Perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 12 “Fluidity” kali ini tak hanya menghadirkan tokoh-tokoh besar dalam perfilman Asia. Seperti halnya festival yang ingin ‘merayakan’ film, JAFF mengajak berbagai komunitas perfilman se-Indonesia untuk duduk santai dan membicarakan film. Hal ini diwujudkan  dalam salah satu dari rangkaian program Forum Komunitas, yaitu Sampah Festival. Acara yang berlangsung ‘greget’ dan hangat ini dilaksanakan di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Rabu (6/12).

Kurang lebih 30 peserta dari berbagai komunitas duduk bersama dan membahas film-film yang tidak lolos kurasi, baik di bioskop maupun festival. Bersama Ismail Basbeth, mereka berbincang dan berdiskusi secara santai namun mendalam. Salah satunya adalah tentang bagaimana memulai belajar untuk memosisikan film dalam sebuah festival atau perlombaan. Ismail juga membagikan berbagai pengalaman yang telah ia lakukan dan alami, sedari merintis karier sebagai pembuat film, hingga saat awal-awal turut merintis JAFF. “Menariknya, dari tahun ke tahun di JAFF itu inovasi terus. Makanya Forum Komunitas itu juga tiap tahun berubah, supaya isinya nggak orang itu-itu aja. Kita juga ketemu sama orang lain. Kalau bisa ketemu orang sepenting apa pun, santai saja bisa diajak ngobrol. Nah tugasnya JAFF itu ngumpulin seperti itu.”

Tak hanya itu, diskusi juga membicarakan seputar bagaimana para pelaku perfilman harusnya lebih mengenal orang-orang sekitarnya, termasuk masyarakat. Menurut Ismail, hal itu penting karena film tentunya tidak ingin hanya dinikmati ‘orang-orang film’ saja, tapi meluas. Hal ini juga yang menurutnya kadang membuat perfilman tampak eksklusif. “Salah satu kesalahan orang film itu adalah nggak gaul, seperti contohnya kita datang ke masyarakat pasti kita yang ngajari, lha emang mereka butuh kita ajari? Lalu, kita bisa juga berkolaborasi dengan jejaring seni yang lain. Nah, membangun jaring-jaring yang lain seperti kebudayaan, seni rupa, dan lain-lain itu penting,” tuturnya, Rabu (6/12). Selain itu, peserta juga berdiskusi tentang pentingnya memahami peran kurator dan programmer dalam sebuah perlombaan atau festival. Peserta sangat antusias, terlebih mereka yang datang adalah pelaku-pelaku perfilman yang mulai dari akar rumput, sebagian besar pun merupakan mahasiswa. Akhirnya, diskusi dalam Sampah Festival ini membuka perspektif baru dan menjawab kekesalan para pembuat film muda yang karyanya belum mendapat kursi di jajaran film dalam sebuah festival atau lomba.

 

Angela Shinta Dara Puspita