indonesian Screen Awards)” yang memilih film terbaik, sutradara terbaik, pemain terbaik, dan penata sinematografi terbaik. Ini merupakan bentuk kesungguhan apresiasi JAFF terhadap pertumbuhan sinema Indonesia yang mengagumkan dalam setengah dasawarsa ini. Sementara itu, demi menangkap sudut pandang yang berbeda dalam mengapresiasi sinema Indonesia, program JAFF-ISA menghadirkan para juri yang berasal dari luar Indonesia dan telah memiliki reputasi mumpuni di kancah perfilman dunia. Selain itu, untuk mengapreasi kekaryaan sutradara Indonesia, JAFF tahun ini memberikan fokus pada Joko Anwar yang memulai debutnya dua belas tahun silam lewat film Janji Joni (2005).

Tentu saja, film-film terpilih dalam program “Asian Feature” bakal terus memikat Anda untuk menjelajahi lebih dalam relung Asia dengan segenap dinamikanya. Umpamanya, film besutan Aldolfo Alix Jr. bertajuk Dark is the Night mengisahkan kondisi kontemporer masyarakat Filipina yang dicekam oleh pembunuhan ekstra yudisial dalam perang melawan pengedar obat terlarang. Film karya sutradara Afganistan, Roya Sadat, bertajuk A Letter to the President melukiskan situasi masyarakat yang pelik pascakekuasaan rezim Taliban. Dengan kata lain, JAFF senantiasa menyuguhkan sinema dari negara-negara yang selintas terdengar ‘asing’ dalam peta sinema Asia, namun mendedahkan kisah yang mengagumkan, seperti: Tajikistan, Mongolia, Kirgizstan, Kazakhstan, Timor Leste, dan seterusnya.

Sebagaimana telah menjadi karakter JAFF, “Public Lecture” merupakan program yang menjadi ruang bagi pertukaran gagasan dan penciptaan wacana lewat seminar, diskusi, atau peluncuran buku. Berbeda dengan tahun sebelumnya, bekerja sama dengan Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (Center for Southeast Asian Social Studies) Universitas Gadjah Mada, JAFF mengundang dan menyeleksi presentasi poster berbasis riset yang mengangkat pelbagai topik seputar sinema Asia. Di titik ini, JAFF tak hanya berhenti pada program pemutaran film, tapi juga menyemai kultur sinema yang diwarnai pertukaran gagasan yang sehat.

Sementara itu, ada dua event yang diselenggarakan menjelang pelaksanaan festival tahun ini. Pertama, “Special Presentation” film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak sebelum rilis komersialnya di bioskop. Pemutaran ini berbarengan dengan penyelenggaraan konferensi pers pertama JAFF pada 7 November lalu. Kedua, program “Open Air Cinema” yang digelar di Tebing Breksi (Prambanan) pada 19 dan 26 November untuk menjangkau penonton yang berada di wilayah perdesaan. Tujuan event pertama itu adalah memberi kesempatan pada publik di Yogyakarta (sebagai tempat penyelenggaraan festival) untuk menikmati pemutaran perdana sekaligus sebagai pengingat sebelum pergelaran JAFF. Sedangkan event kedua bertujuan menjadikan JAFF sebagai perhelatan yang senantiasa membuka akses pada publik, termasuk mereka yang tinggal di luar wilayah Kota Yogyakarta.

Penting dicatat, kedua event tersebut merupakan ikhtiar menyapa publik seraya menunjukkan komitmen JAFF sebagai festival yang berakar pada komunitas yang menghidupinya. Dukungan dari pelbagai kalangan selama ini, mulai dari pemberi dana, sponsor, penonton, para pembuat film, komunitas film, hingga sukarelawan senantiasa menjadi energi yang menghidupkan JAFF dalam kondisi apa pun.

Selamat mencerap atmosfer festival dan tenggelam dalam pukau sinema Asia.

Budi Irawanto

Festival Director