Love and Shukla mengangkat tema percintaan tetapi bukan sekadar kisah cinta opera sabun yang menyentuh hingga meneteskan air mata; ini berbeda. Kultur atau budaya menjadi identitas bagi suatu kelompok masyarakat; salah satu lingkup yang kuat terpengaruh olehnya ialah keluarga. Pernikahan tidak lepas dari itu semua karena di Asia, terutama di India, hal itu masih menjadi sesuatu yang sakral. Film ini menampilkan banyak perpaduan permasalahan budaya India itu dalam satu kemasan yang menarik dan sangat layak untuk ditonton.

Shukla adalah seorang pria dari keluarga Brahmin yang masih bangga dengan status keluarganya. Padahal saat ini kedudukan Brahmin di masyarakat sudah tidak sekuat dulu lagi. Kenyataanya, Shukla hanya seorang sopir kendaraan umum sejenis bemo atau bajaj di Indonesia. Ia tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan sampai ia dijodohkan oleh ibunya dengan seorang wanita, Lakshmi. Semuanya ternyata tidak terjadi seperti yang ia harapkan. Hidupnya yang masih tinggal seatap dengan orang tuanya, hingga sosok istri barunya Lakshmi yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah berbicara kepadanya, menjadi beban pikirannya. Saat-saat yang seharusnya bahagia menjadi rintangan yang terjal.

Rabu (6/12) itu menjadi hari yang spesial bagi Jatla Siddhartha. Sutradara Love and Shukla ini hadir dalam pemutaran filmnya di Indonesia pada perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-12. Jatla menceritakan inspirasi dari film Love and Shukla kepada penonton secara jujur. “Film saya ini terinspirasi dari hidup saya sendiri, ibu saya juga seperti itu, semua hal ditentukan sama dia , semua hal,” jawabannya disambut tawa penonton yang hadir. Kemudian Jatla menceritakan tentang campur tangan orang tua dalam pernikahan anaknya yang saat ini masih terlalu banyak. Topik ini amat menggelitik karena di Indonesia juga tak jarang ditemukan kasus serupa.

“Film ini dibuat dengan terbatasnya biaya dan peralatan yang ada, tetapi berhasil kita usahakan dengan maksimal,” jelasnya lagi. Melihat banyak aspek dari film Love and Shukla seakan nyata terjadi, salah satu penonton bertanya mengenai kebenaran itu. Salah satunya tentang kehidupan keluarga Brahmin di India. “Yah seperti misalnya keluarga Brahmin dari Shukla, beberapa memang masih seperti itu, berpikir mereka itu berbeda, yang terbaik, justru itu yang membuat kejatuhan mereka,” jelas Jatla menanggapi pertanyaan penonton. Ia berpendapat bahwa seharusnya semua manusia sama, bahwa semua kebanggaan itu seharusnya hanya ada ratusan tahun lalu.

Ungkapan syukur dan terima kasih tak henti disampaikan Jatla Siddhartha kepada Indonesia dan JAFF atas diputarnya salah satu karya terbaiknya yang mendapatkan pujian para penonton pertamanya di Indonesia. “Ini pertama kali saya ke Indonesia, sudah lama saya ingin ke sini. Menjadi lebih spesial lagi karena Love and Shukla juga diputar dan mendapatkan respons positif sekali di Jogja-NETPAC Asian Film Festival,” jabarnya lugas.

Titus Kurdho