JOGJA FUTURE PROJECT

BAKAT BARU TIDAK LAHIR BEGITU SAJA

Oleh: Ifa Isfansyah

 

Dua-tiga tahun terakhir ini saat banyak pembuat film di Indonesia lahir dari Jogja, banyak pertanyaan yang mampir ke saya “Apa yang terjadi di Jogja?”. Pertanyaan itu tentu saja menjadi pertanyaan penting tapi sekaligus pertanyaan yang mudah sekali saya jawab. Karena saya tahu sekali dan mengalami apa yang lima belas tahun terakhir ini terjadi di Jogja sehingga muncul pembuat film yang tidak hanya bisa membuat film secara teknis, tapi juga berkarakter dan menadi penting untuk industri film kita.

Di saat perubahan teknologi film berubah menjadi digital, anak muda Jogja merayakannya. Memencet tombol merah dan merekam seolah menjadi hal yang menarik sekaligus sangat mudah dilakukan. Komputer-komputer yang tadinya hanya untuk menulis mengerjakan tugas sekolah kemudian berubah menjadi seperangkat mesin editing untuk memotong gambar dan bahkan suara. Komunitas teater dari kampus ke kampus dibajak menjadi para aktor di depan layar. Rental-rental dan DVD bajakan diperlakukan sebagai referensi layaknya koleksi-koleksi sinematek. Aturan-aturan perfilman pemerintah terhadap proses produksi film saat itu benar-benar dinihilkan, yang penting bikin film. Hasil dari kesalahan demi kesalahan itu didiskusikan di angringan-angkringan yang tersebar di tiap sudut kota.

Apa yang terjadi beberapa tahun terakhir ini adalah hasil dari sepuluh-lima belas tahun yang lalu. Peta gelap distribusi film internasional lama-lama terbuka. Sinema dunia butuh jendela baru tentang sinema Indonesia, tentang sinema Asia. Dan Jogja membuka jendela itu. Orang-orang yang paham betul tentang sejarah sinema pasti langsung tahu, tidak mungkin bakat baru lahir dan muncul dari tanah begitu saja. Mereka ingin tahu dan mendatangi sumbernya. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Tidak mungkin anak duapuluh tahunan membuat long take panjang ala Hou Hsiao Hsien. Tidak mungkin lahir shot-shot rerumputan yang puitik tanpa tahu Abbas Kiarostami. Tidak mungkin bisa muncul permasalahan keluarga yang begitu detail tanpa melihat Ozu. Dan juga, tidak mungkin budaya menonton yang sebegitu kuat lahir tanpa adanya peristiwa yang terus menerus. Inilah sinema yang kita pilih, inilah sinema yang kita rayakan.

Saat JAFF pertama kali dilaksanakan, tercatat tujuh puluh lebih komunitas film di Jogja. Tidak semuanya komunitas film yang berbasis produksi. Lengkap mulai dari apresiasi sampai distribusi. Hanya satu syarat dan komitmen saat JAFF akan dilahirkan, konsisten. Karena budaya tidak bisa lahir secara instan. Harus dilakukan terus menerus dan berkesinambungan sehingga menjadi semakin kuat. Setiap tahun JAFF dihadiri oleh anak-anak muda pembuat film dari daerah lain. Untuk bertemu dengan teman sesama pembuat film, untuk berbagi energi dan atau bahkan tidak sedikit yang berujung menemukan jodoh. Tapi itulah semangat anak muda. Tidak ada yang mampu mengalahkan energi anak muda.

Jogja Future Project adalah bentuk tanggung jawab setelah apa yang dilakukan JAFF selama hampir limabelas tahun ini. Mengorganisir bakat-bakat baru yang dimunculkan. Merawat dan memberi pupuk hingga bisa semakin kuat dan mandiri agar mereka mempertahankan hal termewah yang mereka punya, kemerdekaan. Tidak ada keberhasilan yang tidak direncanakan. Selamat terlahir Jogja Future Project. Dan masih dengan satu syarat: konsisten.

 

FINALIST

JURIES

Kan Lume

Jogja Future Project Jury Member

Meiske Taurisia

Jogja Future Project Jury Member

Mouly Surya

Jogja Future Project Jury Member

PROFESSIONALS