MESSAGE FROM FESTIVAL DIRECTOR
IFA ISFANSYAH

CONTINUING FORWARD

One of the reasons why we chose Hanoman as the symbol for our festival is to reflect our aspirations to become as strong and resilient as him each time we’re faced with difficulties and challenges. However, the events taking place in 2020 are beyond our imagination. JAFF (read: Jogja), which was known for its adaptability in meeting every challenge, has also flailed in facing this pandemic. Still, during these difficult times, we’re certain that JAFF’s presence is needed more than ever. The role of festivals in bringing joy and utilising cinema as a medium to persevere and remain resilient is being tested presently and JAFF wishes to fulfil this role during the pandemic.

For my opening speech last year, I created an analogy where JAFF is a small tree which all of us have cultivated and nurtured together into a large tree which we can reap the benefits together. At the same time last year, we have also trimmed the wild leaves and branches that have grown on our tree. Unfortunately, a large storm arrived on almost every shore in the world this year, tearing our tree apart and uprooting it from the ground. While we have to rescue our tree, it is imperative that we should save ourselves at the same time. Under such a situation, the most important thing we should do is to salvage its roots, which will allow the tree to be regrown once more as a smaller tree.

The roots making up JAFF are the film communities spread across Indonesia, whom JAFF is nurtured and cultivated by. Throughout the year, these roots present as a powerful force which gathers crucial support for JAFF. However, this year, when activities from each region are halted, JAFF will be the one to visit these communities instead. Despite the humble scale of our festival celebration, we should preserve the massive energy in order to substitute the lack of physical interactions. We wish to spread our wings across 15 cities in Indonesia to symbolise our 15th year together as a festival as we move forward. Thank you to the film communities who have become central to JAFF’s activities this year: Aceh, Padang, Lampung, Bandung, Tegal, Yogyakarta, Jember, Klungkung, Balikpapan, Makassar, Palu, Sumbawa, Lombok Timur, Kupang, and Papua.

Digital technology and internet connection are our main tools in organising this festival this year. With the constant progression of time and culture, cinema is under the hands of its audience. The big screen that we have always taken pride in and associated with the symbol of cinema has been laid to rest, shattering into tiny screens underneath the audience’s fingertips. The audience who were once willing to undertake the arduous journey spanning dozens, even hundreds of kilometres to gather in a dark room with a big screen, now remain at home as cinema presents itself in their phone or laptop screen. They are free to watch or stop whatever they are watching, wherever and whenever. This is not a discussion into which culture of watching films is better, rather it is meant as a celebration for the act of watching films themselves – something that film festivals stand for. After all, a film festival is not only meant to celebrate happiness, but to appreciate the sadness and pain so that we can better learn and understand our experiences.

129 movie titles from 29 countries will be screened during JAFF this year. Taking into account that we are still in the middle of a pandemic, it is an impressive number. Our greatest appreciation is extended towards Klik Film, who has partnered with us to screen these films; as well as the Directorate of Film, Music, and New Media from the Ministry of Education, Ministry of Tourism and Creative Economy, and DIY Cultural Service in making our 15th JAFF possible. We hope that our experiences this year will only strengthen us further. We believe that something extraordinary can be borne out of an extraordinary event. As such, let us treat 2020 as a special year for the rebirth of JAFF. At the end of the day, we cannot remain idle and wait as cinema is a moving image that pushes its audience to move forward. This year’s theme, “Kinetic”, serves as a reminder for JAFF to continue moving forward. And so, let’s keep moving forward!

Menjaga Keyakinan di Tengah Pandemi

Saat memilih hanoman sebagai simbol festival, salah satu alasan kami adalah agar kami setangguh hanoman saat menghadapi cobaan dan rintangan di sebuah pertempuran besar, seperti juga yang dilakukan oleh hanoman dalam cerita pewayangan. Tapi apa yang terjadi di tahun 2020 ini benar-benar tidak pernah terbayang di kepala kami. Tahun ini benar-benar istimewa. JAFF (baca: Jogja) yang sebelumnya sudah terbiasa beradaptasi karena sebuah bencana tetap saja gagap menghadapi peristiwa ini. Disaat-saat seperti inilah, justru membuat kami yakin bahwa JAFF harus tetap diselenggarakan. Peran sebuah festival justru sedang diuji, dan JAFF ingin sekali menjalankan peran tersebut. Peran untuk membangkitkan semangat dan menggunakan sinema sebagai medium untuk tetap kuat dan membuat kita hidup.

