Home » Special Program
Category:

Special Program

Talks: Dare to be A Webtoonist! by Kwikku

Meskipun sudah muncul di Indonesia sejak tahun 2010 melalui Ngomik.com yang sempat memiliki 2.700 pengguna dan 500 komikus, webtoon (komik digital) di Indonesia belum terlalu populer. Baru sejak tahun 2015 ketika LINE Webtoon diluncurkan, potensi kreator dan pasar Webtoon di Indonesia semakin terlihat. Saat ini Line Webtoon telah mencapai 6 juta pembaca, di mana Indonesia merupakan pasar terbesar komik digitalnya. Beberapa karya komik digital Indonesia pun sukses dan diangkat menjadi film yaitu Si Juki : Lika-Liku Anak Kos (2017), Terlalu Tampan (2019), dan Eggnoid (2019). Bahkan, salah satu karya webtoon Indonesia, “Virgo and The Sparkling” akan segera diadaptasi menjadi seri drama Korea.

 

Didirikan sejak tahun 2013, dan mampu menarik 40,000 pengguna terdaftar di awal peluncurannya, Kwikku menjelma menjadi salah satu platform social storytelling gen Z asli Indonesia yang terkemuka saat ini. Sejak bergabung dengan ekosistem Falcon Pictures pada tahun 2019, tak terhitung karya cerita, webtoon, bahkan skenario film yang dimuat di Kwikku berhasil, dipublikasikan dalam bentuk novel, komik, maupun film. Diskusi ini diadakan untuk mengetahui seluk-beluk webtoon di Indonesia, dan bagaimana kiat menjadi webtunis yang sukses.

LPP 1 | SAT, 3 DEC | 14:00 - 15:30

Speaker

Sweta Kartika

Sweta Kartika

Sweta Kartika sudah bercita-cita menjadi seniman dan ilustrator komik sejak kecil. Lahir pada 14 April 1986, di sebuah kota kecil di Kebumen, Jawa Tengah, dari ayah seniman, masa kecilnya membantunya mengembangkan kreativitas dan disiplinnya, yang ia gunakan setiap hari untuk mengasah keterampilan menggambarnya. Secara tidak sadar, hal itu kemudian melahirkan moto dalam kehidupan penggila seni rupa tradisional Indonesia ini bahwa "tidak ada kesuksesan yang instan".
Setelah menempuh pendidikan formal selama 12 tahun, Sweta melanjutkan studinya di Program Desain Komunikasi Visual di Institut Teknologi Bandung. Saat itulah ia mulai memperdalam studi visual seni tradisional dan berkolaborasi dengan tiga teman lain yang memiliki visi yang sama untuk mendirikan Wanara Studio, di mana ia mengelola divisi komik dan ilustrasi. Setelah menyelesaikan S1-nya pada tahun 2008, ia melanjutkan sebagai komikus dan ilustrator lepas sambil mengikuti Program Magister Desain di almamater yang sama pada tahun 2011 dan lulus dua tahun kemudian, sebelum publikasi komik aksinya Nusantaranger dan Wanara.
Sweta adalah seorang komikus dan pendidik non-akademik yang saat ini bekerja untuk memajukan industri kreatif Indonesia. Melalui kursus Comic Sense buatannya sendiri, dia mengajari orang-orang bagaimana membuat cerita yang hidup. Sweta juga tertarik untuk membawa pencak silat ke pasar dunia melalui komik aksi. Sweta menyukai cerita-cerita hikayat pendekar silat karena ia sering mendengarnya saat masih muda. Ia dan sahabatnya, Alex Irzaqi, memulai Padepokan Ragasukma untuk mempertemukan para komikus silat lainnya.
Mahakaryanya, Pusaka Dewa, yang diterbitkan di bawah Padepokan Ragasukma, menggambarkan pertarungan busuk senjata tradisional Jawa yang sakral. Ia berhasil muncul sebagai pembaharu komik silat Indonesia dan akhirnya diadaptasi menjadi permainan kartu berjudul Keris Tanding. Sweta bekerja sama dengan sepuluh komikus silat lainnya untuk membawa tradisi dan budaya Indonesia ke industri komik internasional.

moderator

Lalu Roisamri

Lalu Roisamri

Lalu Roisamri, mempelajari Jurnalisme TV (1995-1998) di Universitas Gadjah Mada sebelum melanjutkan studi Kajian Film di Institut Kesenian Jakarta (1998-2000). Ia bergabung sejak tahun pertama, 1999, dan menjadi Co-Director Jakarta International Film Festival (JIFFest), yang terbesar di Asia Tenggara, dan promotor banyak talenta baru perfilman Indonesia. Mengikuti residensi untuk festival management di Rotterdam Film Festival (2001) and New York Film Festival (2006). Sejak 2011 hingga saat ini, Lalu aktif membantu pemerintah dalam mempromosikan film-film Indonesia dan lokasi syuting di pasar internasional di lebih dari 25 negara. Dia adalah Penasihat Indonesia (2016-2017) untuk perusahaan teknologi hiburan Asia Pasifik, Weying, unicorn dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah Tiongkok yang didukung oleh Tencent, Wanda, dan China Media Capital, untuk berinvestasi di Indonesia. Pada tahun 2017-2022 ia menjabat sebagai Ketua Bidang Promosi Lokasi Badan Perfilman Indonesia yang berhasil membentuk 5 komisi film daerah di Indonesia. Sejak tahun 2020, ia menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Semesta Daya Mada (Salaka Credu), organisasi yang memusatkan perhatian pada kewirausahaan perfilman. serta bidang seni, budaya, dan ekonomi kreatif lain.

