In the early days of NETPAC when we used to congregate in disparate hotel rooms during film festivals for our board meetings, we had one memorable session that always stuck in my brain. This was before NETPAC was known as NETPAC. The name was only formally registered in 1994, so there were four years of informal meetings after the group was inaugurated in 1990.

During this particular soul-searching meeting, Jeannette Hereniko (then director of the Hawaii International Film Festival) asked this question, “If anyone here has a selfish reason for wanting to be in this Asian cinema group, what would it be?”

It was not an odd question. It was understandable since this was an early period of NETPAC when the group was basically composed of friends. We were fellow practitioners who walked the same path and began to recognise each other. In fact, NETPAC’s founder, Aruna Vasudev, has always credited Hereniko for turning her head around concerning the experience of watching Asian cinema. Sometime in the 80s when Vasudev visited the Hawaii International Film Festival, she saw how passionate one could get when the cinemas of Asia congregated at the same place. For this reason, it was not inconceivable to organise another kind of congregation—that of fellow practitioners who were trying to make the Asian voice louder.

I do not remember what everybody pinpointed as their selfish reasons, but I remember that my own reason was to meet new contacts as friends. NETPAC (Network for the Promotion of Asian Cinema), as its name suggested, was the pre-Facebook way of meeting people. But it was better. It was not as instant and fast as Facebook but it sure has been lasting across the years.

I remember how no one knew what the NETPAC award was when we first launched it in Berlin in 1994. It was then regarded as a poor consolation prize for one who did not win the bigger awards. Then, as the awards expanded and were given at more festivals, the NETPAC award started being publicised on film posters. That was our first sign that the award was appreciated. You can even see those early awards by visiting the film museum in Iran.

But making the Asian voice grow louder has been an uphill task all these years. Whenever we established a voice, we tend to give it away. For example, after promoting and establishing the Southeast Asian film wave in the late 90s, we gave it away in the early years of the next century when many of these directors and producers passed their distribution rights to Western companies. In doing so, they not only made it more expensive for Asian festivals to afford showing these films but often, they themselves lost the right to determine where the film should be shown. You would think that we would be clever enough to realise the power of our own voices, instead we kept losing the plot.

Perhaps that is why the friendships have been so important. Indonesian director, Garin Nugroho, was one of the early NETPAC award recipients and we did not realise how he would fit into our jigsaw until later. In 2006, when Nugroho wanted to start a film festival in his hometown, Yogyakarta; we suggested a partnership for a dedicated Asian film festival. The Jogja-NETPAC Asian Film Festival was thus born and celebrated its 10th edition in 2015.

I remember being on a panel representing NETPAC with Vasudev one year in Kazakhstan at the Eurasia International Film Festival and the moderator was Gulnara Abikeyeva. A few years later in Cannes, we met Abikeyeva again. We stared at each other and said, “We know each other!” That moment of rekindled friendship led to the NETPAC award being launched in Kazakhstan. Our shared voices kept the work going.

In the 25th anniversary (in 2015), old and new faces flit through my mind’s eye from Teddie Co (Philippines)—a truly bohemian critic, Mohammad Atebbai (Iran)—a critic who doubled as film sales agent, Ashley Ratnavibhushana (Sri Lanka)—a filmmaker-turned-critic who started the first Asian Film Centre for NETPAC, Nakorn Veerapravati (Thailand)—the head of the Bangkok Film Critics Assembly who was also president of the Thai chapter of the Elvis Presley fan club, to Teo Swee Leng (Singapore)—who administrated NETPAC during its years after the headquarters shifted from Philippines (1994) to Singapore (1998), shifted again to Korea (2002), and before its present site in Sri Lanka (2006). But the younger voices are beckoning in our group from Oggs Cruz (Philippines)—a lawyer moonlighting as blog critic to Meiske Taurisia (Indonesia)—a producer who dreams about Asian film distribution. Many Western friends too have joined the family such as Max Tessier (France)—a critic who finally decided to leave his heart in Manila, Martial Knaebel (Switzerland)—ex-director of the Fribourg Film Festival who took his Filipino sweetheart home to the Alps, and Nick Palevsky (USA)—a journalist who has been tramping around Asia for decades.

