Talks: What Does Film Publicist Do? by thePublicist

Keberadaan publisis mulai muncul kasat mata sejak ekosistem perfilman Indonesia mulai bangkit dari mati surinya. Publisis tidak dipungkiri memiliki peran dan fungsi yang signifikan dalam memperkenalkan sebuah produksi film ke publik. Publisis merancang strategi publikasi dan promosi, mengatur hubungan dengan media, hingga menjalin kerja sama dengan tempat pemutaran dan mitra terkait lainnya. Dalam melaksanakan peran dan fungsinya, publisis bekerja sama erat dengan produser, serta menjalin komunikasi dan pendekatan yang baik bersama para kru dan aktor. Publisis juga harus jeli mempelajari respon publik dan mengevaluasi efektivitas strategi yang sedang berjalan secara berkala. Program Talks ini bertujuan untuk menjelaskan keberadaan serta peran dan fungsi publisis di lanskap perfilman Indonesia.

LPP 1 | TUE, 29 NOV | 15:00 - 17:00

Speakers

Ifa Isfansyah

Ifa Isfansyah

Ifa Isfansyah adalah lulusan dari Jurusan Televisi Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia memulai karirnya di perfilman sebagai Produser dan Sutradara beberapa film pendek, termasuk "Harap tenang, ada ujian!" (Tokyo ShortShort, Competition, 2006) dan "Setengah Sendok Teh" (Grand Prize Hong Kong Independent Film Video Award & competition, IFFR 2008). Pada tahun 2001, ia mendirikan Fourcolours Films dengan pembuat film lokal lainnya untuk memproduksi dan mendukung pembuat film Indonesia. Ia terpilih oleh Asian Film Academy BUSAN pada tahun 2006 dan mendapat beasiswa untuk kuliah di Im Kwon Taek College of Film & Performing Arts, KOREA. Kemudian kembali ke Indonesia, dan menyutradarai film fitur pertamanya, "Garuda di Dadaku" (2009), yang meraih kesuksesan komersial yang luar biasa. Film keduanya, "Sang Penari" (2011) mendapat penghargaan Sutradara Terbaik dan Film Terbaik di Festival Film Indonesia. Selanjutnya, ia memproduseri film "Siti" (Eddie CAHYONO, TELLURIDE 2015), "Turah" (Wicaksono Wisnu LEGOWO, Perwakilan Indonesia untuk OSCAR 2018), "The Seen and Unseen" (Kamila ANDINI, Grand Prix Generation K-Plus Berlinale 2018 ), "Kucumbu Tubuh Indahku" (Garin NUGROHO, Best Film 3 CONTINENT FF 2018) dan "Yuni" (Kamila ANDINI, Platform Prize Toronto IFF 2021). Isfansyah juga merupakan pendiri JOGJA-NETPAC Asian Film Festival yang dimulai pada tahun 2006 dan pendiri JOGJA FILM ACADEMY yang didirikan pada tahun 2014.

Emira Pattiradjawane

Emira Pattiradjawane

Emira Paradytia Pattiradjawane atau akrab disapa Mia, menyelesaikan studi S1 Ilmu Komunikasi (2011) dan S2 Ilmu Komunikasi (2022) di Universitas Prof. Dr. Moestopo. Ia mulai terlibat di dunia perfilman sejak tahun 2006 saat masih duduk di bangku SMA ketika menjadi usher di Festival Film Pendek Konfiden. Setelah lulus SMA, ia bekerja sebagai staf administrasi di Festival Film Pendek Konfiden (2006-2009), executive assistant di sekolah kursus skenario "Serunya Scriptwriting" (2010-2011), dan account executive di perusahaan PR Agency "Think Opposite" (2011-2013). Ia kemudian bergabung dengan MediAN Publicist sebagai project assistant pada tahun 2013-2018 dan menangani beberapa film, antara lain Ada Apa Dengan Cinta 2 (Riri Riza, 2016), Kartini (Hanung Bramantyo, 2016), Banda: The Dark Forgotten Trail (Jay Subyakto, 2017), Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (Angga Dwimas Sasongko, 2018), dan Korea Indonesia Film Festival 2014-2018. Pada tahun 2019, bersama Andi F. Yahya dan Frederika K. Dapamanis, membentuk thePublicist yang telah menangani publikasi beberapa film, teater, buku, dan festival, serta tergabung dalam Komite Festival Film Indonesia 2021-2023.

Michael Ratnadwijanti

Michael Ratnadwijanti

Michael Ratnadwijanti mulai menekuni profesi sebagai publisis film pada 2012 dengan mengerjakan beberapa project film layar lebar bersama dua rekannya saat itu, yaitu Ade Kusumaningrum, publisis film senior, dan Nauval Yazid, yang banyak berperan sebagai festival programmer. Tidak lama berselang, ia bersama kedua rekannya membentuk MediAN Publicist, perusahaan yang bergerak di bidang publisis film. Bersama MediAN Publicist, Michael mengerjakan promosi dan publikasi beragam film layar lebar, di antaranya Ada Apa Dengan Cinta 2 (Miles Films, 2016), Kartini (Legacy Pictures, 2017), Kulari Ke Pantai (Miles Films, 2018), dan Wiro Sableng (Lifelike Pictures, 2018).

Awal perjalanan karirnya di industri film ia jajaki pada 2004 dengan menjadi peneliti untuk sebuah project dokumenter produksi Salto Films lalu beberapa kali terlibat dalam Jakarta International Film Festival sebagai tim humas dan media relation. Sejak itu kecintaannya terhadap film dan ketertarikannya pada industri media telah membawanya secara konsisten mendalami industri film sebagai publisis. Saat ini ia menjabat sebagai Head of Marketing, Promotion & Distribution Miles Films, sebuah rumah produksi independen yang telah berdiri lebih dari 25 tahun dan dikenal sebagai rumah produksi yang menjadi pionir lahirnya generasi baru penonton Indonesia melalui film legendaris Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002).

host

Alexander Matius

Alexander Matius

Kurator film yang berdomisili di Jakarta. Saat ini, ia menjadi programmer untuk Kinosaurus dan FLIX Cinema, sekaligus menjalankan bisnis perkakas rumah tangganya. Matius juga pernah menjabat sebagai Manajer (2014-2016) di kineforum, ruang pemutaran film alternatif pertama di Jakarta, selain terlibat di berbagai program pemutaran film, salah duanya di RRREC Fest in the Valley dan Synchronize Fest. Sejak 2018, ia belajar lebih banyak mengenai kuratorial film dan manajemen ekshibisi melalui sejumlah lokakarya, seperti Film Programming Workshop di Jepang & Filipina, Art-House Cinema Workshop di Venezia, dan Berlinale Talents.