MESSAGE FROM FESTIVAL DIRECTOR
PHILIP CHEAH

Our Turn Just Came Late…

By Philip Cheah
Festival Curator

All Asian film critics were faced with one common question this year – did Bong Joon Ho’s Parasite deserve all those Academy Awards? My non-committal reply was “Let’s put it this way. Asian cinema deserved to win several times over since the Oscars began but OUR turn just came LATE.” I mean, think about it. A film by Edward Yang, Satyajit Ray or Akira Kurosawa could have easily won Best Picture had the gates been open back then.

But it was a long time coming to this day when the China box office is giving Hollywood a scare by being the second largest globally for several years already. Also, the timing of this award also speaks volumes. It’s NOT that Asian cinema is ready to win this award now. We were ready a long time ago! It’s just that the global markets now want Asia more than ever. And the reason is a virtual one. Ever since online streaming overturned the box office paradigm, markets now see the potential of owning and controlling Asian content more than ever. Is it any wonder then that it’s relatively easier now to find production money, to make the film that you have been dreaming of, but to lose your rights over it, after the work is done? That used to be the kind of contracts that rock musicians had since the 50s till a decade ago when the CD market crashed. It was called work-for-hire contracts. You work, get paid but no royalties for you. Every major artiste from The Eagles, Bruce Springsteen, Billy Joel to Bob Dylan had this deal. They were so angry that Don Henley of the Eagles formed the Recording Artists Coalition to protect their copyright AGAINST the corporation’s copyrights. The problem is now repeating itself in the online movie business.

We saw the potential of Asia ever since the Jogja-NETPAC Asian film festival (JAFF) began in 2006. That’s why we chose not to be an international film festival. We felt back then that the Asian content was so rich and varied but it wasn’t exposed well. More types of Asian cinema had to be seen by our audience.

This is now JAFF’s 15th year but I still feel unsatisfied after each year of the festival. Yes, we are successful in a certain way. We have grown the audience. We have built a solid following for Indonesian film. We have rallied Indonesian filmmakers to have JAFF as a launching platform for their work. But we haven’t accomplished the task of being an Asian festival. The audience is still not curious enough about Asian film. They are not experimenting more. Yet we have continued to expand the Asian geography from Palestine with the Michel Khleifi retrospective to a Focus on Kyrgyzstan (in 6th JAFF, 2011). This resulted in a NETPAC Ex Aequo award for Bekzat Pirmatov’s Aurora at last year’s JAFF, a film that signals the new generation of Kyrgyz cinema. We consistently focused on Korean film from the 8th JAFF (2013), Japanese cinema since the 9th JAFF (2014) and Chinese movies since 13th JAFF (2018), plus even a Bengali film sidebar last year.

To be brave and bold this year, forget about the critics, don’t believe the hype and the film trends. Follow your own muse, your personal instinct and most of all, your curiosity. Read the film synopses. Find subjects that you want to know more about. The whole wide world isn’t just on the web. It was always there in the cinema. Even that trip to the moon…

Kesempatan Kita Hanya Datang Terlambat

Oleh Philip Cheah
Kurator Festival

Para kritikus film Asia dihadapkan oleh satu pertanyaan yang sama tahun ini – apakah Parasite arahan Bong Joon Ho benar-benar pantas meraih penghargaan Academy Awards? Sekenanya, saya menjawab pertanyaan tersebut dengan: “Semua film Asia layak untuk meraih penghargaan semenjak gelaran Oscar dimulai. Kemenangan kita bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai, hanya saja kesempatan tersebut datang terlambat.” Jikalau gerbang untuk sinema Asia telah dibuka sejak dahulu, film-film Edward Yang, Satyajit Ray, atau Akira Kurosawa bisa saja menyabet Best Picture dengan mudah.