In the 17th Hawaii International Film Festival (1997), Hereniko told me that she had decided to let the festival go to another director. It was a painful decision, she said, as it felt like a child leaving you after you had brought her up. I remember this moment like a movie memory. We were sitting near an isolated beach off Waikiki. In two days, she had to announce this decision at the Closing Awards Ceremony, and I was feeling her pain and swirling emotions. There was an air of indecisive finality. I did not realise then that in 10 years time, I would go through the same pain. Here, after NETPAC’s 25 years, I feel that we are at another crossroads. All those emotions flood back, as well as memories of dear friends who fought at the frontlines of Asian cinema.

Saya ingin mengenang masa-masa awal NETPAC. Ketika itu, kami menyempatkan berkumpul di kamar-kamar hotel yang terpisah untuk menyelenggarakan rapat dewan di sela-sela jadwal festival film. Ketika itu, NETPAC belum bernama NETPAC. Nama tersebut baru didaftarkan secara resmi pada tahun 1994. Maka, sejak kelompok ini diinisiasi tahun 1990, selama empat tahun kami menggelar pertemuan-pertemuan informal.

Ada satu momen yang selalu tersimpan dalam benak saya. Suatu kali, di tengah pertemuan untuk mencari jati diri itu, Jeannette Hereniko (dulu menjabat sebagai Direktur Hawaii International Film Festival) mengajukan pertanyaan, “Kalau ada, apa alasan egois kalian mau bergabung dengan kelompok perfilman Asia ini?”

Itu bukanlah pertanyaan yang aneh. Hal itu wajar diutarakan sebab sejak awal, NETPAC pada dasarnya terdiri dari sekumpulan teman. Kami adalah sesama rekan pelaku perfilman yang menapaki jalan yang sama dan mulai mengenal satu sama lain di perjalanan itu. Pendiri NETPAC, Aruna Vasudev, selalu memuji Hereniko karena berhasil membuatnya terkagum-kagum pada pengalaman Hereniko menonton sinema Asia. Sekitar tahun 1980an, saat Vasudev menghadiri Hawaii International Film Festival, ia menyaksikan betapa bergairahnya suasana ketika film-film Asia berhimpun di satu tempat. Untuk itu, rasa-rasanya peristiwa berkumpul semacam itu tidak mustahil diorganisasi, tentunya bersama rekan pegiat perfilman yang berupaya mengumandangkan suara dari Asia.

Saya tidak ingat apa alasan egois tiap orang yang ditanyai pada saat itu, tapi alasan saya sendiri adalah ingin bertemu teman-teman baru. NETPAC (Network for the Promotion of Asian Cinema), sebagaimana diutarakan dalam namanya, adalah wahana bagi orang-orang untuk berjumpa sebelum hadirnya Facebook. Tapi jelas lebih baik daripada Facebook. Cara ini memang tidak seinstan dan secepat Facebook, namun nyatanya bisa langgeng selama bertahun-tahun.

Saya ingat, tidak ada seorang pun yang tahu tentang penghargaan NETPAC sewaktu pertama kali dianugerahkan di Berlin tahun 1994. Penghargaan itu dianggap sebagai hadiah hiburan bagi mereka yang tidak memenangkan penghargaan lain yang lebih besar. Kemudian, seiring penghargaan ini tumbuh makin luas dan diberikan di banyak festival, penghargaan NETPAC mulai dicantumkan dalam poster-poster film pemenangnya. Itulah jejak pertama yang menandakan bahwa penghargaan tersebut mulai diapresiasi. Penghargaan yang diberikan di masa-masa awal itu dapat ditengok di museum film di Iran.

Meski demikian, mengumandangkan suara dari Asia adalah tugas berat yang dijalani selama beberapa tahun terakhir ini. Tiap kali ada suara yang terdengar, suara itu cenderung sirna pula. Contohnya, setelah mempromosikan dan memantapkan posisi gelombang perfilman Asia Tenggara menjelang akhir 1990an, kita kehilangan gelombang itu di awal abad berikutnya ketika para sutradara dan produser beramai-ramai menyerahkan hak distribusi film mereka pada perusahaan Barat. Dengan demikian, bukan saja festival-festival Asia harus merogoh kocek yang dalam demi menayangkan film mereka, sering kali pula bahkan para pemilik film itu tidak punya hak untuk menentukan di mana film itu harus diputar. Mungkin saja itu terdengar seperti kita pandai dan menyadari kekuatan suara kita. Namun alih-alih demikian, kita makin tidak punya kendali atas kemampuan kita sendiri.

