Talks: Ask the Cinematographers with Indonesian Cinematographers Society

Visual dalam sebuah film dapat merangkum berbagai makna yang ingin disampaikan dari sebuah cerita. Pada diskusi ini,  Indonesia Cinematographers Society akan berbagi kisah mengenai proses kreatif para Directors of Photography yang telah menciptakan dan mengeksekusi konsep visual dalam beberapa judul film bioskop Indonesia hingga film pemenang penghargaan festival film dunia.

LPP 1 | FRI, 2 DEC | 13:00 - 15:00

Indonesian Cinematographers Society (ICS) merupakan asosiasi profesi sinematografer dalam ekosistem perfilman Indonesia yang diresmikan pada 7 Januari 2014. Asosiasi ini berdiri dengan nama Sinematografer Indonesia (SI), namun, pada 2017 diputuskan mengubah nama menjadi Indonesian Cinematographers Society (ICS). 


Asosiasi ini diharapkan mampu 1.) mengembangkan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi gambar bergerak. 2.) memberikan perlindungan dan menjaga profesionalitas pekerja dalam departemen sinematografi, 3.) menjaga kualitas seni dan teknologi gambar bergerak dalam ekosistem perfilman Indonesia. ‘Komitmen-Progres-Keterampilan’ merupakan jargon dari asosiasi ini. 


Asosiasi ini telah lama menjadi cita-cita para sinematografer Indonesia terdahulu – sebut saja sosok-sosok kunci seperti Soetomo Gandasoebrata, George Kamarullah, M. Soleh Ruslani dan Sri Atmo. Hingga akhirnya pembentukan apa yang dicita-citakan tersebut resmi terjadi pada 7 Januari 2014. Berpusat di Gedung Perfilman Haji Usmar Ismail – Rapat Umum Anggota Sinematografer Indonesia (RUA-SI) dihadiri lebih dari 70 anggota dan 40 undangan. Melalui RUA-SI ini terpilihlah tujuh presidium periode kepengurusan 2014 s/d 2017 – mereka diantaranya Agni Ariatama, I.C.S, Arief R Pribadi, I.C.S, Arya Tedja, Gunnar Nimpuno, I.C.S, Roy Lolang, I.C.S, Sidi Saleh dan Yudi Datau, I.C.S.


Terdapat sejumlah program yang berjalan pada masa kepengurusan SI/ ICS periode 2014 s/d 2017, seperti Wedangan dan Seminar. Wedangan merupakan program pemutaran film bulanan yang diperkaya dengan diskusi bersama sinematografer dari film terkait. Diantaranya The Killers (bersama Gunnar Nimpuno), GIE (bersama Yudi Datau), Laura dan Marsha (bersama Roy Lolang), Dilema (bersama Yudi Datau). Selain itu, pada ulang tahun asosiasi yang pertama ‘SATU TAHUN SINEMATOGRAFER INDONESIA’ – dibuat beberapa rangkaian acara bertempat di Gedung Film Lt.2 MT Haryono. Rangkaian acara tersebut diperkaya dengan seminar ‘Batas memberi bentuk pada apa yang tidak terbatas’ oleh Arief R. Pribadi dan ‘Memotret Wajah Tuhan’ oleh Nur Hidayat. Selain itu, adapula presentasi pemaparan SKKNI bagi para anggota.  


Memasuki kepengurusan 2019 s/d 2022 – Indonesian Cinematographer Society kini dilanjutkan dengan beberapa anggota aktif di masa kepengurusan sebelumnya. Pada kepengurusan periode ini – ICS telah memiliki Sekretariat di Jl. Damai No. 100 A, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Terdapat sejumlah program baru yang diusung dari edukasi – Frame by Frame, Kelas Sinematografi, Seminar Titik Nol, Sunset Discussion, Bicara Sinematografi. Kemudian program kebijakan, seperti FGD Jam Kerja bekerja sama dengan SINDIKASI dan program sosial – ICS Peduli 2020. Kami juga aktif dalam mengirimkan perwakilan juri pada perhelatan Festival Film Indonesia (FFI). Disamping itu, kami juga sedang menerapkan mekanisme akreditasi gelar. 


Keanggotaan Indonesian Cinematographers Society bersifat terundang berdasarkan Buku Pedoman Mekanisme Akreditasi Gelar ICS yang terbagi ke dalam jalur praktisi dan jalur akademisi. Namun, di luar itu kami tetap mewadahi edukasi dan diskusi seputar pengetahuan sinematografi bagi siapapun yang memiliki ketertarikan di ranah keilmuan sinematografi. 

Speaker

Gunnar Nimpuno

Gunnar Nimpuno

Sebelum dikenal sebagai sinematografer dalam berbagai film panjang, Gunnar Nimpuno atau yang kerap disebut Unay - telah memiliki pengalaman sebagai videografer dalam bidang periklanan. Pengalamannya di bidang ini membangun latar belakangnya dalam dunia komunikasi visual. Selain film panjang, ia juga terlibat dalam produksi TV komersil dan proyek visual lainnya. Ia pun telah memenangkan berbagai penghargaan, seperti pemenang “Penata Kamera Terpuji dalam Bandung Film Festival untuk film Sang Pemimpi (2009) dan pemenang “Pengarah Sinematografi Terbaik” di Festival Film Indonesia untuk film Penyalin Cahaya (2021).

moderator

Gladys

Gladys

Gladys berkuliah di Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2017-2021, dimana ia mendapatkan sarjana kesenian, dengan jurusan sinematografi. Sebelum ia lulus, Gladys telah mengembangkan karir sebagai Asisten Kamera untuk berbagai proyek komersial seperti tv komersial, web series, video musik, dan lain-lain. Selain itu, ia juga aktif sebagai education committee dalam Indonesian Cinematographers Society dengan rahapan perannya dapat membantu mengembangkan edukasi sinematografi di Indonesia, serta membuatnya terjangkau bagi filmmaker muda.