Sebetulnya sudah lama terlihat potensi dari sinema Asia dalam menggebrak pasar internasional—salah satu buktinya adalah China yang sempat membuat takut Hollywood karena sukses menjadi box office terbesar kedua selama beberapa tahun. Pencapaian Bong Joon Ho bukan menunjukkan perbedaan kualitas film Asia—karena kita sudah cukup mumpuni dalam hal tersebut—namun menunjukkan ketertarikan pasar global akan sinema Asia yang mulai memberikan ruang terhadap hal tersebut. Pencapaian Bong Joon Ho dengan Parasite-nya hanya semakin membuktikan bahwa kita sudah layak dan siap untuk menerima penghargaan bergengsi sejak lama. Selain itu, salah satu katalis dari perubahan ini adalah dengan semakin maraknya online streaming yang mengalahkan pamor box office. Pasar sinema melihat adanya kesempatan untuk memiliki dan mengontrol produksi konten Asia lebih dari sebelumnya. Sudah tidak mengagetkan jika sekarang para sineas semakin mudah untuk mendapatkan uang produksi—untuk membuat film yang mereka impi-impikan, namun dengan konsekuensi kehilangan hak cipta atas karya setelah ditayangkan. Lebih dikenal dengan work-for-hire contract, kontrak seperti itu sering digunakan dalam perjanjian musisi rock dari tahun 50-an sampai dekade lalu ketika penjualan kaset CD menurun drastis. Intinya adalah: kamu mendapatkan bayaran, bukan royalti. Semua artis termasyhur seperti the Eagles, Bruce Springsteen, Billy Joel, sampai Bob Dylan mengalami kontrak ini. Mereka—pemberi kontrak—sempat sangat marah saat Don Henley dari The Eagles mendirikan Recording Artists Coalition untuk melindungi hak cipta musisi dari hak cipta korporasi. Sayangnya, masalah yang sama kini terjadi di bisnis film online.

Kami melihat potensi besar sinema Asia semenjak Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) didirikan di tahun 2006. Inilah alasan mengapa kami memutuskan untuk tidak menjadi sebuah festival film internasional. Kami merasa bahwa banyak dari konten film Asia yang sangat kaya dan bervariasi, namun sayangnya tak terekspos dengan baik. Oleh karena itu, JAFF hadir sebagai medium agar semakin banyak film Asia yang dapat diekspos kepada masyarakat luas.

Meskipun sudah memasuki tahun yang ke-15, saya masih merasa kurang puas dengan JAFF setiap tahunnya. Memang, JAFF terbilang sukses di beberapa aspek; JAFF telah membangun audiens yang cukup besar, telah memiliki banyak koleksi film Indonesia, serta telah mendorong sineas Indonesia untuk menjadikan JAFF sebagai medium dari karya mereka. Namun, JAFF belum sukses dalam memenuhi amanahnya sebagai festival film Asia. Audiens JAFF masih belum cukup penasaran dan bereksperimen dengan film Asia. Meskipun demikian, di tiap tahunnya, JAFF berusaha agar semakin melebarkan sayap dan mengekspos sisi Asia yang belum terjamah. Salah satu buktinya adalah sorotan terhadap Palestina dengan Michel Khleifi dan karyanya “Focus on Kirgistan” di JAFF ke-6 tahun 2011. Dobrakkan ini memungkinkan Aurora karya Bekzat Pirmatov menyabet penghargaan NETPAC Ex Aequo di JAFF tahun lalu; sebuah film yang memberikan tanda dari generasi baru sinema Kirgistan. JAFF juga secara konsisten memberi fokus kepada sinema Korea semenjak JAFF ke-8 di tahun 2013, sinema Jepang semenjak JAFF ke-9 di tahun 2014, serta menyorot sinema Bengali semenjak pelaksanaan tahun lalu.

JAFF tahun ini mengharapkan sosok audiens dan sineas yang semakin berani. Lupakan kritikus—jangan percaya dengan hype dan tren sesaat yang pergi secepat ia tiba. Percayakan proses kreatif pada muse-mu, instingmu, dan yang terpenting, rasa keingintahuan yang bersemayam dalam dirimu. Bacalah semua sinopsis film yang tersedia. Temukan topik yang ingin kamu cari tahu lebih mendalam. Kamu akan menyadari bahwa semesta dan isinya tak terbatas hanya pada layar HP dan internet. Niscaya, perjalanan ke bulan pun…

© 2020 Jogja-NETPAC Asian Film Festival. All Rights Reserved.