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail

Talks: Ask the Cinematographers with Indonesian Cinematographers Society

Visual dalam sebuah film dapat merangkum berbagai makna yang ingin disampaikan dari sebuah cerita. Pada diskusi ini,  Indonesia Cinematographers Society akan berbagi kisah mengenai proses kreatif para Directors of Photography yang telah menciptakan dan mengeksekusi konsep visual dalam beberapa judul film bioskop Indonesia hingga film pemenang penghargaan festival film dunia.

LPP 1 | FRI, 2 DEC | 13:00 - 15:00

Indonesian Cinematographers Society (ICS) merupakan asosiasi profesi sinematografer dalam ekosistem perfilman Indonesia yang diresmikan pada 7 Januari 2014. Asosiasi ini berdiri dengan nama Sinematografer Indonesia (SI), namun, pada 2017 diputuskan mengubah nama menjadi Indonesian Cinematographers Society (ICS). 


Asosiasi ini diharapkan mampu 1.) mengembangkan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi gambar bergerak. 2.) memberikan perlindungan dan menjaga profesionalitas pekerja dalam departemen sinematografi, 3.) menjaga kualitas seni dan teknologi gambar bergerak dalam ekosistem perfilman Indonesia. ‘Komitmen-Progres-Keterampilan’ merupakan jargon dari asosiasi ini. 


Asosiasi ini telah lama menjadi cita-cita para sinematografer Indonesia terdahulu – sebut saja sosok-sosok kunci seperti Soetomo Gandasoebrata, George Kamarullah, M. Soleh Ruslani dan Sri Atmo. Hingga akhirnya pembentukan apa yang dicita-citakan tersebut resmi terjadi pada 7 Januari 2014. Berpusat di Gedung Perfilman Haji Usmar Ismail – Rapat Umum Anggota Sinematografer Indonesia (RUA-SI) dihadiri lebih dari 70 anggota dan 40 undangan. Melalui RUA-SI ini terpilihlah tujuh presidium periode kepengurusan 2014 s/d 2017 – mereka diantaranya Agni Ariatama, I.C.S, Arief R Pribadi, I.C.S, Arya Tedja, Gunnar Nimpuno, I.C.S, Roy Lolang, I.C.S, Sidi Saleh dan Yudi Datau, I.C.S.


Terdapat sejumlah program yang berjalan pada masa kepengurusan SI/ ICS periode 2014 s/d 2017, seperti Wedangan dan Seminar. Wedangan merupakan program pemutaran film bulanan yang diperkaya dengan diskusi bersama sinematografer dari film terkait. Diantaranya The Killers (bersama Gunnar Nimpuno), GIE (bersama Yudi Datau), Laura dan Marsha (bersama Roy Lolang), Dilema (bersama Yudi Datau). Selain itu, pada ulang tahun asosiasi yang pertama ‘SATU TAHUN SINEMATOGRAFER INDONESIA’ – dibuat beberapa rangkaian acara bertempat di Gedung Film Lt.2 MT Haryono. Rangkaian acara tersebut diperkaya dengan seminar ‘Batas memberi bentuk pada apa yang tidak terbatas’ oleh Arief R. Pribadi dan ‘Memotret Wajah Tuhan’ oleh Nur Hidayat. Selain itu, adapula presentasi pemaparan SKKNI bagi para anggota.  


Memasuki kepengurusan 2019 s/d 2022 – Indonesian Cinematographer Society kini dilanjutkan dengan beberapa anggota aktif di masa kepengurusan sebelumnya. Pada kepengurusan periode ini – ICS telah memiliki Sekretariat di Jl. Damai No. 100 A, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Terdapat sejumlah program baru yang diusung dari edukasi – Frame by Frame, Kelas Sinematografi, Seminar Titik Nol, Sunset Discussion, Bicara Sinematografi. Kemudian program kebijakan, seperti FGD Jam Kerja bekerja sama dengan SINDIKASI dan program sosial – ICS Peduli 2020. Kami juga aktif dalam mengirimkan perwakilan juri pada perhelatan Festival Film Indonesia (FFI). Disamping itu, kami juga sedang menerapkan mekanisme akreditasi gelar. 


Keanggotaan Indonesian Cinematographers Society bersifat terundang berdasarkan Buku Pedoman Mekanisme Akreditasi Gelar ICS yang terbagi ke dalam jalur praktisi dan jalur akademisi. Namun, di luar itu kami tetap mewadahi edukasi dan diskusi seputar pengetahuan sinematografi bagi siapapun yang memiliki ketertarikan di ranah keilmuan sinematografi. 

Speaker

Gunnar Nimpuno

Gunnar Nimpuno

Sebelum dikenal sebagai sinematografer dalam berbagai film panjang, Gunnar Nimpuno atau yang kerap disebut Unay - telah memiliki pengalaman sebagai videografer dalam bidang periklanan. Pengalamannya di bidang ini membangun latar belakangnya dalam dunia komunikasi visual. Selain film panjang, ia juga terlibat dalam produksi TV komersil dan proyek visual lainnya. Ia pun telah memenangkan berbagai penghargaan, seperti pemenang “Penata Kamera Terpuji dalam Bandung Film Festival untuk film Sang Pemimpi (2009) dan pemenang “Pengarah Sinematografi Terbaik” di Festival Film Indonesia untuk film Penyalin Cahaya (2021).

moderator

Gladys

Gladys

Gladys berkuliah di Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2017-2021, dimana ia mendapatkan sarjana kesenian, dengan jurusan sinematografi. Sebelum ia lulus, Gladys telah mengembangkan karir sebagai Asisten Kamera untuk berbagai proyek komersial seperti tv komersial, web series, video musik, dan lain-lain. Selain itu, ia juga aktif sebagai education committee dalam Indonesian Cinematographers Society dengan rahapan perannya dapat membantu mengembangkan edukasi sinematografi di Indonesia, serta membuatnya terjangkau bagi filmmaker muda.

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail

Master Class: Character Development in Directing with Ho Yuhang

Ho Yuhang adalah seorang award-winning sutradara film asal Malaysia yang memulai karir sejak 1990-an lewat video komersil. Ho Yuhang memilih membuat film dengan karakter-karakter yang kuat. Dalam program masterclass ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai gaya penyutradaraan Ho Yuhang dan bagaimana caranya melakukan character development untuk karakter dalam filmnya.

LPP 1 | THU, 1 DEC | 15:00 - 17:00

Speaker

Ho Yuhang

Ho Yuhang

Yuhang Ho lahir dan besar di Petaling Jaya. Dia memiliki gelar di bidang teknik di Iowa State University, tetapi memilih untuk berkarir di produksi TV ketika dia kembali ke Malaysia. Film panjang debutnya "Min" pada tahun 2003 dibiayai oleh televisi dan direkam dalam format digital, namun mendapatkan banyak undangan dari berbagai festival film sebagai film dan memenangkan Special Jury Prize at the Festival des 3 Continents di Nantes, Prancis. Film panjang dan film pendeknya selanjutnya telah diundang ke berbagai festival yang lebih luas dan telah memenangkan beberapa kompetisi, termasuk NETPAC Award dan Tiger Award for Best Short di International Film Festival Rotterdam.

moderator

BW Purbanegara

BW Purbanegara

BW Purbanegara adalah lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dan sineas yang belajar secara otodidak. Film dokumenter pendeknya "Musafir" ditayangkan perdana di Berlinale 2009. Film fiksi pendeknya "Bermula Dari A" (2011), ditayangkan perdana di festival film Internasional Busan, festival film pendek internasional Clermont-ferrand, serta memenangkan Penghargaan Film Pendek Terbaik di Festival Film Internasional Meridian Pasifik untuk negara-negara Asia Pasifik di Vladivostok Rusia. Selain itu ia juga memenangkan penghargaan Film Pendek Terbaik di Festival Film Internasional Hanoi, dan juga dianugerahi penghargaan piala citra untuk film pendek terbaik di Festival Film Indonesia 2011. Film panjang pertamanya "Tale of the Otherwords (2017) memenangkan Penghargaan Skenario Terbaik dan Special Jury Award di ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA), dan Official Selection di Singapore International Film Festival (SGIFF).

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail

Discussion Forum: Repositioning Jogja

Diskusi ini akan mengarah pada pertanyaan krusial berikut: Pertama, bagaimana JAFF mereposisi diri dari festival film niche di Indonesia dan Asia menjadi festival film inti yang bercita-cita tinggi? Bagaimana JAFF bisa menjalin kerja sama baru dengan sineas nasional? Bagaimana kontribusi budaya film lokal terhadap posisi JAFF sebagai ruang yang progresif dan berkelanjutan?

LPP 1 | THU, 1 DEC | 10:00 - 13:00

MOderator

Dyna Herlina

Dyna Herlina

Dyna Herlina Suwarto adalah mahasiswa doktoral program studi film dan televisi, di University of Nottingham dan staf pengajar di Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia. Ia adalah salah satu pendiri Jogja Netpac Asian Film Festival, Kajian Film Indonesia (KAFEIN) dan Rumah Sinema di Indonesia. Minat penelitiannya terkait dengan industri media.

participant

Terbatas untuk filmmaker dan sinefil yang tinggal di Yogyakarta.

 

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail

Public Lecture: Reflecting Asian Cinema: Recognition or Visibility?

Tahun ini, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) merayakan tujuh belas tahun penyelenggaraannya sejak 2006. Dalam konteks psikologi perkembangan, usia ketujuh belas lazimnya menandai perkembangan penting manusia baik secara fisik maupun psikologis. Selain itu, usia ketujuh belas memiliki pertautan erat dengan puncak dari usia remaja serta kemudaan yang sarat dengan energi, keingintahuan maupun kreativitas. Keterbukaan yang menyertai usia ketujuh belas itu menyiratkan keberanian melawan konvensi atau kemapanan.

