Sebuah rumah di sudut gang kecil sebuah perkampungan masih ramai malam itu. Kang Jaham tampak berbincang dengan teman-temannya. Membahas tentang kemajuan teknologi dan arus hidup global. Mulai dari kualitas musik dalam negeri hingga eksistensi dunia pembajakan.

“Kita harus merangkul penjual-penjual VCD bajakan untuk menjual karya kita. Walaupun kualitas menurun, musik tarling bakal tetap laku, laris manis,” ucap salah satu seniman teman Kang Jaham untuk perkembangan musik yang menjadi cita rasa khas pesisir Pantura, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon. Musik ini masih menimbulkan kesan negatif bagi sebagian besar masyarakat Indonesia tetapi juga disukai. Hubungan cinta dan benci dengan tarling, atau lebih akrab di telinga sebagai dangdut, menjadi fokus. Perasaan sembunyi-sembunyi ini sangat rumit, mengutip perkataan seorang biduan kepada Kang Jaham saat mereka bermalam bersama, malu-malu tapi mau.

Tarling is Darling, dokumenter karya Ismail Fahmi Lubish mengupas habis kehidupan tarling dalam pergolakannya di masa kini. Seorang Jaham menjadi tokoh utama pada film dan mengajak para penonton berjalan melihat musik yang jadi favorit di seluruh pelosok daerah secara keseluruhan hingga masuk ke dalam rumah-rumah setiap pelakunya. Proyek ambisius dan idealis ini penuh kerja keras yang tidak main-main agar tidak sembarang mengangkat fakta di balik sebuah negara yang menomorsatukan norma dan agama. Melihat sebuah realita tanpa bersifat menggurui.

“Saya juga tinggal bersama Kang Jaham dan masyarakat di wilayahnya untuk waktu yang lama, apabila ditotal prosesnya empat tahun untuk film ini,” ungkap Ismail Fahmi Lubish setelah filmnya diputar pertama kali di Indonesia pada hari Selasa (5/12) dalam perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-12.

Aksi tarling dari panggung ke panggung dalam film ini akan menimbulkan perasaan aneh, apalagi untuk mereka yang tidak terlalu menyukainya. Tetapi kemudian ada sensasi lain, mengikat agar tidak beranjak. Seperti yang diucapkan Anissa setelah menonton film ini, “Saya jujur tidak menyukai musik seperti tarling ini, tapi nggak tahu kenapa kayak harus nonton ini sampai kelar, harus.” Apresiasi luar biasa dari penonton ini tampak juga dari riuhnya tepuk tangan setelah film berakhir.

Keseriusan dari Ismail untuk Tarling bisa dilihat dari setiap gambar yang diambil. Cerita memang lebih berpusat pada Kang Jaham, seorang seniman, seorang produser tarling, tetapi kemudian membuka pandangan tentang begitu indahnya gemerlap musik tarling. Ismail berhasil secara perlahan membuka lembar demi lembar realita yang ada melalui sudut pandang Jaham. Sampai  lingkup pribadi berhasil Ismail tembus, salah satunya saat Istri Jaham tampak cemburu tersembunyi melihat suaminya melatih calon artis tarling di ruang keluarga. Percakapan para petani yang mengorbankan upah seharian demi bergoyang tarling semalaman, curahan hati beberapa biduan, mencintai tarling namun secara bersamaan juga terpaksa hidup karenanya, seorang promotor musik yang eksentrik, hingga kehidupan tua legenda Tarling Nano Romanza bersama istri ketujuhnya menjadi bingkai yang tertata rapi.

Jaham juga mulai menyentuh sisi religi melalui ajakan ulama-ulama untuk mengangkat tarling dengan suasana Islami. Berbagai pertimbangan serius, sedikit lucu, hingga menyentil norma penonton ketika Jaham membuatnya berduaan dengan seorang biduan untuk pembuatan lagu-lagu religi sampai menjadi sebuah album tersebut menjadi sebuah cermin kenyataan. Tarling bukan sekadar selera musik kelas bawah yang cenderung tidak senonoh dan vulgar, tetapi juga ada orang-orang yang hidup dan berjuang bersamanya.

Titus Kurdho