Kodok Ibnu Sukodok atau yang lebih dikenal sebagai mbah Kodok (67) hidup tanpa anak dan istri di sebuah taman budaya Solo bernama “Wisma Seni”. Menulis dan menyanyi merupakan kegiatannya sehari-hari untuk mengutarakan kecemasannya terhadap hancurnya keseimbangan alam. Dalam dokumenter ini, dijelaskan bahwa hidup mbah Kodok berubah setelah menikahi seorang Peri pelindung hutan yang ia namai Setyowati. Nama Setyowati adalah nama pemberian dari mbah Kodok karena sosok Peri ini tidak pernah memberitahukan tentang namanya. Hidup berdampingan di antara alam dan hewan adalah suatu kesatuan yang harus dipertahankan agar keseimbangan alam ini tetap terjaga. Itulah yang membuat mbah Kodok mau menikahi Peri tersebut tanpa embel-embel harta dan materi.

Terjadinya ikatan pernikahan tersebut adalah bentuk kesepakatan antara mbah Kodok dan Setyowati, karena kerusakan alam akibat penebangan liar dan gangguan lahan yang berlangsung sejak 1998. Mbah Kodok berusaha untuk melestarikan hutan sehingga membuat dirinya bertentangan dengan kepentingan dan mempengaruhi orang-orang. Melihat keadaan yang sulit, ia melahirkan kisah anaknya sehingga konservasi dapat berlanjut dengan pendekatan kepercayaan.  Mbah Kodok tidak sendiri, dalam film dokumenter ini dijelaskan ia dibantu oleh sosok Bram dan Peng dalam segala hal yang berhubungan dengan pernikahannya dengan Sang Peri.

Di samping itu Setyowati meminta Kodok Ibnu Sukodok untuk berusaha sekuat tenaga membangun kembali rumah Setyowati yang hancur dan rusak. Rumah tersebut di alam gaib berwujud sebuah Kraton Ngiyom (salah satu nama mata air), namun di alam kasat matanya berupa konservasi mata air dengan penanaman kebun hutan rimba aneka yang kokoh secara ekologi, kultural, dan estetika. Pernikahan ini tidak berlangsung mulus karena banyaknya pertentangan. Masyarakat sekitar menganggap pernikahan antara manusia dan Peri adalah bentuk kemusyrikan. Apalagi, jika harus menilik dengan tata cara apa pernikahan akan berlangsung. Melalui bantuan Bram, akhirnya mbah Kodok bisa menikahi Peri Setyowati melalui suatu “seni kejadian” (“happening art“). Mbah Kodok dan rekannya beranggapan bahwa pernikahan ini adalah bentuk kecintaannya dengan alam dan penghormatan dengan adat budaya. Walau ada pertentangan, namun banyak pula yang mendukung karena dianggap sebagai bentuk warisan budaya adat Jawa.

Kodok Rabi Peri adalah suatu bentuk filosofi hidup manusia, di mana Peri yang dimaksud adalah hutan, alam, dan mereka semua yang dipelihara oleh alam (manusia dan hewan). Berdurasi 89 menit, film ini mampu membuat kita mengerti untuk mencintai alam dengan perspektif yang berbeda agar dapat hidup secara berdampingan antara manusia, hewan, dan alam yang harus dijaga. Dokumenter garapan Bani Nasution ini masuk dalam program Asian Perspectives – Features di perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-14 ‘Revival. (2019)

Ditulis oleh Dwi Atika N | Disunting oleh vanis