MESSAGE FROM FESTIVAL CURATOR

Philip Cheah

Every Joke is a Tiny Revolution

By Philip Cheah
In 1922, George Orwell was a British Imperial Police Officer in Burma for five years before he began his famous career as the novelist of two politically prophetic books – Animal Farm (1945) and Nineteen Eighty-Four (1949).

Today, these books are not only well-read all over the world, but they are especially cherished by the people of the country that Orwell was policeman in – Burma! As a matter of fact, the Burmese intelligentsia feel that the books are about them. That becomes entirely plausible when you consider the parallels, that these books about totalitarian states, political control and the suppression of free thinking and free will, match the picture of Burma when the military seized control of power in 1962. It also reminds you of the wanton killing of protestors on the streets since February this year when the military seized control again after the democratic election of Aung San Suu Kyi in 2015. Since April, over 1,000 protestors have been killed in the demonstrations against the military.

But may I remind you, dear reader, that this is a film festival programme message and the only reason for the above, is that I finally visited Myanmar (yes, the reference to Burma and Myanmar constantly overlap, as they normally refer to the two political masters – the British in the past and the military dictators in the present) for the first time in 2019 to attend the 9th Wathann Film Festival. To celebrate the festival’s 10th anniversary and Burmese cinema’s 100th anniversary, I worked on a Burma film programme for the Griffith Film School, Australia, in 2020.

There are two key films to see that are selected in this JAFF programme. The first is Aung Min’s The Man with the Beard (2020), about an artist who has a role in a new film as a Rohingya. The actor himself is a Rakhine, an ethnic who is in conflict with the issue of the Rohingyas, and to add insult to injury, the condition for the offered role is that he must have a beard. To live with the beard, that everyone recognises as a sign of a Muslim, brings with it untold new challenges. As Aung Min said: “The Man with the Beard began in 2017 when I was writing a script set in Rakhine state. Then the war broke out in the area, and we abandoned the idea of filming there. Actor Thadi-Htar, a Rakhine himself, one of my teammates from Ten Men (Film Collective) was growing a beard. I got the idea looking at his beard. Even then we didn’t have a script for Beard, we followed Thadi-Htar to places, filming him doing his things. After several days on end, we got the rough idea of how the story would be. We go out and film when the opportunity presents. We ponder on ideas while not filming. We cooked together, ate together, the crew even moved into my house for the duration of the filming process. We did that for 10 months.” (Editor’s Note: This film was selected and invited but due to circumstances, it was not available for JAFF.)

The second is Lamin Oo’s Three Strangers (2020), about a lesbian couple in a village who adopt a son. As the director said: “I met Gwa To and Soe Soe in 2015. I was shooting a short film near their village. At the time, I thought it was interesting to see a lesbian couple living together in such a small and remote village in Rakhine state, which is one of the poorest places in Myanmar. It was nothing more than a moment of curiosity. But a few months later, I found out they had an adopted son — Phoe Htoo. As soon as the subject of Phoe Htoo’s adoption came up, their eyes lit up and they enthusiastically told me their entire story in one sitting. They are not rich. They have to work hard every day, to put food on the table. Yet, they have an abundance of love for this child who is not their biological son. I was deeply touched by their love for this child and their courage to build this little family.”

Both Aung Min and Lamin Oo represent the new wave of Burmese film. The former started his Ten Men film collective in 2013 and currently mentors young filmmakers, while the latter’s Tagu Films, also starting in 2013, consists of a filmmaking quartet who tackle any film genre that interests them. Myanmar’s first film festival, Wathann, was started by husband and wife team, Thaiddhi and Thu Thu Shein respectively in 2011, and they have provided the platform for the new cinema to emerge.

