MANY UNDULATING THINGS

ASIAN PERSPECTIVES

(FEATURES)

DIRECTED BY BO WANG, PAN LU

126 Minutes | Hybrid | DCP | Colour | o.v. English, Chinese, Cantonese | sub. English | Hong Kong, US, 2019

SCHEDULE

20 NOV | WED |  10:10 | Studio 4

SYNOPSIS

Native plants, colonial air, botanic empire, segragation, entrepôt, steel-and-glass, shopping malls, memories, laissez-faire, ghost houses, speculation…. many undulating things.

Focusing on Hong Kong, a former British colony and now a Special Administration Region in China, the film offers an intriguing showcase for a theme relevant to many other places around the world. The concept of film can also well echo with thoughts in Japanese philosopher Watsuji Tetsurō’s book Fūdo (namely “wind and earth”), or Climate and Culture, in which history is conceived as a spatial, rather than a temporal, concept.

Each of the four chapters of the film takes one natural element as its main theme. “Water demon” traces how water becomes literal and metaphorical medium that carries flows of human, goods, capital and fantasy. “Night air” divulges influences of early colonialism and imperial expansion on theories of epidemic disease, acclimation policy and botanic gardens from a racial point of view, which later determined the social and spatial stratification of Hong Kong today. “Ferro-Vitreous” is dedicated to the history of modern commercial space and its earlier roots in pancontinental transportation of botany. “Land” unfolds a panoramic picture of uneven spatial distribution under rampant capitalism by getting inside the spatial logic of shopping malls, cage home, and ghost-house like speculated space.

Visually, the film coalesces images of various sources and from different times. One can see present-day city landscapes, tourists and dwellers, mega-shopping malls, cargo piers, gardens and parks, streets, cage homes and public housing; one can also see found footages, artworks and photography. The film tries to divulge invisible connections between the present urban space which capitalism has continuously been naturalizing and their pre-life, contextualizing them in a larger backdrop of colonialism, modern scientific research, idea of race, industrialization, hygienic modernity and the Cold War. Unlike traditional documentary that traces the causal and chronological relations between historical facts and current status, the film wanders in time, space and their real and symbolic residues.

In terms of sound design, the artists use a male voice which guides us all through the film to play multiple roles: sometimes he is an observer wandering in the city with his monologue, sometimes he is a calm narrator. Following his voice, they hope to blur the boundary between the inside and the outside, the subjective and the objective, the documentary and the poetic, the intimate and the distant. In the meantime, other interviewees provide the audience with more “professional” narrative of the film’s background–a luxurious condo saleswoman introduces the symbolism of water in the design of the house, and an urban historian explains land segregation in Hong Kong’s early colonial years.

Tanaman pribumi, udara kolonial, kerajaan botani, segregasi, entrepôt, baja dan kaca, pusat perbelanjaan, kenangan, laissez-faire, rumah-rumah hantu, penanaman investasi…. hal-hal bergelombang. 

Berfokus pada Hong Kong, bekas koloni Inggris dan kini sebuah Daerah Administrasi Khusus di Tiongkok, film ini menawarkan sebuah wadah bagi sebuah tema yang relevan bagi banyak tempat lain di seluruh dunia. Konsep dari film ini banyak menggaungkan pemikiran yang tertuang dalam buku Fūdo (alias “wind and earth”), atau Iklim dan Budaya karya filsuf Jepang Watsuji Tetsuro, di mana sejarah dipahami sebagai sebuah konsep spasial, bukan temporal.

Masing-masing dari keempat bab dari film mengambil sebuah elemen alam sebagai temanya. “Iblis Air” membahas bagaimana air menjadi medium literal dan metaforis yang membawa aliran manusia, benda, harta, dan fantasi. “Angin malam” menggambarkan pengaruh awal kolonialisme dan ekspansi imperial pada teori-teori tentang wabah penyakit, kebijakan aklimasi, dan taman-taman botani dari sudut pandang ras, yang kemudian menentukan stratifikasi sosial dan spasial Hong Kong hari ini. “Ferro-Vitreous” didedikasikan pada sejarah ruang komersial modern dan bentuk sebelumnya pada transportasi pan-continental botani. “Tanah” membuka sebuah gambar panoramik distribusi spasial yang tidak merata di bawah kapitalisme yang merajalela dengan masuk ke dalam logika spasial dari pusat perbelanjaan, apartemen sempit, dan bangunan investasi yang bagaikan rumah hantu.

Secara visual, film ini memadukan gambar-gambar dari berbagai sumber, serta waktu yang berbeda.  Seseorang dapat melihat lanskap kota masa kini, para turis dan penghuni, pusat perbelanjaan besar, dermaga kargo, kebun dan taman, jalanan, apartemen sempit, dan perumahan umum; juga dapat disaksikan rekaman, karya seni, dan foto temuan. Film ini mencoba mengungkap koneksi kasat mata antara ruang urban masa kini yang secara terus-menerus dinaturalisasi kapitalisme dan masa pra-kehidupannya, Mengkontekstualisasikannya dalam latar kolonialisme yang lebih besar, penelitian ilmiah modern, gagasan mengenai ras, industrialisasi, modernitas higienis, dan perang dingin. Berbeda dengan dokumenter tradisional yang merunut hubungan kausal dan kronologis antara fakta historis dan keadaan kekinian, film ini mengembara dalam waktu, ruang dan residu simbolis dan nyata mereka.

 

Dalam hal desain suara, para seniman menggunakan suara laki-laki yang membimbing penonton sepanjang film dan memainkan beberapa peran: di suatu saat ia menjadi pengamat yang berkelana di dalam kota  dengan monolognya, dan suatu saat yang lain ia adalah seorang narator yang tenang. Dengan suara sebagai guide, para pembuat film berharap dapat mengaburkan yang dalam dan yang luar, yang subyektif dan yang obyektif, dokumenter dan poetik, serta yang intim dan yang jauh. Sementara itu, orang-orang lain yang diwawancarai memberikan naratif latar dari film yang lebih “profesional” kepada audien – seorang agen penjualan wanita dari sebuah kondominium mewah memperkenalkan simbolisme air dalam desain rumah, dan seorang sejarawan perkotaan menjelaskan pemisahan tanah pada tahun-tahun awal kolonial Hong Kong.

 

WATCH TRAILER

DIRECTOR’S FILMOGRAPHY

BO WANG

(CHINA, 1982) 

PAN LU

(CHINA, 1981)

 

2019

MANY UNDULATING THINGS 

– Official Burning Lights International Competition selection, 2019 Visions du Reel Int’l Film Festival Nyon, Swizerland  

– Nominee, Open City Award, 2019 Open City Documentary Festival, London, UK

– Official Asian Competition selection, 2019 DMZ International Documentary Film Festival, South Korea 

2016

TRACES OF AN INVISIBLE CITY : THREE NOTES ON HONG KONG 

 

Production Company

BOC Features LLC

 

Contact:

BOC Features LLC : bocfeatures@gmail.com

Kyungmi Kim : kyungmi007@gmail.com