Meluangkan waktu libur dengan berpergian ke suatu tempat yang menenangkan jiwa seringkali menjadi  pilihan manusia untuk sejenak menjauh dari hiruk pikuk kehidupan. Rindangnya tetumbuhan dan gemericik air sungai mengiringi sosok wanita muda sebagai karakter utama dalam proses pencarian jawaban tentang eksistensi dirinya. Begitulah premis film yang dipilih, sebuah restoran pinggir sungai pun menjadi latar tempat dari A Million Years (Muoy Lean Chhnam). Film berdurasi lebih dari 20 menit ini diisi dengan percakapan antara wanita muda dengan teman lelakinya tentang masa lalu, masa kini, kemudian merembet masa depan  sembari mengamati tenangnya pinggiran sungai. Setiap pertanyaan wanita muda itu tampak disertai dengan rasa penasaran yang mendalam. 

Debut karya film pendek kontemporer dari sutradara muda asal Kamboja, Danech San ini menjadi bagian dari Echoes from Tomorrow Project yang didanai oleh crowdfunding. Lebih dari 300 orang turut menyumbang untuk kelancaran produksi. Bentuk sinema arthouse begitu kentara terasa pada film ini. Segi semiotik yang dicoba untuk ditonjolkan dengan konteks narasi negeri Kamboja menjadi salah satu hal yang menarik. Perspektif masing-masing penonton akan berperan penting dalam memaknai setiap potongan adegan. Makna ini akan lebih dikuatkan karena disertai dengan shot-shotnya yang tenang dan kalem, penuh kedamaian.

Seperti dalam perjalanan relaksasi jiwanya si wanita muda yang kemudian bertemu dengan sosok asing yang tidak ia perkirakan sebelumnya. Sosok asing itu mencoba menjawab salah satu ketakutan terbesar dari wanita muda dengan representasi sejarah, alam, serta terjadinya sentuhan dengan kencangnya laju modernisasi. Film ini akan memberikan dampak yang berbeda pada penikmatnya tentang bagaimana proses memaknai sebuah jawaban dalam ketenangan waktu. 

A Million Years dapat disaksikan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’ dalam program Light of Asia.

 

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis