LAYAR KOMUNITAS

PROGRAM'S NOTE: LAYAR KOMUNITAS

THE CULT OF FESTIVAL

 

“Festival is our target, International would be better,” said a producer or investor to Azzam, a filmmaker who is the main character in BBBBB. In the next scene, with two of his friends, Azzam is pondering why he is guided to make a film which, if borrowed Azzam’s friend terms, ‘artsy’ or ‘festival-ish’, whereas he wants to make his own desired film.

The scenes are interesting. To some extent, the passages are relevant to some of the filmmakers, so-called, alternative in Indonesia, both community-based or not. For some filmmakers, the festival is often being a benchmark for their work. Directly or not, the festival formulates ‘standard’ of good quality or at least interesting. These standards are created by curated, screened, or even award-winning films at the festival which has competition programs.

That pattern allows the emergence of artsy or festival-ish film discourse that mentioned in BBBBB. The discourse more or less steers the perspective and choice – taste is not included – of some filmmakers to create their work in form and idea based on the ‘festival standard’ they perceive. Through the name of freedom, ‘originality’, diversity, and other ideals or whatsoever, it is permissible to assume those biases as an issue.

Therefore, by identifying Indonesian short films that have been produced recently, that tendency that attempted to be localized into an issue, is put as a reference in Layar Komunitas this year. Suited with its name since it was held for the first time, most of this program’s attendees are from community-based film enthusiasts, which is integrated to Forum Komunitas (Community Forum) program. So far, ‘festival-ish’ film discourse is planted within these communities.

Three screening sessions in the program attempt to present films in different spectrums, both ideas (issue, perspective, statement) and narrative delivery. From public-friendly subjects to private concerns, or both of them combined. From recent issues or past issues and related to these days.

Without diminishing appreciation to intellectuality, vision, works, and also the responsibility of all film festival’s organizers, especially in Indonesia, this program is a suggestion and self-criticism: the festival is not necessary to be seen as the most excellent and credible in judging a film. It is not necessary for, the what-so-called, alternative filmmaker to make their films based on ‘festival standard’ they perceive. A trend to worship the festival’s judgment is best to get rid of.

Thus, hopefully, a lot of truthful filmmakers who believe in ideas, insecurities and also signature touch. Although a suggestion and hope are other than the result. A discussion has to be nurtured. Please enjoy watching and exchanging ideas and feelings.

Theo Maulana

CATATAN PROGRAM: LAYAR KOMUNITAS

KULTUS FESTIVAL

 

“Target kita adalah festival, kalau bisa yang internasional,” kata seorang produser atau investor kepada Azzam, pembuat film yang menjadi tokoh utama dalam film BBBBB. Pada adegan selanjutnya, dengan dua temannya, Azzam mempertanyakan kenapa ia diarahkan membuat film yang, meminjam kata-kata teman Azzam, “artsy” atau “festival banget”, padahal ia ingin bikin film semau-maunya.

Dua penggal adegan itu menarik. Sebab, dalam porsi tertentu, bagian itu punya relevansi dengan sejumlah pembuat film, sebutlah, alternatif di Indonesia, baik yang berbasis komunitas atau tidak. Bagi sebagian pembuat film, festival seringkali menjadi target capaian apresiasi bagi karyanya. Dan festival, secara langsung atau tidak, membentuk “standar” mengenai film yang bermutu, atau baik, atau setidaknya menarik. “Standar” ini salah satunya terbentuk melalui film-film yang dipilih, diputar, terlebih dimenangkan; berlaku pada festival yang memiliki program kompetisi.

Pola itu yang memungkinkan munculnya wacana tentang film artsy atau festival banget sebagaimana disitir dalam film BBBBB. Dan wacana tersebut, sedikit-banyak mengarahkan pandangan dan pilihan—bukan berarti termasuk selera, lho, ya—sejumlah pembuat film untuk membuat karya dalam rupa serta gagasan sesuai “standar festival” yang mereka persepsikan. Di hadapan nama kebebasan, “orisinalitas”, keragaman, dan idealitas-idealitas lain semacamnya, bolehlah jika kecenderungan itu dianggap sebagai sebuah persoalan.