Mungkin itulah mengapa pertemanan adalah hal yang teramat penting. Garin Nugroho, sutradara Indonesia, ialah salah seorang penerima penghargaan NETPAC awal, dan saat itu kami tidak langsung dapat menyadari mengapa Garin adalah orang yang tepat. Tahun 2006, Garin mengutarakan keinginannya untuk menginisiasi sebuah festival film di kampung halamannya, Yogyakarta. Kami menawarkan kemitraan untuk menyelenggarakan festival film yang didedikasikan untuk Asia. Maka, lahirlah Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Perhelatan ini merayakan penyelenggaraan yang ke-10 pada tahun 2015.

Saya dan Vasudev pernah menjadi pembicara dalam sebuah panel sebagai perwakilan NETPAC pada Eurasia International Film Festival di Kazakhstan. Forum itu dimoderatori oleh Gulnara Abikeyeva. Beberapa tahun kemudian, kami berjumpa lagi dengan Abikeyeva di Cannes. Kami saling berpandangan, lalu berkata, “Lho, kita kan saling kenal!” Momen menghidupkan kembali pertemanan itulah yang menuntun kami pada peluncuran penghargaan NETPAC di Kazhakstan. Suara kami bersama terus menjadi bahan bakar untuk kerja-kerja ini.

Pada usia NETPAC yang ke-25 (pada tahun 2015), banyak wajah, baik yang lama maupun baru, berseliweran di benak saya: mulai dari Teddie Co (Filipina)—seorang kritikus bohemian sejati, Mohammad Atebbai (Iran)—kritikus merangkap agen penjualan film, Ashley Ratnavibhushana (Sri Lanka)—sineas yang menjelma kritikus dan mendirikan Asian Film Centre for NETPAC pertama, Nakorn Veerapravati (Thailand— kepala Bangkok Film Critics Assembly yang juga menjabat sebagai presiden di klub penggemar Elvis Presley bagian Thailand, hingga Teo Swee Leng (Singapura) —yang mengelola administrasi NETPAC setelah markas terus-menerus berpindah ke Filipina (1994), Singapura (1998), Korea (2002), hingga kini di Sri Lanka (2006). Namun, mereka yang muda juga mulai mengisyaratkan suara-suara baru, seperti Oggs Cruz (Filipina)—seorang pengacara yang bekerja sambilan sebagai kritikus blog, dan Meiske Taurisia (Indonesia)—produser yang memimpikan distribusi film-film Asia. Banyak pula teman-teman dari Barat yang bergabung, misalnya Max Tessier (Prancis)—kritikus yang akhirnya melabuhkan hatinya di Manila, Martial Knaebel (Swiss)—mantan direktur Fribourg International Film Festival yang memboyong kekasih Filipina-nya pulang ke Alpen, dan Nick Palevsky (AS)—seorang jurnalis yang telah berkelana keliling Asia selama beberapa puluh tahun.

Pada perhelatan 17th Hawaii International Film Festival (1997), Hereniko bilang pada saya bahwa ia akan menyerahkan festival tersebut ke tangan direktur yang baru. Ia mengaku, itu adalah keputusan yang menyiksa, rasanya seperti ditinggalkan oleh anak yang telah dibesarkan selama ini. Buat saya, momen ini seperti memori dalam film. Kami tengah duduk di dekat sebuah pantai terpencil di Waikiki. Dalam dua hari ke depan, ia harus mengumumkan keputusan tersebut pada Upacara Penutupan Penghargaan. Saya bisa turut merasakan kepedihannya dan emosinya yang campur aduk. Ada nada bimbang dalam keputusan tersebut. Saya tidak menyadari bahwa dalam waktu 10 tahun kemudian, saya juga harus melewati kepedihan yang sama. Kini, setelah NETPAC berjalan selama 25 tahun, saya merasa kita sedang berada di persimpangan. Segala emosi itu kembali meluap, begitu pula dengan kenangan akan teman-teman baik yang berjuang menjadi garda depan sinema Asia.

Philip Cheah

Festival Curator