Program pemutaran bulanan yang di selenggarakan oleh Yayasan Sinema Yogyakarta telah digelar di Jogja Village Inn pada tanggal 25 Mei 2018 lalu bertajuk JAFF Movie Night 2.4 (JMN 2.4). JMN 2.4 menayangkan tujuh film dengan dua tema besar Religi dan Buruh, antara lain, Hoyen (2017), Oleh-­ Oleh (2017), Munggah Kaji (Pilgrimage to Mecca) (2017), Luwung Bawani (2017), Sam: Another Way to Teach a Child (2017), Panderes & Pangidep (2014), dan Angka Jadi Suara (2017). Film-­ film tersebut dibagi atas dua sesi penayangan, masing-­masing pada pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB.
Pemutaran tiap sesi diakhiri dengan diskusi bersama pembuat film yang hadir dan dimoderatori oleh Fala Pratika, tim program Jogja-­NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Diskusi pada sesi pemutaran yang pertama menitikberatkan pada keberagaman yang para pembuat film coba sampaikan melalui film-­film mereka. Yopi Kurniawan, sutradara film Hoyen (2017) mencoba untuk menyampaikan cerita tentang Romo Mangun, seorang pastor dari Yogyakarta yang melebur dengan masyarakat. Yopi ingin menggaris bawahi bahwa seseorang tidak dapat mencapai titik pemahaman mengenai ketuhanan tanpa mengerti perihal kemanusiaan terlebih dahulu. Yopi menuliskan penggambaran ajaran Romo Mangun tanpa ingin membuat film Hoyen (2017) menjadi sebuah biopik yang berfokus pada satu tokoh saja. Ia ingin membangun cerita melalui latar belakang sosial yang bersinggungan dengan tokoh Frater Atmo pada prosesnya menjadi seorang pastor.
Latar belakang ide cerita dalam film yang ditayangkan pada sesi pertama JAFF Movie Night 2.4 juga datang dari kejadian yang dialami oleh pembuat film. Hal tersebut dialami oleh Reza Fahriyansyah, sutradara dan penulis film Oleh-­Oleh (2017). Reza mengamati adanya budaya membagikan oleh-­oleh yang dilakukan oleh orang yang baru pulang Umrah atau Haji di lingkungannya. Ia menyayangkan bagaimana budaya tersebut menjamur dan menumbuhkan rasa sungkan pada diri masyarakat yang melaksanakan ibadah keagamaan tersebut. Pembahasan mengenai ibadah haji juga diangkat dalam film Munggah Kaji (Pilgrimage to Mecca) (2017). Rivandy Adi Kuswara, sutradara film Munggah Kaji (Pilgrimage to Mecca) (2017) mengutarakan bahwa ia mendapatkan ide tersebut dari pengalaman pribadi yang ia rasakan di tengah keluarganya. Rivandy mengatakan bahwa praktik titip haji masih terjadi di tengah masyarakat. Ia menjabarkan pergolakan yang dirasakan oleh orang yang dititipi haji dengan dirinya sendiri dan keluarganya. Kebimbangan tersebut dirasakan oleh tokoh dalam film Munggah Kaji (Pilgrimage to Mecca) (2017) mengenai apakah ia harus menuruti perkataan suaminya yang tak mengizinkannya untuk pergi atau tetap melaksanakan ibadah haji yang sebenarnya akan menjadi ibadah haji keduanya.
Pemutaran slot kedua menayangkan empat film pendek yang berupa dua film fiksi dan dua film dokumenter yang ditutup dengan sesi diskusi. Diskusi dipantik oleh Bicky Reza, sutradara film Luwung Bawani (2017), Abiyoga Bimo Nugroho, sutradara film Sam: Another Way to Teach a Child (2017), dan Amerta Kusuma, mentor film Angka Jadi Suara (2017). Kedua film fiksi yang ditayangkan pada kesempatan ini sama-­sama ingin menyampaikan perihal bagaimana seseorang dapat mencapai kesuksesan tanpa secara khusus harus
menempuh jalur pendidikan formal. Berbeda dengan kedua film fiksi tersebut, kedua film dokumenter yang mengikutinya menceritakan tentang perjuangan hidup buruh. Pangiras & Pangidep (2014) menceritakan tentang perjuangan sepasang suami istri yang bekerja sebagai pangiras –pengrajin gula merah, dan pangidep –pembuat bulu mata palsu. Film Angka Jadi Suara (2017) menceritakan perihal perjuangan para buruh wanita melawan kekerasan seksual yang terjadi di PT KBN, tempat kerja mereka. Amerta Kusuma, mentor Angka Jadi Suara, menjabarkan proses pembuatan film yang melewati banyak sekali hambatan, seperti kesulitan ijin pengambilan gambar di perusahaan tersebut dan dilema mengenai perlindungan data informan yang terlibat dalam penggarapan film. Dengan dibuatnya film ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan keberanian teman-­teman buruh yang mengalami kekerasan seksual di tempat kerja. Selain itu, diharapkan pula hal serupa tidak perlu terjadi lagi mengingat angka korban kekerasan seksual di tempat kerja semakin meningkat waktu demi waktu.
JAFF Movie Night 2.4 dihadiri oleh lebih dari tujuh puluh orang yang berasal dari berbagai komunitas film di Yogyakarta maupun luar Yogyakarta. Adapun beberapa komunitas film dan instansi yang berpartisipasi dalam acara ini antara lain, AVIKOM UPN, Puskat, Arka Sinematika, Antaran, HMC Production, MMTC, CIKO UMY, dan JFA. Program ini akan kembali dilaksanakan pada bulan Juni mendatang bertempat di Jogja Village Inn.