Undulating, kala menerjemahkan arti kata ini akan ditemukan ombak. Rising and falling like waves; resembling wave form or motion; undulatory; rolling; wavy; as undulating medium; undulating ground like waves, begitu menurut sumber teratas pada platform mesin pencari. Melalui dokumenter berdurasi 125 menit ini, ombak menjadi medium utama untuk menjelaskan Hongkong kepada dunia. Pada awalnya berupa air tenang lalu bisa bergolak karena adanya energi entah berupa angin atau gravitasi. Gelombang ini bisa bersifat menenangkan, menghanyutkan, hingga memporakporandakan apapun. Luasnya samudra bisa membuat ombak besar dan kuat. Begitu pun segelas air bisa membuat gelombang ombak kecil karena sedikit guncangan saja. Segelas air menghidupkan seorang manusia, seluas samudra menggerakan masyarakatnya.

Bo Wang dan Pan Lu memetaforakan Hongkong secara apa adanya berdasarkan riset jangka panjang mereka menjadi Many Undulating Things. Pada tahun 2016 lalu mereka juga membuat film Three notes on Hongkong mengenai perkembangan ruang publik di Hongkong. Sekitar 3 4 tahun terakhir semua karya mereka mengangkat berbagai isu tentang Hongkong. Dari mulai film pendek, tulisan esai mereka, festival yang mereka adakan atau dukung, hingga film Many Undulating Things ini. Karya eksperimental yang begitu ambisius. Pergerakan terus menerus tidak semua harus turun ke jalan tetapi bisa dalam layar.

Aktivitas bisnis mengisi sebagian besar segmen awal. Sektor pariwisata dan perdagangan Hongkong dipertunjukkan dengan megahnya. Orang-orang lalu lalang bekerja, wisatawan berlibur, cargo-cargo dikirim dengan kapal-kapal besarnya. Hiruk pikuk perekonomian menjadi nafas utama bergeraknya Hongkong dalam pusaran ombak berkelanjutan tanpa henti. Apabila masih ingat dengan jalur naga menembus celah hotel, apartemen, atau gedung pencakar langit. Jika belum tahu, film ini juga sedikit membahas tentang sosok naga air misterius tersebut.

Budaya saat ini dapat dinikmati semua warga. Pada sejarahnya budaya tidak langsung seperti itu. Penempatan kelas, kuatnya suatu supremasi berpengaruh besar terhadap dominannya suatu budaya. Ini tentu juga terjadi di Hongkong. Pada masa kolonial di bawah pemerintahan Kerajaan Inggris hingga saat ini diatur administratifnya oleh China. Unsur pop culture diselipkan untuk menanamkan dasar problematika Hongkong seturut perkembangan zaman, menarik untuk dijadikan refleksi. Perbandingan arsitektur botani skala besar dan kecil dulu dan kini ditampilkan, entah itu tujuannya untuk bercerita saja atau semacam kritik terselubung, penonton bisa memilih itu.  Motif permasalahan Hongkong akan tampak berbeda, namun ada satu garis lurus tidak terputus, terus tersambung, terus menerus menggempur pantai bagai ombak. Pola mirip ini bisa disimak oleh penonton ketika mencoba menangkap pesan dokumenter yang kaya ini.

Kehidupan sosial yang beraneka ragam di Hongkong dengan sentilan-sentilan percakapan mengundang tawa bisa dijumpai dalam Many Undulating Things. Varian masyarakatnya, aneka bahasanya, sampai jenis makanan yang ada menjadi semacam bumbu penambah cita rasa Many Undulating Things. Laju hidup masyarakat urban terhimpit perkembangan kebijakan dihadirkan dengan disertai wawancara kepada para korbannya. Geliat manusia yang hidup pun segan, mati pun segan. Demonstrasi tanpa henti di Hongkong yang diamati seluruh dunia sepanjang tahun 2019 menjadi beralasan apabila menyimak dokumenter ini. Seperti ombak besar, apabila dimanfaatkan dengan benar bisa memberikan daya hidup tetapi juga dapat menggulung siapapun yang tenggelam dalam jalurnya. Many Undulating Things dapat ditonton di perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2019 pada program Asian Perspectives-Features.

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis