Seperti Sepi yang Paling Sepi (The Quiet Silence)

Erlangga Fauzan /22 minutes/2016/Indonesian/Fiction

SHOWTIMES:

Layar Komunitas 2

02 Desember 2016, 14:15 WIB
Ruang Audio Visual, Grhatama Pustaka

Synopsis

Bustoni adalah seorang pekerja seni pertunjukan. Dia tinggal bersama ibunya yang sakit. Pada suatu waktu, dia pergi ke sebuah tempat pencurahan hati. Ia pergi ke tempat itu khusus untuk ibunya. Di tempat itu ia mempertanyakan kehidupan perempuan di akhirat. Apa yang dilakukannya ternyata tidak memuaskan hati. Bustoni menjadi sedih sepulang dari tempat tersebut. Dia merasa tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah kondisi keluarganya.

Bustoni is a performing arts worker who lives with his sick mother. One day, he goes to a quiet place in order to do a meditation for his mother. He begins to question how a woman will be in the afterlife. It turns out that everything he has done cannot satisfy him. Bustoni gets upset then heads back home. He is fainted and can do nothing to change his family’s condition.

Trailer

Director

Aku bernama Erlangga Fauzan, lahir pada tanggal 19 Desember 1990 di Klaten, Jawa Tengah. Aku sedang menempuh kuliah di Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta. Pertama kali mengenal seni pada saat duduk di bangku SMP, yaitu seni peran, yang lalu dilanjutkan dengan bergabung dalam teater Emwe SMAN 6 Yogyakarta. Bermula dari ketertarikan lain pada sastra, aku bersama kawan-kawan di Kampus Media Rekam membentuk sebuah ruang berbasis sastra bernama Berkaca Kata. Saat ini aku sedang fokus membangun sebuah rumah produksi yang bertujuan untuk membuat film sesuai dengan gagasan ideal si pembuat. Juga sedang merancang proyek-proyek berkesinambungan mengenai dunia film, khususnya kerja-kerja pengarsipan.

My name is Erlangga Fauzan, born on 19 December 1990 in Klaten, Central Java. I am currently studying at Television Department, the Faculty of ..., ISI Yogyakarta. I knew arts for the first time when I was in junior high school; it was acting, later deepened in a theatrical club, Emwe SMAN 6 Yogyakarta. Starting from another interest in literature, my friends and I formed a literature club named Berkaca Kata in the campus. Recently, I focus on establishing a production house which aims to produce films based on the ideal of the creators. I am also designing projects incessantly related to films, especially archival works.