Pemukulan gong oleh Ifa Isfansyah menandai dibukanya program Jogja Future Project (JFP) di Gaia Cosmo Hotel, Selasa (5/12) malam. JFP yang terwujud berkat kolaborasi antara Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) ini bertujuan mendorong pertumbuhan film independen Indonesia yang terus meningkat beberapa tahun belakangan. Hal ini disampaikan Ifa Isfansyah, Direktur Eksekutif JAFF yang juga insiator JFP, dalam sambutan peluncuran program JFP. Lebih lanjut, dikutip dari catatannya untuk katalog JFP, Ifa menyebutkan bahwa JFP adalah manifestasi dari tanggung jawab JAFF yang telah dilakukan selama hampir lima belas tahun, yaitu menemukan dan memelihara talenta baru. Hal serupa pun diutarakan Budi Irawanto, Direktur Festival JAFF, dalam sambutannya. “JFP adalah medium kami dalam mendukung sineas muda dan potensial Indonesia,” jelas Budi.

Program ini didekasikan untuk sepuluh proyek film panjang terpilih dalam bermacam tahapan produksi, mulai dari penulisan dan pengembangan naskah, produksi, dan pascaproduksi untuk mendapatkan kesempatan mengahadiri one-on-one meeting dengan berbagai tokoh penting di industri film nasional maupun internasional. Pada penyelenggaraan perdana JFP, panitia menerima sekitar tiga puluh proposal yang kemudian dipilih menjadi sepuluh proposal terbaik yang akan dipertemukan dengan tokoh-tokoh penting di industri perfilman seperti investor, kritikus film, kurator festival, dan tentunya para sineas.

Sepuluh proyek terpilih pada penyelenggaraan perdana JFP ini adalah: Adonan Membuat Manja (Tunggul Banjaransari), Alang-Alang (Khusnul Khitam), Asexuality (Bambang Kuntara Murti), Fool’s Treasure (Henricus Pria), IGO Nude (Dharma Nugraha), Kidnapping Eisenstein (Krisnadi Yuliawan/Eric Gunawan), Perempuan Bahu Laweyan (Najam Yardo), Ruwat (Rivandy Adi Kuswara), Sampai Maut Memisahkan Kita (Orizon Astonia), dan Your West My East (Fauzan Abdillah.

Seluruh finalis berkompetisi untuk memenangkan sejumlah penghargaan yang disiapkan oleh JAFF dan rekanan. Penghargaan Best Future Projects diberikan kepada tiga proyek terbaik pilihan juri yang terdiri dari Meiske Taurisia (produser film), Mouly Surya (sutradara), dan Kan Lumé (sutradara). Pemenang pertama berhak mendapatkan dukungan pendanaan sebesar 30 juta rupiah, 20 juta rupiah untuk pemenang kedua, dan 10 juta rupiah bagi pemenang ketiga. Selain itu terdapat penghargaan lain yang diberikan rekanan JAFF dalam JFP, seperti Super 8mm Studio Post Production Fund dari Super 8mm, Synchronize Sound Award dari Synchronize Sound, FOCUSED Future Award dari FOCUSED equipment, dan Geber Kalicode dari X-CODE Films.

Perjalanan finalis terpilih untuk memenangkan penghargaan tersebut cukup beragam. Ada yang memang telah memiliki rancangan proyek, namun ada pula yang khusus mempersiapkan proyek baru untuk berkompetisi di JFP. Rivandy Adi Kuswara, misalnya. Ia mengaku keikutsertaannya di JFP berawal dari keisengan semata. “Awalnya iseng sih, tapi diniatin dan ternyata lolos. Aku dan produserku jadi punya semangat baru,” tutur Rivandy. Lain lagi dengan Dharma Nugraha, mahasiswa tingkat akhir di Jogja Film Academy ini memang tengah mempersiapkan sebuah proyek film bertajuk Indonesian Girls Only (IGO) Nude ketika mendapatkan info tentang JFP. “Ketika JFP membuka submisi, kami memang sedang memiliki proyek, jadi kami submit di JFP yang paling dekat,” ujar Dharma.

Ketika ditanya mengenai motivasi mengikuti JFP, Rivandy berharap JFP bisa menjadi ruang bagi proses kreatif ia dan timnya, terlebih jika berhasil ini akan menjadi film panjang pertama mereka. Sebelumnya Rivandy telah memproduksi dua film pendek: Ketaman Asmara dan Munggah Kaji, yang keduanya telah ditayangkan di JAFF pada tahun 2016 dan 2017. “Saat ini aku lagi develop beberapa cerita untuk dijadikan film pendek sebelum loncat ke film panjang karena aku percaya film panjang memiliki napas yang lebih panjang dibanding film pendek,” cerita Rivandy. Jika proyeknya terpilih, Rivandy percaya ia tidak hanya berkesempatan melahirkan film panjang pertamanya, namun juga yang tak kalah penting adalah pengakuan dari pelaku profesional yang terlibat secara khusus di JFP serta masyarakat pecinta film pada umumnya. “Jika proyek ini terpilih dan menjadi film pertama kami, kami akan memiliki cap tersendiri sebagai film yang lahir dari JAFF, sebuah festival berskala internasional,” tutup Rivandy.

Erni Maria Angreini