JAFF INDONESIAN SCREEN AWARD

The Awards are dedicated to Indonesian Features by the already established directors and upcoming young talents who hold the future of Indonesian Cinematic Movement. Films which are originally produced in Indonesia are all eligible to be nominated as the Best Film, Best Director, Best Scriptwriter, Best Actors, and Best Cinematography.

Penghargaan ini dipersembahkan untuk film panjang Indonesia dari para sutradara mapan serta talenta muda yang tengah naik daun–mereka yang menjadi masa depan sinema Indonesia. Film terpilih adalah karya dengan negara asal produksi Indonesia. Film-film tersebut berkompetisi dalam nominasi Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Naskah Terbaik, Pemeran Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.

FESTIVAL JURY MEMBERS

Linda Gozali

Linda Gozali is a film producer of MAGMA Entertainment. After spending 25 years in the Capital Markets, Linda teamed up with her brother, Charles Gozali, to expand MAGMA Entertainment in pursuant of her overdue passion as a film producer. She follows in the footsteps of her father and founder of Garuda Film, the legendary Hendrick Gozali.
In the second half of 2016, Indonesia began to come into the limelight by simultaneously exerting lucrative box office growth and expanding its local content market share. Linda recognized this opportunity to recapitalize IP content from Garuda Film as well as MAGMA’s very own by forming partnerships and collaborations across Asia in pursuit of global achievements, financial harvest and respectable recognition. Linda’s dedication to grow her IP-based projects was recognized by Motion Picture Association (MPA) as Linda was the recipient of 2019 Asia-Pacific Copyright Educator (ACE) Award which is traditionally granted during CineAsia events.
In the year 2020, Linda and Charles proved that the show must go on, bravely daring themselves to produce a culturally loaded romcom featuring Indonesian music phenomenon, Didi Kempot, the titled film, “Sobat Ambyar (aka “The Heartbreak Club”) despite challenging year of Covid-19. By January 2021, “Sobat Ambyar” was successfully featured as the first Indonesian movie released worldwide on Netflix. And just before 2020 concluded, MAGMA kicked off “QODRAT”, as a new breed of Indonesian supernatural fantasy, while preparing the upcoming productions: an Indonesian female superhero movie “Srikandi” as an initial to a bigger franchise, as well as a remake of MAGMA’S renowned Cinematic IP “Perempuan Dalam Pasungan/A Woman Shackled”, which won The 1981 Best Picture in the FFI (Indonesian Film Festival) as well as “Buah Terlarang/The Forbidden Fruit” – one of Indonesia’s highest grossing movie in 1979.
Finally, MAGMA gears up for an international collaboration with a respected Korean producer, Mr. Choi Yoon, the former Director of Busan Film Commission. This would be for an action flick based on the real one stop criminal activities in Medan – North Sumatra titled “Kampung Kubur/The Graveyard Zone”.

Linda Gozali adalah produser film dari MAGMA Entertainment. Setelah menghabiskan 25 tahun di Pasar Modal, Linda bekerja sama dengan saudaranya, Charles Gozali, untuk mengembangkan MAGMA Entertainment sesuai dengan hasratnya yang tertunda untuk menjadi produser film. Dia mengikuti jejak ayahnya, pendiri Garuda Film, Hendrick Gozali yang legendaris.
Selama pertengahan hingga akhir tahun 2016, Indonesia mulai menjadi pusat perhatian dengan secara bersamaan memanen banyak box office yang menguntungkan secara finansial dan memperluas pangsa pasar konten lokalnya. Linda mengambil kesempatan ini untuk rekapitalisasi konten IP dari Garuda Film serta MAGMA sendiri dengan membentuk kemitraan dan kolaborasi di seluruh Asia untuk mengejar pencapaian global, panen finansial dan pengakuan yang terhormat. Dedikasi Linda untuk mengembangkan proyek berbasis IP-nya mendapat pengakuan dari Motion Picture Association (MPA) karena Linda adalah penerima Penghargaan 2019 Asia-Pacific Copyright Educator (ACE) Award yang dianugerahkan di acara CineAsia.
Di tahun 2020 ini, Linda dan Charles membuktikan tekad “the show must go on”, dengan beraninya ia membuat romcom budaya yang menampilkan fenomena musik Indonesia, Didi Kempot, dengan film berjudul “Sobat Ambyar (“The Heartbreak Club”) meskipun menghadapi banyak tantangan dari Covid-19. Pada Januari 2021, “Sobat Ambyar” berhasil menjadi film Indonesia pertama yang dirilis di seluruh dunia di Netflix. Dan sebelum tahun 2020 berakhir, MAGMA memulai film “Qodrat”, sebagai generasi baru film fantasi supernatural Indonesia, sambil mempersiapkan produksi berikutnya: film superhero wanita Indonesia “Srikandi” sebagai awal untuk waralaba yang lebih besar, serta remake dari IP Sinematik MAGMA yang terkenal, “Perempuan Dalam Pasungan (A Woman Shackled”), yang memenangkan Film Terbaik tahun 1981 di FFI (Festival Film Indonesia) serta “Buah Terlarang/The Forbidden Fruit” – salah satu film terlaris di Indonesia pada tahun 1979.
Akhirnya, MAGMA bersiap untuk kolaborasi internasional dengan produser Korea yang disegani, Choi Yoon, mantan Direktur Busan Film Commission. Film ini akan menjadi film action yang dibuat berdasarkan kegiatan organisasi kriminal yang benar-benar terjadi di Medan – Sumatera Utara yang berjudul “Kampung Kubur/The Graveyard Zone”.

