Hari Rabu (6/12/17) merupakan hari terakhir dari penayangan Taiwan Docs, sebuah subprogram dari Asian Docs yang mengangkat sebuah wilayah yang masih berada dalam persembunyian karena masih belum diakui sebagai negara oleh dunia Internasional.  Sama halnya dengan pembuat film dokumenter yang sering kali bersembunyi untuk mengungkap fakta namun kurang diakui oleh khalayak karena kejujurannya; dua karakter yang pas untuk bertemu dengan satu sama lain.

Gertjan Zuilhof, seorang programmer dan kurator film ternama yang fokus pada perfilman Asia Tenggara dalam sepuluh tahun terakhir, memilih tiga film terbaik untuk Taiwan Docs pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-12 kali ini. Ketiga film tersebut telah disajikan kepada para penikmat dokumenter Asia terutama Taiwan. Dimulai dari Realm of Reverberations tentang kehidupan pedih di Losheng Sanatorium pada masa lalu yang berdampak jadi kenangan yang tidak terlupa, Blood Amber tentang sekelompok orang di Birma yang bekerja sebagai pencari batu ambar, satu-satunya harapan hidup mereka di tengah kacaunya perang, dan ditutup dengan Small Talk yang berisi pertanyaan-pertanyaan sederhana seorang anak kepada ibunya yang tidak pernah terjawab.

“Keterbukaan dalam dokumenter menjadi suatu hal yang penting di setiap negara, misalnya seperti Taiwan, untuk mengatasi perbedaan yang terjadi tanpa menutupi diri,” jelas Gertjan Zuilhof. Ia juga berterima kasih kepada mereka yang telah menonton film-film dalam Taiwan Docs dan menyebut bahwa mereka yang menikmati dokumenter adalah orang-orang terpilih yang mau melihat kenyataan sehingga dapat belajar banyak hal karenanya.

Layar pun mati, pertanda film Small Talk dimulai. Film ini terpilih menjadi perwakilan Taiwan untuk ajang Oscar Academy Awards. Berkisah tentang seorang ibu yang tidak pernah menceritakan kisah hidupnya secara jujur kepada anaknya. Tentang kehidupannya sebagai lesbian, tentang masa kanak-kanaknya, tentang sebuah perasaan yang sebenarnya kepada anaknya–yang juga merupakan sutradara dari dokumenter ini. Hui-Chen Huang membuka hal yang bersifat pribadi dari keluarganya kepada penonton dalam sebuah film dokumenter. Keberanian untuk juga membuka isu-isu sensitif mengenai ibunya dan dirinya sendiri ini memberikan sebuah gambaran bahwa Taiwan sudah lebih terbuka dengan hal-hal seperti itu.

Tanggapan dingin dari keluarga ibu Hui-Chen Huang, tawa riang seorang anak yang polos dan belum mengetahui dengan benar jati diri neneknya, hingga percakapan di sebuah meja makan yang intim antara Hui-Chen Huang dengan ibunya membuat para penonton terbuai oleh emosi yang bercampur aduk. Seperti  yang diungapkan Isti setelah menonton film ini. “Butuh keberanian untuk membuat film semacam ini, saya sangat heran apabila masih ada orang yang tidak tersentuh melihat film ini, sentuhannya sangat hangat dan personal,” jelasnya yang juga ingin film-film dokumenter di JAFF diperbanyak kembali supaya film tidak hanya bersifat hiburan tetapi juga membuat manusia tidak berlari dari kenyataan.

 

Titus Kurdho