Di sambutan tahun lalu, saya menganalogikan JAFF sebagai pohon kecil yang ditanam dan dirawat bersama-sama dan tumbuh menjadi pohon rindang dan siap untuk diambil manfaatnya. Di saat tahun lalu pohon yang tumbuh secara organik ini kami rapikan dahan-dahannya yang mulai bercabang kemana-kemana, tahun ini pohon tersebut tumbang karena badai besar yang terjadi di semua penjuru dunia. Kami harus menyelamatkan pohon itu di saat kami sendiri pun juga harus menyelamatkan diri sendiri. Di dalam situasi tersebut, hal utama yang harus diselamatkan adalah akarnya. Karena hal tersebutlah yang membuat pohon akan tetap hidup walaupun bisa jadi kembali tumbuh menjadi pohon yang kecil.

Akar dari JAFF adalah komunitas film yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari sanalah JAFF tumbuh dan dihidupi. Dari tahun ke tahun mereka hadir dan menjadi kekuatan besar, menjadi energi untuk JAFF. Tahun ini saat semua harus beraktifitas dari wilayahnya masing-masing, waktu yang tepat bagi JAFF untuk hadir mendatangi mereka. Tahun ini JAFF bisa saja menjadi kecil secara skala penyelenggaraan, tapi energinya harus tetap besar untuk kita semua. Untuk itulah kami menyebar pelaksanaan festival tahun ini ke 15 kota di Indonesia. Angka 15 menjadi sangat penting, JAFF 15 di 15 kota. Hal tersebut kami yakini untuk menyebar akar-akar kekuatan dan energi JAFF. Terima kasih untuk teman-teman komunitas film yang tahun ini menjadi pusat-pusat aktivitas penyelenggaraan JAFF: Aceh, Padang, Lampung, Bandung, Tegal, Yogyakarta, Jember, Klungkung, Balikpapan, Makassar, Palu, Sumbawa, Lombok Timur, Kupang, dan Papua.

Teknologi digital dan jaringan internet menjadi sistem utama penyelenggaraan festival dimanapun. Sinema sekarang berada dalam kuasa jari penontonnya. Perubahan zaman dan budaya menonton semakin tidak bisa kita tolak. Layar besar yang selalu kita banggakan sebagai simbol kekuatan sinema sedang istirahat, layar tersebut dipecah menjadi kepingan-kepingan layar kecil yang tersebar di jari-jari penonton. Penonton yang tadinya rela menempuh perjalanan puluhan, ratusan hingga ribuan kilometer untuk bertemu dengan sinema di sebuah ruangan yang gelap dan layar yang besar, kini semua diam di tempat masing-masing dan sinema hadir di depan mereka. Bebas menonton atau bahkan menghentikan apa yang ia tonton kapan saja. Kita tidak sedang membahas budaya menonton seperti apa yang lebih baik, tapi apapun itu harus tetap kita rayakan. Karena seperti itulah tugas festival, dibuat bukan hanya untuk merayakan kebahagiaan tapi bahkan bisa merayakan kepedihan agar kita lebih bisa membaca dan bisa belajar dari apa yang sedang terjadi.

129 judul film dari 29 negara diputar di festival edisi tahun ini. Jumlah yang luar biasa di tengah situasi yang terjadi. Terima kasih untuk Klik Film yang sudah menjadi partner pemutaran semua judul film tersebut. Juga untuk Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru Kemendikbud, Kemenparekraf dan Dinas Kebudayaan DIY. Semoga apa yang terjadi di tahun ini semakin menguatkan kita. Kami percaya akan lahir sesuatu yang luar biasa dari sebuah peristiwa yang luar biasa. Marilah kita catat tahun 2020 sebagai tahun yang istimewa. Tahun dimana JAFF lahir kembali. Hal yang paling penting adalah bahwa kita tidak boleh hanya diam dan menunggu. Sejak awal ditemukan, sinema adalah gambar yang bergerak. Sudah seharusnya ia mampu menggerakkan penontonnya. Kinetic kita pilih sebagai tema festival ini agar kita terus bergerak. Maka marilah terus bergerak!

© 2020 Jogja-NETPAC Asian Film Festival. All Rights Reserved.