The other film reference recalling the recent Myanmar atrocity is Adam Curtis’ Can’t Get You Out of My Head (2021) that discusses cultural and political history since the end of the British empire leading up to today’s hollow present, where world leadership is not only uninspiring but bleak. His key point that explains the title of his documentary, is that, as Orwell predicted, we are now living in a world of near-complete electronic surveillance. And that pretty much explains Covid-19, if you take the conspiracy point of view, because this illness legitimises every state’s implementation of surveillance in the service of patient-tracking. But mass surveillance had already arrived in China in the last decade through millions of cameras and the co-opting of mobile apps. In the West, marketing (and perhaps political) surveillance emerged through Google, but Covid-19, completes the job. We truly can’t get them out of our heads. But are all exits blocked? Once again, history makes our case clear. You can completely track people or use algorithms to predict their behaviour but the X factor is always there. Some unseen anomaly will always exist to turn the system against itself.
Plus Orwell did give us a way out of totalitarianism when he wrote: “Every joke is a tiny revolution.”

Setiap Lelucon adalah Revolusi Kecil

Oleh Philip Cheah

Tahun 1922, George Orwell masih bertugas sebagai Polisi Kerajaan Inggris selama lima tahun sebelum memulai karirnya sebagai penulis dua novel nubuat politik – Animal Farm (1945) dan Nineteen Eighty-Four (1949).

Kini, dua  novel itu tak hanya dibaca banyak orang di seluruh dunia, tetapi juga membekas di hati rakyat di negeri  tempat  Orwell pernah menjadi seorang polisi, yakni Burma! Malahan, kaum inteligensia Burma merasa bahwa dua buku itu tentang diri mereka. Asumsi itu sepenuhnya masuk akal jika Anda mempertimbangkan persamaannya, bahwa dua buku tentang negara totaliter, kontrol politik dan penindasan terhadap kebebasan berpikir dan berkehendak ini, serupa dengan gambaran keadaan Burma tatkala militer mengambil alih kekuasaan pada 1962. Ini juga akan mengingatkan Anda akan pembunuhan sewenang-wenang para pengunjuk rasa di jalanan sejak Februari tahun ini ketika militer Kembali merebut kendali setelah terpilihnya Aung San Suu Kyi secara demokratis pada 2015. Sejak April, lebih dari 1.000 demonstran tewas dalam demonstrasi menentang militer.

Tapi sebentar, saya ingatkan dulu, pembaca yang budiman, bahwa ini adalah pesan kurator festival dan satu-satunya alasan saya menulis semuanya di atas adalah akhirnya saya mengunjungi  Myanmar (ya, nama Burma dan Myanmar terus-menerus bertumpang tindih, karena ini lazimnya merujuk pada dua penguasa politik yang berbeda – Inggris di masa lalu dan diktator militer di masa kini) untuk pertama kalinya menghadiri Wathann Festival Film edisi ke-9 pada 2019. Dalam rangka merayakan 10 tahun festival itu dan 100 tahun sinema Burma, pada 2020 saya membuat program film Burma untuk Griffith Film School di Australia.

Ada dua film terpilih dalam program JAFF ini yang patut ditonton. Yang pertama adalah The Man with the Beard (2020) karya Aung Min, tentang seorang seniman yang berperan sebagai orang Rohingya dalam sebuah produksi film baru. Aktornya sendiri adalah orang Rakhine, etnis yang sedang berkonflik dalam kaitannya dengan isu Rohingya. Bak menabur garam di atas luka, syarat untuk memainkan peran yang ditawarkan adalah dia harus menumbuhkan jenggotnya. Memiliki jenggot yang diakui sebagai ciri-ciri orang Muslim, membawa serta berbagai tantangan baru yang tak terbayangkan. Seperti yang dikatakan Aung Min: “Perjalanan The Man with the Beard dimulai pada tahun 2017 ketika saya sedang menulis naskah bertempat di negara bagian Rakhine. Lantas, perang pecah di wilayah itu, dan kami membuang ide untuk memproduksi filmnya di sana. Aktor Thadi-Htar yang orang Rakhine, salah satu rekan tim kami dari Ten Men (Kolektif Film) sedang menumbuhkan jenggot. Saya mendapatkan ide ini dari jenggotnya. Meskipun kami belum punya naskah tentang Jenggot, kami mengikuti Thadi Htar ke mana pun, memfilmkannya ketika sedang beraktivitas. Setelah beberapa hari, kami mendapat ide kasar tentang akan seperti apa ceritanya nanti. Kami keluar dan merekam setiap kali ada kesempatan. Kami merenungkan idenya ketika tidak sedang syuting. Kami memasak bersama, makan bersama, para kru bahkan pindah dan tinggal di rumah saya selama proses syuting. Ini berlangsung selama 10 bulan.” (Catatan Editor: Film ini terpilih dan diundang namun karena kendala keadaan, menjadi tidak tersedia untuk JAFF)

Film yang kedua adalah karya Lamin Oo yang berjudul Three Strangers (2020), tentang pasangan lesbian di sebuah desa yang mengadopsi seorang anak laki-laki. Seperti yang dikatakan sutradaranya: “Saya bertemu Gwa To dan Soe Soe tahun 2015. Waktu itu saya sedang syuting film pendek di dekat desa mereka. Saya pikir sangat menarik ketika melihat pasangan lesbian tinggal bersama di sebuah desa kecil yang terpencil di negara bagian Rakhine, salah satu tempat termiskin di Myanmar. Yang saya rasakan waktu itu hanya sebatas rasa penasaran. Namun beberapa bulan kemudian, saya mengetahui kalau mereka memiliki seorang anak asuh laki-laki — Phoe Htoo. Ketika topik proses adopsi Phoe Htoo muncul, mata mereka berbinar-binar, lalu dengan antusias mereka bercerita kepada saya seluruh kisah mereka dalam sekali duduk. Mereka tidak kaya. Mereka harus bekerja keras setiap hari untuk bertahan hidup. Namun, mereka memiliki cinta yang melimpah untuk anak yang bukan anak biologis mereka ini. Saya sangat tersentuh oleh cinta mereka kepada si anak dan keberanian mereka untuk membangun keluarga kecilnya.”

Baik Aung Min maupun Lamin Oo mewakili gelombang baru dalam perfilman Burma. Aung Min mendirikan kolektif film Ten men pada tahun 2013, dan saat ini menjadi mentor  para pembuat film muda, sedangkan Lamin Oo juga mendirikan Tagu films tahun 2013, yang terdiri dari kuartet pembuat film yang menggasak genre film apa pun yang menarik minat mereka. Festival film pertama Myanmar, Wathann, diinisiasi oleh sepasang suami dan istri, Thaiddhi dan Thu Thu Shein pada tahun 2011, dengan itu mereka memberikan platform bagi munculnya  sinema baru.

Referensi film lain yang mengingatkan kekejaman Myanmar baru-baru ini adalah Can’t Get You Out of My Head (2021) karya Adam Curtis yang membahas sejarah budaya dan politik sejak berakhirnya kerajaan Inggris hingga masa kini yang hampa, di mana kepemimpinan di dunia ini tak hanya membosankan tapi juga suram. Poin kunci yang menjelaskan judul film dokumenternya, adalah seperti yang sudah diprediksi Orwell, kita sekarang hidup di dunia pengawasan elektronik yang nyaris  total. Gagasan itu cukup untuk memaparkan Covid-19, jika dilihat dari sudut pandang konspirasi, karena penyakit ini melegitimasi pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh setiap negara untuk kebutuhan layanan pelacakan pasien. Akan tetapi, pengawasan massal sudah hadir di Cina satu dekade terakhir lewat jutaan kamera serta kerja sama dengan aplikasi seluler. Di Barat, penerapan pengawasan untuk tujuan pemasaran (dan mungkin politik) muncul melalui Google, tetapi Covid-19, menyempurnakan usaha ini. Kita tidak bisa benar-benar membuangnya dari pikiran. Namun apakah semua jalan keluar sudah ditutup? Sekali lagi, sejarah membuat persoalan kita ini menjadi jelas. Anda bisa saja benar-benar melacak seseorang atau menggunakan algoritma untuk memprediksi perilaku mereka namun faktor X selalu hadir.  Beberapa anomali yang tak kasat mata akan selalu ada untuk membelokkan sistem agar melawan dirinya sendiri.

Tambahan, Orwell menunjukkan jalan keluar dari totaliterisme ketika ia menulis: “SetiapLelucon adalah Revolusi Kecil.”