 

Diilhami oleh perkembangan manusia itu, maka JAFF menghadirkan ‘Blossom’ sebagai tema festival tahun ini yang menandai kemudaannya. Lebih jauh, ‘Blossom’ menyimbolkan pembaruan dalam moda produksi, penjelajahan artistik dan tematik serta meruyaknya bakat-bakat baru dalam lanskap sinema Asia di tengah pandemi yang seakan tak pernah usai ini. Utamanya, ‘Blossom’ menyodorkan harapan dan mimpi baru bagi sinema Asia di era yang ditandai oleh tingginya risiko, kerentanan, dan ketidakpastian dalam nyaris semua aspek kehidupan kita. Seiring dengan perjalanan menuju kematangan yang utuh, masa depan pun merekah dengan segenap kemungkinannya. 

 

Bergerak melampaui pengakuan global serta banjir penghargaan, sinema Asia memasuki fase baru yang ditandai oleh pelbagai kisah, tema dan stilistika baru. Semua itu merupakan karya generasi baru pembuat film Asia yang senantiasa merawat capaian sinematik yang mengagumkan seraya mengusung berbagai persoalan sosial dan politik yang penting. Dengan menggunakan metafora ‘Blossom,’ kita bakal mampu mengenali kesegaran maupun watak inventif  sinema Asia.

LPP 1 | WED, 30 NOV| 15:00 - 17:00

Speakers

Isabelle Glachant

Isabelle Glachant

Isabelle Glachant memulai karirnya sebagai reporter di stasiun TV Prancis Canal +. Dia kemudian pindah ke perfilman sebagai produser eksekutif SHANGHAI DREAMS (WANG Xiaoshuai, Festival Film Cannes, Hadiah Juri, 2005). Sejak itu, dia telah bermain di beberapa film WANG Xiaoshuai, termasuk "11 Flowers", produksi resmi Prancis-Cina pertama, dan telah bekerja dengan sutradara seperti LI Yu, LU Chuan, dan LOU Ye. Glachant adalah pendiri perusahaan produksi CHINESE SHADOWS di Hong Kong dan SHASHA & CO PRODUCTION di Prancis. Perusahaan-perusahaan ini telah membuat film seperti "Three Sisters" karya WANG Bing (Penghargaan Film Terbaik Venezia Orizzonti, 2012), film dokumenter "Chinese Potrait" karya WANG Xiaoshuai (Festival Film Internasional Busan, 2018), dan "Marlina The Mur" karya Mouly Surya. Glachant juga memulai International Boutique Sales Company ASIAN SHADOWS, yang mewakili film-film karya talenta, Maestro dan pendatang baru Asia seperti "Coming Home Again" oleh Wayne WANG, "Siti" oleh Eddie CAHYONO, dan "Memories of My Body" oleh Garin Nugroho. Kementerian Kebudayaan Prancis menjadikan Glachant sebagai Knight of the Order of Arts and Letters, dan dia juga merupakan perwakilan Greater China untuk French Industry Promotion association UniFrance.

Kamila Andini

Kamila Andini

Kamila Andini adalah seorang ibu dan pembuat film yang tinggal di kota Jakarta, Indonesia. Ketertarikannya pada isu sosial budaya, kesetaraan gender, dan lingkungan mendorongnya untuk bercerita melalui film dari sudut pandang penceritaan yang khas. Pada tahun 2011, ia membuat film panjang pertamanya, "Laut Bercermin," yang bercerita tentang seorang pengembara laut di lautan Indonesia. Dan pada tahun 2017, ia merilis film keduanya, "The Seen and Unseen", yang didasarkan pada dualitas filosofi Bali Sekala Niskala. Kedua film tersebut telah berpartisipasi lebih dari 50 festival film di seluruh dunia dan memenangkan sekitar 30 penghargaan, termasuk Grand Prix winner best feature film di Berlinale Generation kplus 2018. Film panjang ketiganya, "Yuni", ditayangkan perdana di Toronto International Film Festival 2021 dan memenangkan Platform Prize. Film panjang keempatnya "Nana" (Before, Now & Then) berkompetisi di Berlinale 2022 dan memenangkan Best Supporting Performance, dan juga Best Film di Asia Pacific Screen Award 2022.

Phillip Cheah

Phillip Cheah

Philip Cheah adalah kritikus film dan editor BigO, satu-satunya majalah budaya pop independen di Singapura. Dia bekerja sebagai konsultan program dan penasehat festival film di Shanghai (China), El Gouna (Mesir), River Meets Mountain (India), Adoor (India), Yogyakarta (Indonesia), dan Hanoi (Vietnam) (Vietnam).

Dia turut mendirikan South-east Asian Film Festival and the Asia Pacific Screen Lab, dan dia adalah teladan di SEA (South-east Asia) Screen Academy di Makassar, Indonesia. Ia juga penasihat spiritual di Bakunawa Young Cinema Film Festival, Filipina. Dia merupakan co-editor dari buku Garin Nugroho: And the Moon Dances, Noel Vera: Critic After Dark, dan Ngo Phuong Lan: Modernity and Nationality in Vietnam Cinema. Dia menerima Penghargaan Kehormatan dari Cinemalaya Independent Film Festival ke-15 pada tahun 2019, penghargaan untuk Achievement in the Promotion of Kyrgyz film by the Kyrgyzstan Film Critics pada tahun 2010, penghargaan untuk mempromosikan film Vietnam oleh Vietnam Cinema Association pada tahun 2008, Penghargaan untuk Sinema Asia pada Cinemanila International Film Festival ke-8 pada tahun 2006, dan Penghargaan Sinema Korea pada Pusan International Film Festival ​​ke-9 pada tahun 2004.

Moderator

Budi Irawanto

Budi Irawanto

Budi Irawanto adalah seorang Dosen Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain berprofesi sebagai seorang Dosen, ia juga digunakan sebagai Festival Director di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) sejak Agustus 2006 hingga saat ini.

Budi adalah lulusan sarjana komunikasi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, lalu ia melanjutkan studinya ke jenjang Master of Arts (MA), Media and Information Studies, Curtin University, Australia. Pada tahun 2015 ia berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.), Southeast Asian Studies di National University of Singapore / NUS.

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail

Talks: What Does Film Publicist Do? by thePublicist

Keberadaan publisis mulai muncul kasat mata sejak ekosistem perfilman Indonesia mulai bangkit dari mati surinya. Publisis tidak dipungkiri memiliki peran dan fungsi yang signifikan dalam memperkenalkan sebuah produksi film ke publik. Publisis merancang strategi publikasi dan promosi, mengatur hubungan dengan media, hingga menjalin kerja sama dengan tempat pemutaran dan mitra terkait lainnya. Dalam melaksanakan peran dan fungsinya, publisis bekerja sama erat dengan produser, serta menjalin komunikasi dan pendekatan yang baik bersama para kru dan aktor. Publisis juga harus jeli mempelajari respon publik dan mengevaluasi efektivitas strategi yang sedang berjalan secara berkala. Program Talks ini bertujuan untuk menjelaskan keberadaan serta peran dan fungsi publisis di lanskap perfilman Indonesia.

LPP 1 | TUE, 29 NOV | 15:00 - 17:00

Speakers

Ifa Isfansyah

Ifa Isfansyah

Ifa Isfansyah adalah lulusan dari Jurusan Televisi Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia memulai karirnya di perfilman sebagai Produser dan Sutradara beberapa film pendek, termasuk "Harap tenang, ada ujian!" (Tokyo ShortShort, Competition, 2006) dan "Setengah Sendok Teh" (Grand Prize Hong Kong Independent Film Video Award & competition, IFFR 2008). Pada tahun 2001, ia mendirikan Fourcolours Films dengan pembuat film lokal lainnya untuk memproduksi dan mendukung pembuat film Indonesia. Ia terpilih oleh Asian Film Academy BUSAN pada tahun 2006 dan mendapat beasiswa untuk kuliah di Im Kwon Taek College of Film & Performing Arts, KOREA. Kemudian kembali ke Indonesia, dan menyutradarai film fitur pertamanya, "Garuda di Dadaku" (2009), yang meraih kesuksesan komersial yang luar biasa. Film keduanya, "Sang Penari" (2011) mendapat penghargaan Sutradara Terbaik dan Film Terbaik di Festival Film Indonesia. Selanjutnya, ia memproduseri film "Siti" (Eddie CAHYONO, TELLURIDE 2015), "Turah" (Wicaksono Wisnu LEGOWO, Perwakilan Indonesia untuk OSCAR 2018), "The Seen and Unseen" (Kamila ANDINI, Grand Prix Generation K-Plus Berlinale 2018 ), "Kucumbu Tubuh Indahku" (Garin NUGROHO, Best Film 3 CONTINENT FF 2018) dan "Yuni" (Kamila ANDINI, Platform Prize Toronto IFF 2021). Isfansyah juga merupakan pendiri JOGJA-NETPAC Asian Film Festival yang dimulai pada tahun 2006 dan pendiri JOGJA FILM ACADEMY yang didirikan pada tahun 2014.

Emira Pattiradjawane

Emira Pattiradjawane

Emira Paradytia Pattiradjawane atau akrab disapa Mia, menyelesaikan studi S1 Ilmu Komunikasi (2011) dan S2 Ilmu Komunikasi (2022) di Universitas Prof. Dr. Moestopo. Ia mulai terlibat di dunia perfilman sejak tahun 2006 saat masih duduk di bangku SMA ketika menjadi usher di Festival Film Pendek Konfiden. Setelah lulus SMA, ia bekerja sebagai staf administrasi di Festival Film Pendek Konfiden (2006-2009), executive assistant di sekolah kursus skenario "Serunya Scriptwriting" (2010-2011), dan account executive di perusahaan PR Agency "Think Opposite" (2011-2013). Ia kemudian bergabung dengan MediAN Publicist sebagai project assistant pada tahun 2013-2018 dan menangani beberapa film, antara lain Ada Apa Dengan Cinta 2 (Riri Riza, 2016), Kartini (Hanung Bramantyo, 2016), Banda: The Dark Forgotten Trail (Jay Subyakto, 2017), Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (Angga Dwimas Sasongko, 2018), dan Korea Indonesia Film Festival 2014-2018. Pada tahun 2019, bersama Andi F. Yahya dan Frederika K. Dapamanis, membentuk thePublicist yang telah menangani publikasi beberapa film, teater, buku, dan festival, serta tergabung dalam Komite Festival Film Indonesia 2021-2023.