Maka, dengan bekal pembacaan terhadap karya-karya film pendek Indonesia yang diproduksi baru-baru ini, kecenderungan yang coba dilokalisir menjadi sebuah persoalan itu akhirnya diletakkan sebagai acuan program Layar Komunitas tahun ini. Sesuai namanya, sejak pertama kali diadakan, sebagian besar audiens program ini ialah pegiat film berbasis komunitas, salah satunya karena terintegrasi dengan program Forum Komunitas. Dan, sejauh yang teramati, wacana tentang film yang “festival banget” cukup kental mengendap di kelompok-kelompok ini.

Tiga sesi pemutaran yang terangkai dalam program ini coba menyodorkan film-film dalam spektrum yang beragam warna, baik dalam hal gagasan (isu, sudut pandang, pernyataan) dan cara penyampaian. Dari yang condong pada bahasan bersifat publik, hingga yang personal, atau yang mengelindankan keduanya. Mulai film yang berangkat dari masalah-masalah kiwari, sampai yang mengangkat persoalan-persoalan lampau dan masih penting untuk dibicarakan di hari ini.

Tanpa sedikitpun mengurangi penghargaan terhadap intelektualitas, visi, kerja-kerja, serta segala bentuk pertanggungjawaban semua pelaksana berbagai festival film, khususnya di Indonesia, lewat program ini sebuah anjuran sekaligus otokritik coba diajukan: tak semestinya festival dilihat sebagai sosok yang paling unggul dan terpercaya dalam memberikan penilaian baik-buruknya sebuah film. Tak seharusnya pembuat film, lagi-lagi sebutlah, alternatif membuat karya sesuai dengan “standar festival” yang mereka sangkakan. Kecenderungan mengultuskan penilaian festival itu sebaiknya sebisa mungkin disingkirkan jauh-jauh.

Dengan demikian, harapannya, semoga kian banyak pembuat film yang jujur dan percaya pada pikiran, keresahan, juga tampilan sendiri-sendiri. Meskipun pada akhirnya, anjuran dan harapan hanyalah satu hal, dan hasil ialah hal lain. Tetapi ruang dialog musti terus dirawat. Selamat menonton dan bertukar pikiran, juga perasaan.

 

Theo Maulana

BBBBB

Paul Manurung/ 17 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Documentary

Shitpost

Wimar Herdanto/ 14 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Suburbia

Winnie Benjamin/ 28 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Yang Sudah, Sudah

Zhafran Solichin/ 16 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Back up!

Wawan I. Wibowo/ 20 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Documentary

Others or ‘Rust en Orde’

Timoteus Anggawan Kusno/ 16 Minutes/ 2017/ Indonesia/ Hybrid

Angin Pantai Sanleko

Rahung Nasution, Yogi Fuad/ 19 Minutes/ 2018/ Indonesia/ Documentary

Sunny Side of the Street

Andrew Kose/ 12 Minutes/ 2018/ Indonesia/ Fiction

Lamun Sumelang

Ludy Oji Prastama/ 18 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Edelweiss

Timoteus Anggawan Kusno/ 12 Minutes/ 2018/ Indonesia/ Fiction

TV Hanyar

Syarwani Muhammad/ 12 Minutes/ 2018/ Indonesia/ Fiction

Kentut

Rangga Kusmalendra/ 8 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Kiwa

Loeloe Hendra/ 16 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Bella, Perempuan di Kamar No. 2

Patrick Warmanda/ 16 Minutes/ 2017/ Indonesia/ Fiction

Repost

Vera Isnaini/ 18 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Documentary

One of Those Murder

Jerry Hadiprojo/ 10 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction