Kritikus Peragu

 

Jika Anda bertanya apa yang menjadi praktik kritik saya, jawabannya adalah meruntuhkan karier yang telah saya bangun selama 30 tahun. Semakin lama saya menekuni kritik film, semakin kuat pula hasrat saya untuk mengesampingkannya.

Dari pengamatan saya, sebagian besar praktik kritik film sekarang berseberangan dengan posisi filosofis saya. Meski titik puncak kehidupan seorang kritikus film adalah saat ia diakui dan dikenal sebagai otoritas atau pakar di bidangnya, bagi saya, yang demikian itu justru menunjukkan kemerosotan drastis dari kebebasan untuk bisa salah, sebuah ajakan menuju kematian ilmu dan ilusi kekuasaan.

Usai kelahiran film digital di pengujung 90an, ledakan sinema baru terasa seperti tsunami. Ledakan ini menjelma jadi gelombang virtual yang membawa citraan baru, sebuah perlawanan yang harus diketahui dan didefinisikan, sebuah tantangan bagi kritikus yang hendak memetakan dan mengotak-ngotakkan sinema. Ini mengingatkan saya pada satu titik di pertengahan 80an ketika banyak kritikus menyematkan label sinema Cina Generasi Kelima dan Keenam sebelum akhirnya mereka sadar bahwa laju sejarah tidak mungkin terbendung. Mustahil ada sinema Generasi Ketujuh atau Kesepuluh karena pintunya memang terbuka sangat lebar. Kondisi serupa bahkan lebih jelas terlihat di jagad film negara lain. Seorang kritikus pernah mengomentari sinema digital Filipina masa kini: “Ini masalah besar. Terlalu banyak yang harus dilihat.” Dengan kata lain, karena ada terlalu banyak yang harus dilihat dan diketahui, maka sudah tidak mungkin lagi untuk didefinisikan. Jika sinema Cina Generasi Kelima dan Keenam sudah sejak awal digital dan berwujud gelombang besar, apakah keduanya bisa didefinisikan dengan begitu mudahnya?

Waktu kini jadi amat penting. Ada tekanan yang begitu besar untuk mencerna timbunan film yang dihadirkan lewat banyak wahana virtual, mulai dari Vimeo hingga YouTube. Film terus-menerus dipasang secara daring dan bermunculan di kotak masuk surel sebelum kita dapat menekan tombol hapus. Kita diminta untuk memberi opini cepat dan memberi penilaian instan, BAHKAN saat berhadapan dengan film ‘lamban’ sekalipun. Inilah masa ketika Buddhisme benar-benar masuk akal. Mantra ‘ingat dan waspada’ adalah satu-satunya alat penting dalam membuat penilaian.

Tapi bukankah mantra itu sangat sulit untuk dijadikan patokan? Siapa yang bisa tahu begitu banyak dan punya opini yang matang tentang film dari banyak negara dengan genre yang beragam? Dan berapa banyak kritikus kenalan kita yang berani bilang “saya tidak tahu” ketika ditanyai soal film? Saya yakin, pasti sangat sedikit.

Jadi saya menyarankan bahwa, dengan semangat pembuat film yang memperjuangkan sinema ‘lamban’, kita harus punya pergerakan paralel – kritikus yang lamban dan peragu! Mungkin kita akan mendapati kritik film baru yang berbasis keraguan, kritik yang ingin mendengar dan menimbang sudut pandang lain sebelum membuat penilaian. Lagipula, bukankah Nelson Algren (The Man with the Golden Arm) pernah berujar: “Kebutuhan mendesak untuk menyeret turun sang hakim dari kursinya dan menjadikannya terdakwa telah menjadi mandat bakti khusus dari penulis di sepanjang sejarah manusia”

Kritikus Peragu berdiri di kutub yang berlawanan dengan Kritikus Kaisar, penutur opini kaya pengalaman serta pengetahuan, orang yang sudah jadi pakar di bidang tertentu dan bersikukuh bahwa kekuasaan yang besar bisa dibenarkan – ia yang berbicara paling lantang harus didengarkan. Kritikus Peragu menyadari betapa dalamnya jurang yang harus dituruni untuk menemukan pengetahuan di dasarnya. Posisi reflektifnya sangat sederhana: kritik seharusnya membuka atau menutup diskusi?

Selama lebih dari satu dekade, saya menghindari festival-festival film besar dan memilih jalan yang jarang dilalui, keluar jalur untuk menyambangi festival kecil yang mulai tumbuh, dari Kolombo (Sri Lanka), Beirut (Lebanon), Almaty (Kazakhstan), Hanoi (Vietnam), Jogjakarta dan Makassar (Indonesia), hingga Mindanau (Filipina). Selalu menghadiri Cannes selama 15 tahun berturut-turut, saya terkejut karena tak sedikit pun saya merindukannya setelah berhenti datang.

Saya mulai sering bergelut dengan festival-festival film muda tersebut dengan melibatkan diri dalam organisasi, pemilihan film, acara-acara insidental, serta upaya untuk menanamkan pentingnya memiliki posisi filosofis. Salah satu pendekatan utamanya adalah pendampingan untuk membantu mereka menemukan dan mendengar suara mereka sendiri. Berbeda dengan konsultan festival lainnya, yang penting bagi saya adalah bahwa mereka memiliki pemahaman dan keyakinan akan apa yang diinginkan dari programnya. Tugas saya bukanlah mendikte apa yang harus dikatakan atau apa yang harus ditampilkan. Tugas saya adalah membuat mereka menjalani proses refleksi untuk memahami motivasi dan intisari makna. Tugas saya adalah menginspirasi mereka untuk memercayai naluri diri sendiri, dan tidak memercayai pendapat yang membabi buta dan tidak diminta. Bahkan yang datang dari seorang kritikus lamban dan peragu sekalipun.

Note: Esai ini pertama kali diterbitkan dalam edisi ke-100 Ray Film Magazine, Agustus 2015. Disunting oleh Andreas Ungerbock, Wina, Austria.

The Indeterminate Critic

 

If you ask me what my practice of criticism is, it’s about undoing my 30-year career trajectory. The more I engage with film criticism the more I want to unlearn it.

Most of what I see, as the practice of film criticism today, are at odds with my philosophical stance. While the highest point for a film critic in his lifetime is to be acknowledged and recognised as an authority or expert in his subject field, to me, that’s a fearsome loss of innocence, an invitation to dead knowledge and the illusion of power.

After the advent of digital film in the late 90s, the explosion of new cinema felt like a tsunami. It became a virtual torrent of new imagery, a defiance to be known and pinned down, a challenge to the critics who like to map and territorialise a cinema. It reminded one of the mid-80s when critics labelled the Chinese Fifth and Sixth Generation cinema before they realised how the flow of history could not be contained. There could not be a Seventh or Tenth Generation cinema as the doors were flung wide open. This is even more apparent in other national cinemas. For example, a critic once quipped of the current Philippines digital cinema: “It’s a big problem. There’s too much to see.” To put it another way, since there’s just too much to see and know, it’s not possible anymore to pin it down. Had the Chinese Fifth and Sixth Generation cinema been digital and a massive torrent from the beginning, would it have been defined as easily?

Time is really now of essence. There is an insane pressure to crunch through heaps of cinema delivered on multiple virtual platforms from Vimeo to YouTube. Films keep being posted online and popping into your email boxes before you can hit the delete key. You are asked to have a quick opinion and make an instant judgement EVEN with ‘slow’ cinema. If Buddhism ever made more sense than ever, it’s now. The mantra of being ‘in the moment’ is your only critical tool to make your judgements by.

But isn’t that too much an impossible yardstick to live by? Who can possibly know so much, to have a well-considered opinion on multiple national cinemas and across genres? Yet how many critics do you actually meet who say: “I don’t know”, when asked about a film. Very few I bet.

So I propose that in the spirit of filmmakers who are championing ‘slow’ cinema, we should have a parallel movement here – the slow, indeterminate film critic! Maybe we could have a new film criticism of uncertainty where we want to listen and consider other points of view before we venture a judgement. After all, did Nelson Algren (The Man with the Golden Arm) not opine: “The hard necessity of bringing the judge on the bench down into the dock has been the peculiar responsibility of the writer in all ages of man.”

The Indeterminate Critic stands at the other pole to the Empire Critic, the worldly-wise opinion maker, who has chartered territories and insisted that might is right – he who talks loudest should be heard. The Indeterminate Critic realises the abyss that the depth of knowledge plunges into. His reflective position is a simple one: Is criticism supposed to open up or to close down discussion?

For over a decade, I have avoided the path of the major film festivals and chose the road less travelled, going off track to visit small, emerging film festivals from Colombo (Sri Lanka), Beirut (Lebanon), Almaty (Kazakhstan), Hanoi (Vietnam), Jogjakarta and Makassar (Indonesia) to Mindanao (Philippines). Even after attending Cannes for 15 straight years, I was curiously surprised that I didn’t even miss it the year after I stopped.

Invariably, I started to work with many of these young film festivals in organisation, film selection, sidebar events and also tried to inculcate the importance of having a philosophical position. One of the main approaches lay in assisting them to find and hear their own voice. Unlike other festival consultants, it was important to me that they had an understanding and belief in what they wanted their programme to be. It was not my job to tell them what to do or what to show. It was concerned with going through the process of reflection to understand motivations and the essence of meanings. It was concerned with inspiring them to trust their own instincts, and not to take wholesale, unsolicited opinions. Not even from one slow, indeterminate film critic.

 

Note: This essay was first published in Ray Film Magazine’s 100th issue, August 2015. Edited by Andreas Ungerbock, Vienna, Austria.

 

PHILIP CHEAH

PHILIP CHEAH

Festival Curator