Michael Ratnadwijanti

Michael Ratnadwijanti

Michael Ratnadwijanti mulai menekuni profesi sebagai publisis film pada 2012 dengan mengerjakan beberapa project film layar lebar bersama dua rekannya saat itu, yaitu Ade Kusumaningrum, publisis film senior, dan Nauval Yazid, yang banyak berperan sebagai festival programmer. Tidak lama berselang, ia bersama kedua rekannya membentuk MediAN Publicist, perusahaan yang bergerak di bidang publisis film. Bersama MediAN Publicist, Michael mengerjakan promosi dan publikasi beragam film layar lebar, di antaranya Ada Apa Dengan Cinta 2 (Miles Films, 2016), Kartini (Legacy Pictures, 2017), Kulari Ke Pantai (Miles Films, 2018), dan Wiro Sableng (Lifelike Pictures, 2018).

Awal perjalanan karirnya di industri film ia jajaki pada 2004 dengan menjadi peneliti untuk sebuah project dokumenter produksi Salto Films lalu beberapa kali terlibat dalam Jakarta International Film Festival sebagai tim humas dan media relation. Sejak itu kecintaannya terhadap film dan ketertarikannya pada industri media telah membawanya secara konsisten mendalami industri film sebagai publisis. Saat ini ia menjabat sebagai Head of Marketing, Promotion & Distribution Miles Films, sebuah rumah produksi independen yang telah berdiri lebih dari 25 tahun dan dikenal sebagai rumah produksi yang menjadi pionir lahirnya generasi baru penonton Indonesia melalui film legendaris Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002).

host

Alexander Matius

Alexander Matius

Kurator film yang berdomisili di Jakarta. Saat ini, ia menjadi programmer untuk Kinosaurus dan FLIX Cinema, sekaligus menjalankan bisnis perkakas rumah tangganya. Matius juga pernah menjabat sebagai Manajer (2014-2016) di kineforum, ruang pemutaran film alternatif pertama di Jakarta, selain terlibat di berbagai program pemutaran film, salah duanya di RRREC Fest in the Valley dan Synchronize Fest. Sejak 2018, ia belajar lebih banyak mengenai kuratorial film dan manajemen ekshibisi melalui sejumlah lokakarya, seperti Film Programming Workshop di Jepang & Filipina, Art-House Cinema Workshop di Venezia, dan Berlinale Talents.

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail

Book Talks: Maternal Horror (Memaksa Ibu Menjadi Hantu)

Buku Maternal Horror ditulis untuk memeriksa jejak wacana maternal horror (termasuk hantu perempuan) di 580 film horor Indonesia tahun 1970-2020 di mana selama lebih dari 51 tahun tersebut, film horor Indonesia selalu memposisikan perempuan dan ibu sebagai hantu atau sumber teror dalam film.

 

Buku Memaksa Ibu Jadi Hantu menjadikan dua film tersebut sebagai bekal untuk menelusuri historisitas sosok monstrous mother dalam film horor Indonesia dari tahun 1970 (maternal horror films).

 

Dalam program diskusi buku ini, kita akan menyimak bahasan maternal horror dalam buku Memaksa Ibu Jadi Hantu secara lebih dalam dilihat dari sudut pandang penulis buku serta mengetahui latar belakang konsep cerita maternal horror dalam film dari sudut pandang penulis dan sutradara film horror.

LPP 1 | MON, 28 NOV | 15:00 - 17:00

Speakers

Anisa Winda Larasati

Anisa Winda Larasati

Annissa Winda Larasati adalah lulusan studi media. Ia meraih gelar master dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan jurusan Kajian Budaya dan Media. Saat ini, ia berprofesi sebagai dosen luar biasa pada program studi Televisi dan Film di Universitas Padjadjaran.

Justito Adiprasetio

Justito Adiprasetio

Justito Adiprasetio adalah pengajar di Departemen Komunikasi Massa, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Saat ini ia mengajar mata kuliah Kajian Media dan Budaya Populer yang membuat dirinya harus terus memperbarui glosarium film kontemporer Indonesia. Justito telah menulis buku tentang sejarah poligami di Jawa dan saat ini sedang mempersiapkan penerbitan buku Komunikasi dan Kuasa: Sejarah Pengkajian dan Ilmu Komunikasi dalam Diskursus Epistemik Indonesia.

Joko Anwar

Joko Anwar

Joko Anwar berkarir dalam dunia jurnalistik dan kritik film sebelum menjadi pembuat film. Sekarang, ia dikenal sebagai pembuat film serbabisa yang karyanya mencakup film-film arthouse pemenang penghargaan hingga film-film box office. Film-filmnya antara lain adalah "Kala" dan "Pintu Terlarang" (keduanya masuk dalam daftar Film Terbaik BFI's Sight and Sound Magazine's Best Films of the year), "A Copy of My Mind" (Venesia, Toronto), "Pengabdi Setan" film Indonesia berpendapatan tertinggi tahun 2017, film pahlawan super "Gundala" (Toronto), dan hit horor "Impetigore" (Sundance), yang juga menjadi perwakilan Indonesia untuk Academy Awards. Film terbarunya, "Pengabdi Setan 2" (2022), yang sukses secara kritis dan komersial, merupakan film terlaris sepanjang masa ketiga di Indonesia.