Faozan Rizal, I.C.S

Faozan Rizal better known as Pao, was born in Tegal, Central Java in 1973. Since he was young, he has been interested in art and literature. Departing from there, he decided to expand his interest in film – by studying cinematography at the Faculty of Film and Television – Jakarta Institute of The Arts. During his time as a cinematographer, he has received many awards from the Piala Citra as Best Cinematographer for the film Salawaku (2016). Apart from making fiction films, he also makes time for documentaries, especially about the art of dance.

Faozan Rizal atau lebih dikenal dengan panggilan Pao, lahir di Tegal, Jawa Tengah pada tahun 1973. Sejak kecil, dirinya telah tertarik pada dunia seni dan kesusastraan. Berawal dari hal tersebut-lah, ia memutuskan untuk memperluas ranah ketertarikannya ke dunia film – dengan studi sinematografi di Fakultas Film dan Televisi – Institut Kesenian Jakarta. Selama ia menjadi sinematografer, ia mendapatkan sejumlah nominasi Piala Citra sebagai Penata Sinematografi Terbaik, melalui film Salawaku (2016)-lah kategori tersebut berhasil diraihnya. Selain bergelut di pembuatan film fiksi, ia kerap meluangkan waktunya dalam pembuatan film dokumenter. Khususnya seputar seni tari.

Verdi Solaiman

After completing his studies and graduating with a Bachelor degree in Fine Arts, Verdi continued to work and later founded an advertising company in Chicago, United States. After spending 10 years there, Verdi returned to Indonesia and continued his career as a creative director for feature films promotion and marketing at Sinemart Pictures. Verdi accidentally fell in love with acting in 2004. He studied acting at Sakti Actor Studio. At “Sakti Actor Studio” led by Eka D. Sitorus. He also continued his studies at the International Workshop by Margie Haber by Margie Haber Studio, Los Angeles.

In his 15+ year career in the film industry, Verdi Solaiman had been involved in more than 60 national and international films such as: “The Raid”, “Message Man”, “Java Heat”, “Foxtrot Six”, “Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur”. “, “HBO: Halfworlds” and “27 Steps of May”. Which earned him more than 10 nominations from various awards including FFI, FFB, IMMA, Piala Maya and ASEAN Int’l Film Festival Awards. Verdi is the Deputy Chairman of the Indonesian Actor House (RAI) acting association, which was founded by Lukman Sardi (Chairman) and 50+ other fellow actors.

As one of RAI’s actor regeneration missions, Verdi started the “5 Days Intensive Online Acting Class” which was held almost every month this year and has trained more than 100 experienced young actors such as Gigi Cherybelle, Ammar Zoni, Giorgino Abraham, Jihane Almeira, Wafda Saifan, Bryan Domani, Adinda Thomas etc as well as newcomers.

Setelah menuntaskan kuliahnya lalu lulus dengan gelar Bachelor of Fine Arts, Verdi lanjut bekerja dan kemudian mendirikan perusahaan di bidang Advertising di Chicago, Amerika Serikat. Setelah 10 tahun disana, Verdi pulang ke Indonesia dan meneruskan karirnya sebagai creative director untuk promosi dan marketing film-film layar lebar di Sinemart Pictures.

Verdi secara tidak sengaja jatuh cinta dengan akting pada tahun 2004. Dia menekuni seni peran di sekolah akting Sakti Aktor Studio. Di “Sakti Aktor Studio” bimbingan Eka D. Sitorus dan juga meneruskan studinya melalui International Workshop by Margie Haber dari Margie Haber Studio Los Angeles.

Dalam kurun waktu 15+ tahun berkarir di dunia film Verdi Solaiman telah terlibat lebih dari 60 judul film nasional maupun internasional seperti: “The Raid”, “Message Man”, “Java Heat”, “Foxtrot Six”, “Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur”, “HBO: Halfworlds” dan “27 Steps of May”. Yang mengantarnya mengantungi lebih dari 10 nominasi dari berbagai ajang penghargaan termasuk FFI, FFB, IMMA, Piala Maya dan ASEAN Int’l Film Festival Awards. Verdi merupakan Wakil Ketua dari asosiasi seni peran Rumah Aktor Indonesia (RAI), yang didirikan oleh Lukman Sardi (Ketua) dan 50+ teman-teman aktor lainnya. Sebagai salah satu misi regenerasi aktor dari RAI, aktor, Verdi memulai “5 Hari Kelas Akting Online Intensif” yang diadakan hampir setiap bulan selama setahun terakhir ini dan telah melatih lebih dari 100 aktor-aktor muda baik yang berpengalaman seperti Gigi Cherybelle, Ammar Zoni, Giorgino Abraham, Jihane Almeira, Wafda Saifan, Bryan Domani, Adinda Thomas etc dan juga aktor-aktor pemula.

Agung Sentausa

An architecture graduate who made a leap into film in 1999. In more than 20 years in the industry, Agung was involved in many national and international feature films, music videos, commercials, documentaries productions as well as filmmaking workshops. His directorial debut: Garadi, was screened at many international film festivals. Road to Eid, a film script, written by him, won an invitation only pitching forum ; was purchased and scheduled to be produced by 21st Century Fox. Agung is Chairman of Film Financing Facilitation of the Indonesian Film Agency and Co-Founder of the Akatara Program: Film Business Forum and Project Market. Currently, Agung is paving the way for Kayun Films and Salaka.Credu, initiatives to accelerate the film ecosystem development in Indonesia.

Lulusan arsitektur yang lompat ke dunia film pada tahun 1999. Lebih dari 20 tahun di industri, Agung terlibat dalam banyak produksi film layar lebar, video musik, iklan, dokumenter, lokakarya pembuatan film skala nasional dan internasional. Film debutnya sebagai sutradara: Garasi, diputar di banyak festival film internasional. Road to Ied, sebuah cerita untuk film, ditulis olehnya, memenangkan pitching dengan undangan; dibeli dan direncanakan akan diproduksi oleh 21st Century Fox. Agung menjadi pengurus Badan Perfilman Indonesia sebagai Ketua Fasilitasi Pembiayaan Film dan menjadi Co-Founder dari Program Akatara: Film Business Forum dan Project Market. Sekarang Agung sedang merintis usaha Kayun Films dan Salaka.Credu sebagai entitas yang mengakselerasi ekosistem film di Indonesia.

Perdana Kartawiyudha

Perdana Kartawiyudha is a full-time lecturer at the Film Department, Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Indonesia. While teaching, he continues to make films, collaborating with film professionals, fellow lecturers, and students. These films have traveled the world and won several awards. He is also the founder and director of Serunya, a film company and screenwriting agency, founded in 2007. Perdana has become a member of the Indonesian Feature Film Screenwriter Association (PILAR) since its establishment in 2013.

Perdana Kartawiyudha adalah dosen tetap di Program Studi Film, Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Sambil berbagi ilmu di kampus, dia aktif membuat film bersama para profesional, rekan sesama dosen, dan mahasiswa. Film-film tersebut telah beredar ke berbagai penjuru dunia dan memenangkan sejumlah penghargaan. Perdana juga pendiri dan direktur dari Serunya, sebuah perusahaan film dan agensi penulisan skenario yang berdiri sejak tahun 2007. Sejak tahun 2013, Perdana menjadi anggota dari asosiasi Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR).