Halmahera: Pongana mo Nyawa

Udaya Pusthikaswasti/3 minutes/2016/Indonesian/Animation

SHOWTIMES:

Layar Komunitas 1

01 Desember 2016, 14:15 WIB
Ruang Audio Visual, Grhatama Pustaka

Synopsis

Nuhu, roh penjaga Suku Togutil, khawatir dengan kondisi sukunya yang kian memburuk. Hal tersebut turut berdampak pada kondisi tubuhnya yang kian mengurus seiring dengan berkurangnya jumlah warga suku. Kekhawatirannya ini kemudian mempertemukan ia dengan roh penjaga Suku Moro, Narwastu, yang berwujud burung bidadari. Sebagai roh penjaga suku gaib yang telah punah dan disegani oleh masyarakat sekitar, Narwastu mempertemukan Nuhu dengan penyebab dari masalah yang ada.

Nuhu, Togutil Tribe’s guardian spirit, is worried about the worsening condition of his tribe. His anxiety affects his body, making it thinner and thinner as the number of the tribesmen dwindles. He then meets Narwastu, a Bidadari bird shaped guardian spirit from Moro Tribe. As the guardian spirit of an extinct magical tribe respected by the locals, Narwastu shows Nuhu the root of all problems.

Trailer

Director

Udaya Pusthikaswasti merupakan Sarjana Desain lulusan Universitas Multimedia Nusantara. Halmahera: Pongana mo Nyawa merupakan proyek tugas akhir berbentuk trailer animasi. Film ini mengangkat Suku Togutil di Halmahera yang kini terancam punah akibat rusaknya hutan. Kerusakan hutan yang semakin buruk akibat pertambangan nikel tidak hanya mengancam keberadaan suku asli di Halmahera, tetapi juga flora serta fauna endemik seperti burung bidadari. Film ini bertujuan untuk memperlihatkan sebuah ironi: suku primitif dipercaya sebagai penjaga hutan, namun kaum kapitalis yang katanya terdidik justru datang untuk merusak hutan.

Udaya Pusthikaswasti is a Bachelor of Design graduated from Multimedia Nusantara University. Halmahera: Pongana mo Nyawa is his final project presented as an animation trailer. It tells about Togutil Tribe in Halmahera which is about to go extinct due to forest damage. The escalating forest damage caused by nickel mine threatens not only the existence of Halmahera’s indigenous tribe but also its endemic flora and fauna like Bidadari bird (Semioptera wallacii). This film aims to show the irony where a primitive tribe is trusted as the forest keeper, while the educated capitalists come to ravage the forest.