Moderator

Elok Santi Jesica

Elok Santi Jesica

Elok Santi Jesica, adalah dosen di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta asisten dosen di Program Studi S2 Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada. Ia merupakan lulusan dari Jurusan Seni dan Desain, Program Studi Sarjana Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Malang dan Program Magister Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada. Saat ini ia berstatus sebagai mahasiswa Program Doktor Sosiologi di Universitas Gadjah Mada. Beberapa tulisan yang telah ia publikasikan adalah “Monumen Ingatan dan Obsesi Perjalanan Seni Rupa Indonesia: Kajian Ruang pada Pameran Tetap Galeri Nasional Indonesia” dalam buku bunga rampai Politik Ruang: Spasialitas dalam Konsumerisme, Media, dan Governemntalitas (2021), “Sinema Perempuan dalam Pandangan Teresa de Lauretis” dalam buku bunga rampai Melintas Perbedaan: Suara Perempuan, Agensi, dan Politik Solidaritas (2021), “Selling Spectacular Urban Life: Urban Space and Lifestyle in The Promotion Media of Apartment in Yogyakarta" Vol. 8, No. 1 (2021) Journal of Urban Society's Arts yang ditulis bersama dengan Dr. Ratna Noviani, serta “Re-Figurasi Sosial Dalam Praktik Peminjaman Dana Berbasis Teknologi Media Digital: Studi Kasus Atas Platform Cicil ” Vol. 24 No.2 (2022) Jurnal Masyarakat dan Budaya, yang ditulis bersama Dr. Ratna Noviani dan Rizki Cesira W.

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail

JAFF Education: Acting Workshop with Bengkel Acting Kuma

Program ini merupakan pelatihan pengenalan dasar akting yang akan diajarkan oleh Kuma Acting Workshop, dengan materi yang meliputi teori, rasa, dan pengetahuan profesionalisme aktor dalam industri film.

LPP 1 | MON, 28 NOV - WED, 30 NOV | 10:00 - 13:00


Bengkel Akting Kuma

Bengkel Akting Kuma didirikan pada tahun 2016 oleh Paul Agusta dan Khiva Iskak demi berusaha menjawab masalah kekurangan SDM seni peran di Film Indonesia.Pada tahun 2018, syllabus BAK diperlebar dengan latihan kebutuhan dan olah rasa yang diampu oleh Artasya Sudirman dan Kiki Narendra. Pasukan mentor pun bertambah seiring dengan meningkatnya demand terhadap workshop BAK, lalu alumni BAK Mian Tiara dan Brigitta Cynthia bergabung sebagai Mentor di tahun 2021. Tujuan BAK tetap sama yaitu melatih SDM seni peran yang berkualitas, profesional, dan bertanggung jawab terhadap profesinya.

Speakers

Paul Agusta

Paul Agusta

Paul adalah seorang filmmaker, aktor, dan pengajar yang berbasis di Jakarta. Karya-karyanya, 5 film panjang dan puluhan film pendek, telah tayang di berbagai festival internasional. Paul sedang mempersiapkan film panjang ke-enamnya berjudul Sayembara yang akan tayang di akhir 2023.

Mian Tiara

Mian Tiara

Mian Tiara adalah seorang aktris, musis, dan penulis skenario. Belajar seni peran di Bengkel Akting Kuma dan berperan di beberapa film panjang, pendek, series, dan pertunjukan panggung. Penerima penghargaan Piala Citra untuk Pencipta Lagu Tema Terbaik pada Festival Film Indonesia 2021 ini juga aktif mengkampanyekan ruang aman di industri film.

Khiva Iskak

Khiva Iskak

Mengenal seni peran diatas panggung sejak umur delapan tahun bersamaan tumbuh mencintai sinema. Khiva tumbuh melewati pembelajaran teater melalui Bengkel Teater Rendra dan mengenal realisme bersama Teater Populer. Pada 2011 ia memulai karirnya di dunia layar lebar hingga kini. Lalu bersama Paul Agusta mendirikan Bengkel Akting Kuma pada tahun 2016 dan setelahnya sudah memiliki 14 batch baru para calon aktor.

Artasya Sudirman

Artasya Sudirman

Memulai perjalanan keseniannya pada tahun 2002 bersama Teater Tetas yang membawanya menjajaki panggung Eropa ( 2012 ) dan tour Eropa keduanya di 2016, atas arahan sutradara asal Austria Werner Schulze. Di tahun 2010, Artasya menerbitkan buku pertamanya Adriana, dilanjut dengan Singgah, dan Jika, ia juga turut andil dalam buku kumpulan puisi : menuai sajak di kebun raya bersama Sapardi Djoko Darmono. Bergabung kembali di Teater Populer pada tahun 2012. Dan masih aktif di keduanya hingga sekarang.

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail

Talks: Maximizing your Potential by Lumix

Salah satu hal tersulit dalam membuat film adalah memberdayakan apa yang ada untuk menghasilkan film yang memiliki nilai yang lebih. Dalam diskusi ini, kita akan mengetahui kiat-kiat untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki dari segi produksi dan kreatif. Bagaimana caranya agar kita dapat mengelola apa yang telah tersedia dan mengubahnya menjadi sebuah film yang mendunia. 

LPP 1 | SUN, 27 NOV | 14:00 - 17:00

Speakers

Said Nurhidayat

Said Nurhidayat

Said Nurhidayat adalah produser film pendek berbasis di Jogja. Sejak tahun 2018 Ia memproduseri film diantaranya: "Kembalilah Dengan Tenang (Rest In Peace)" berkompetisi di Clermont Ferrand International Short Film Festival 2019, Rio de Janeiro Curta Cinema 2019 dan terpilih dalam Festival Film Indonesia di kategori film pendek terbaik tahun 2019. Film "Kisah Cinta Dari Barat (West Love)” 2021 berkompetisi di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2021 dan masuk nominasi Festival Film Indonesia di kategori film pendek terbaik tahun 2021. Film pendek barunya "Dancing Colors" terpilih untuk berkompetisi di Pardi di Domani, Locarno International Film Festival 2022.

Wahyu Agung Prasetyo

Wahyu Agung Prasetyo

Tahun 2015 ia bersama teman- temannya menginisiasikan sebuah rumah produksi karena sadar harus mempunyai wadah untuk menampung hasratnya dalam membuat film. Kini ia fokus berkarir dalam bidang penyutradaraan. Beberapa karya film pendeknya mendapat apresiasi dari festival film nasional dan internasional, di antaranya Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Indonesian Film Festival Australia, World Cinema Amsterdam, dan Piala Maya. Menurutnya, Jogja, Film, dan Ravacana adalah sejarah terpenting dalam hidupnya.

Lahir di Jakarta, Kamis Legi, 5 Agustus 1993. Agung di masa kecil selalu berimajinasi ingin menjadi seorang pilot dan pembalap. Namun, ketika beranjak dewasa, ia baru menyadari bahwa menjadi pilot dan pembalap hanyalah sebatas permainan imajinasinya saja. Permainan imajinasi itu tanpa sengaja membawanya mengenal sebuah seni bernama film. Jogja adalah kota yang mempertemukannya pada film. Pada tahun 2011, ia memulai jejak karirnya dalam dalam membuat film.

Moderator

Stefanus Cancan

Stefanus Cancan

Stefanus Cancan, adalah seorang produser, sutradara, dan founder Kératif Film School - organisasi yang berfokus pada edukasi film di Indonesia. Filmnya Angpao telah dinominasikan dalam Film Pendek Terbaik di Piala Maya dan Minikino Bali International Film Festival. Beberapa filmnya telah diseleksi dan ditayangkan di beberapa negara seperti Inggris, Berlin, Nigeria, India, Korea Selatan, dan Filipina.

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail

Subtitling Workshop with Servis Bahasa

Dalam workshop ini, kami ingin memperkenalkan subtitling untuk pemula dan berbagi pengalaman kami dalam penerjemahan audiovisual di Servis Bahasa. Mengingat permintaan untuk distribusi internasional dalam industri film semakin kuat, kami berharap subtitle dapat pula dilihat sebagai sebuah seni, karena kami ingin mempertimbangkan konteks yang lebih dalam dalam film apapun melalui proses interpretasi dialog. Dengan memperkenalkan teknik dasar subtitling dan sekilas gambaran tentang ekosistem profesionalnya, kami ingin agar peserta dapat memiliki keterampilan subtitling.

LPP 1 | SUN, 27 NOV & SAT, 3 DEC | 10:00 - 12:00

Servis Bahasa:

Servis Bahasa didirikan di Yogyakarta pada November 2018. Penyedia layanan bahasa ini didirikan atas dasar kecintaan kami terhadap sinema, bahasa, dan komunikasi. Kami percaya bahwa sebuah pesan dapat melampaui kata dan kalimat. Penting juga bagi kami untuk memahami konteks setiap terjemahan sebagai panduan dalam menyampaikan pesan ini kepada khalayak yang lebih luas atau lebih spesifik.

Speakers

Ika Wulandari

Ika Wulandari

Sejak 2013, ia telah membuat film dan menulis subtitle. Sebagian besar hal yang dia terjemahkan berkaitan dengan film, seperti subtitle, treatment, skrip, dan proposal proyek. Dia telah bekerja sebagai koordinator dan penerjemah untuk organisasi nirlaba seperti NETPAC (Network for the Promotion of Asia-Pacific Cinema) dan In-Docs, serta di banyak film untuk sutradara Indonesia. Dia juga telah membuat subtitle untuk film dokumenter TV di NHK World dan Channel News Asia, serta telah menerjemahkan sejumlah video pendidikan dan laporan tahunan untuk UNFPA, Pemerintah Australia, UN Women, dan LSM Indonesia dan internasional lainnya.

Robert Stitson

Robert Stitson

Robert pernah bekerja untuk Edinburgh International Film Festival dan Filmhouse cinema selama 3 tahun, dan telah tinggal di Indonesia selama hampir 5 tahun. Ia memiliki pengalaman luas dalam penyuntingan bahasa Inggris untuk proyek-proyek terjemahan film dan audio-visual bagi banyak Sineas Independen Indonesia.

0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinRedditWhatsappTelegramEmail