MESSAGE FROM FESTIVAL CURATOR

People’s Library

 

 

I was once struck by a written image of the Vietnam War where a planeload of soldiers were described as being “disgorged” onto the tarmac. That image was so pregnant that till today, I’ve been fascinated with watching how hordes of people can be swallowed into an airplane and then expulsed on landing. As a result, I’ve never felt impatient about getting on or off an airplane. The process of cantering and decantering is such a marvel to behold that I enter a trance. My mind zones out and I feel calm and empty.

It mirrors my feelings about collecting. Collections come and go. One day, they are neatly stacked up and admired, the next they become fodder for paper or plastic recycling. As a lifelong collector, I must confess that I find no more joy in accumulating. In fact, I sometimes gaze at my hill of DVDs, my mountain of CDs, and my Everest of vinyl records, and I shake my head and think: “what the hell for?” None of this will mean much to anyone without that same experience of history that I felt. None of it is going to save my life either. 

As philosopher Walter Benjamin noted: “the phenomenon of collecting loses its meaning as it loses its personal owner. Even though public collections may be less objectionable socially and more useful academically than private collections, the objects get their due only in the latter…Only in extinction is the collector comprehended.” My exception to this quote was a day when my friend asked me to visit his deceased father’s home. He had to empty the house before it was sold. As I stood there amidst the clutter of shelves and narrow passageways, I just couldn’t understand why this guy had complete boxes of pencil sharpeners (well ok, they were all shaped like Chinese pandas), crates of plates and crockery and cupboards of teapots. I don’t think any of us who visited that day could comprehend this guy.

All collectors are obsessional to a degree. We live in fear of the moments when those who cannot comprehend us say: “Get a life!” But we do have a life. We are the custodians of ordinary history. While most national libraries in the world have become repositories of official or even state history, the Americans have gone even one better – presidential libraries! Man, those guys really don’t want you to forget anything…about THEM!

Well, we don’t want to forget anything either. When Occupy Wall Street began in 2011 to protest income inequality, the People’s Library was accidentally started when a library science student left a box of books as donation. The protest organisers picked up on the idea and soon volunteer librarians organised and collected more books from the public. When the police cracked down on the protest, one of the first things they did was to destroy the 5,554 books collected in The People’s Library. When people get to think for themselves and when they see what’s really going on, they become a powerful force by themselves. 

And this is the real meaning of collections. Collections are repositories of knowledge that help to preserve the history of knowledge. But collections are meant to be shared, and not hoarded away. While Walter Benjamin spent his whole life and all the money he had in collecting, he died in 1940 on the French-Spanish border while escaping the Nazis, with only one suitcase. But during his life, he liked to generously give away his collection to friends. That was the same impetus that gave birth to The People’s Library. Collections might not save my life but it might save yours. As long as collections are cantered and decantered, in the process of being shared. 

So next time, you express impatience with a collector, please remember that we might be the only ones left who remember what they want you to forget… 

Perpustakaan Rakyat

 

Suatu ketika saya terpapar sebuah tulisan yang menggambarkan Perang Vietnam di mana sejumlah tentara yang dibawa dalam pesawat, dideskripsikan bagai “dimuntahkan” ke aspal. Gambaran tersebut bagi saya amatlah penuh yang hingga hari ini membuat saya terkagum bagaimana segerombolan manusia dapat ditelan oleh pesawat terbang dan kemudian didorong keluar untuk mendarat. Alhasil, saya tidak pernah merasa terburu-buru untuk naik atau turun dari pesawat. Proses pemaknaan dan memahaminya adalah hal yang sangat menakjubkan hingga membuat saya memasuki sebuah keadaan setengah sadar. Pikiran saya menjadi tidak konsentrasi dan saya merasa tenang dan kosong.

Hal ini mencerminkan bagaimana perasaan saya terhadap berkoleksi. Barang-barang koleksi datang dan pergi. Satu hari mereka tersusun rapi dan dikagumi, dan esoknya menjadi stok bahan daur ulang plastik atau kertas. Menjalani hidup sebagai seorang kolektor, saya harus mengakui saya tidak lagi merasakan kesenangan dari mengumpulkan barang. Bahkan terkadang saya memandangi bukit DVD, gunung CD, dan Everest dari vinil-vinil saya lalu saya menggelengkan kepala dan berpikir: “buat apa sih?” Semua ini tidak akan banyak memiliki makna bagi orang-orang tanpa pengalaman yang saya rasakan. Semua ini juga tidak akan menyelamatkan hidup saya.

Sebagaimana tulis filsuf Walter Benjamin: “fenomena berkoleksi akan kehilangan maknanya saat ia kehilangan pemilik personalnya. Meski koleksi publik bisa lebih diterima secara sosial dan lebih berguna secara akademis daripada koleksi pribadi, sang objek hanya mendapatkan kegunaan pada bidang yang kedua…Hanya kepunahan yang dipahami sang kolektor.” Pengecualian saya tentang kutipan ini adalah suatu ketika saat teman saya mengundang saya untuk mengunjungi rumah mendiang ayahnya. Teman saya itu harus mengosongkan rumah itu sebelum menjualnya. Di antara rak-rak yang berantakan dan lorong-lorong sempit di sana, saya tidak bisa memahami mengapa orang ini memiliki kotak-kotak rautan pensil (ok, bentuknya seperti panda semua), berpeti-peti piring dan tembikar lain serta berlemari-lemari teko teh. Saya pikir kami semua yang datang hari itu gagal memahami orang ini.

Semua kolektor obsesif hingga ke titik tertentu. Kami hidup dalam ketakutan dikatai “Dasar kurang kerjaan” oleh orang-orang yang gagal memahami kami, padahal sebenarnya kami punya peran. Kami menjadi penjaga sejarah umat biasa. Sedangkan kebanyakan perpustakaan nasional di dunia menjadi tempat penyimpanan sejarah resmi atau sejarah negara, bahkan orang Amerika membuat perpustakaan yang lebih baik lagi – perpustakaan presiden! Saking orang-orang itu tidak rela anda melupakan apapun…tentang MEREKA.

Kami pun tidak ingin melupakan apapun. Saat peristiwa Occupy Wall Street bermula pada tahun 2011 untuk memprotes kesenjangan pendapatan, People’s Library (sebuah perpustakaan umum di Amerika) secara tidak sengaja dimulai ketika seorang mahasiswa ilmu kepustakaan meninggalkan donasi berupa sekardus buku. Koordinator protes ini kemudian mengambil gagasannya dan tidak lama kemudian para pustakawan sukarela mengorganisir dan mengumpulkan lebih banyak buku dari masyarakat. Ketika polisi menindak protes tersebut, salah satu hal yang pertama kali mereka lakukan adalah menghancurkan 5.554 buku yang terkumpul di People’s Library. Saat orang-orang memikirkan nasibnya sendiri dan menyaksikan dengan mata kepalanya apa yang sebenarnya terjadi, mereka menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat dengan sendirinya.

Dan inilah makna sebenarnya dari koleksi. Koleksi adalah penyimpanan ilmu yang membantu dalam menjaga sejarah ilmu. Namun ia memang seharusnya dibagikan bukannya ditimbun saja. Meski Walter Benjamin yang menghabiskan seluruh waktu dan hartanya untuk berkoleksi, ia tewas pada tahun 1940 di perbatasan Perancis-Spanyol saat berusaha kabur dari Nazi, dengan membawa satu koper saja. Namun semasa hidupnya, ia suka mendermakan koleksinya kepada kawan-kawannya. Ia memiliki dorongan yang sama yang melahirkan People’s Library. Koleksi mungkin tidak menyelamatkan nyawa saya namun mungkin ia dapat menyelamatkan hidup anda. Selama koleksi-koleksi itu dimaknai dan dipahami, dalam sebuah proses berbagi.

Jadi lain kali saat anda menyampaikan ketidaksabaran kepada seorang kolektor, ingatlah bahwa mungkin, kami adalah orang-orang terakhir yang mengingat hal-hal yang ingin mereka hapuskan dari ingatan anda…

 

 

 

Philip Cheah

Festival Curator