Tiga Dara

Usmar Ismail/116 minutes/1957/Indonesia/Fiction

SHOWTIMES:

30 November 2016, 12:45 WIB
Empire XXI, Studio 3

Synopsis

Alkisah hiduplah tiga kakak beradik perempuan yang tinggal bersama ayah dan nenek mereka. Nunung si anak sulung baru saja genap berusia 29 tahun dan membuat gelisah neneknya karena tak kunjung menemukan jodohnya. Segala upaya menemukan pasangan untuknya gagal karena ia memang tak mudah bergaul.

Pada suatu ketika ia tertabrak sepeda motor yang dikendarai oleh seorang pemuda bernama Toto. Berawal dari kejadian itu timbullah perasaan Toto pada Nunung, meski tak ditanggapi dengan baik karena keegoisan Nunung yang sangat tinggi. Kehadiran Toto dalam hidup mereka justru membuat Nana, adik Nunung, jatuh hati. Nunung yang sebenarnya memendam rasa kepada Toto marah melihat kedekatan keduanya. Pergolakan cinta inilah yang melahirkan drama menarik dalam kisah persaudaraan mereka.

Once, there were three sisters living with their father and grandmother. Nunung, the eldest, just turned 29 years old and made her grandmother worry since she had not found her soul mate hitherto. All attempts to find the one always failed because Nunung was indeed unsociable.

One day, Nunung was hit by a motorcycle ridden by a young man named Toto. Ever since, Toto had a crush on her, but Nunung did not respond well due to her selfishness. The presence of Toto within the sisters life made Nana, Nunung’s younger sister, fall in love with him instead. Secretly having feeling for Toto, Nunung was upset for seeing the intimacy of the two. The love turmoil spawned an interesting drama within their sisterhood.

Trailer

Director

Usmar Ismail

Usmar Ismail mulai menjadi pecandu film saat bersekolah di MULO-B (Meer Uitgebreid Lager Onderweijs) di Padang dari 1935-1939. Pada tahun 1953 ia pun mendapatkan beasiswa dari Rockefeller Foundation untuk mendalami sinematografi di Universitas California Los Angeles (UCLA).

Sepanjang kariernya Usmar Ismail telah menghasilkan 25 film. Film-film yang pernah disutradarainya antara lain adalah : Krisis (1953), Lewat Djam Malam (1954), Tamu Agung (1955), dan Tiga Dara (1956).  Filmnya yang berjudul Tamu Agung mendapatkan penghargaan sebagai film komedi terbaik di Festival Film Asia.

Bersama H. Djamaludin Malik, Usmar Ismail mempelopori terbentuknya Federasi Produser (Federation of Motion Picture Producers in Asia) Asia di Manila. Ia juga merupakan orang yang mempelopori diadakannya Festival Film Indonesia pertama (30 Maret- 5 April 1955). 

Usmar Ismail started to be infatuated with film when he was studying at MULO-B (Meer Uitgebreid Lager Onderweijs) in Padang, 1935-1939. In 1953, he was awarded a scholarship from Rockefeller Foundation to explore cinematography at the University of California, Los Angeles (UCLA).

Along his career, Usmar Ismail had produced 25 films. He directed, among others: Krisis (1953), Tamu Agung (1955), and Tiga Dara (1956). Tamu Agung won the best comedy film in Asia Film Festival.

In collaboration with H. Djamaludin Malik, he pioneered the establishment of Federasi Produser Asia (Federation of Motion Picture Producers in Asia) in Manila. He was also the person who initiated the first Festival Film Indonesia (30 March – 5 April 1955).