Menjadi berbeda dari kebanyakan orang memang tidak mudah, namun bagaimana jika anak kecil yang mengalaminya? Hal inilah yang digambarkan dalam film I Am Zal oleh Hooman Naderi. Zal dalam judul diambil salah satu tokoh dari syair gubahan Ferdowsi berjudul Shahnameh. Zal digambarkan sebagai seseorang yang lahir dengan tubuh, rambut dan bulu mata putih. Karena ketakutan ayahnya akan cemoohan masyarakat, ayahnya pun menelantarkan Zal di Gunung Alborz. Simorq, seekor burung yang bijaksana menemukan Zal dan membawa anak kecil itu ke sarangnya. Simorq pun merawat Zal hingga dia tumbuh menjadi manusia yang kuat dan berbudi luhur.

Sayangnya, cerita Zal yang bahagia tidak dialami oleh Daniel, anak yang terlahir dengan ciri fisik seperti Zal (albino). Alih-alih dirawat oleh Simorq yang bijaksana, Daniel dirawat oleh ibunya yang ngedrugs dan suka memukulinya. Saat tahu Daniel akan memerankan Zal di acara teatrikal sekolahnya, Ibunya mencukur rambut Daniel dan memukulnya lagi hingga menimbulkan memar. Ibunya menganggap menjadi albino adalah kutukan -yang membuat suaminya menelantarkan mereka-.

Lewat film ini, kita dapat melihat perspektif lain terkait isu perbedaan identitas dan kekerasan pada anak. Hooman Naderi mengangkat cerita ini berdasarkan buku berjudul A Child Called It oleh David Pelzer. Buku ini membahas tentang kekerasan yang dialami David semasa kecil oleh Ibunya yang alcoholic dan bagaimana ayahnya tidak berperan untuk menyelesaikan masalah ini.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, anak seringkali ditelantarkan karena dianggap “hanya mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya”. Pada akhirnya, anggapan tersebut hanya membebani mental anak sehingga dia terus terbelenggu dalam ketakutan. Film ini menggambarkan konflik itu dari sudut pandang Daniel. Di satu sisi, dia sangat ingin memerankan tokoh Zal, tapi di sisi lain dia ketakutan dengan ancaman Ibunya. Daniel pun memilih menyimpan ketakutannya sendiri; yang juga seringkali dilakukan oleh anak korban kekerasan di suatu keluarga.

Pada akhirnya, “I Am Zal” dapat menggugah satu pertanyaan di benak penontonnya: Adakah cinta orangtua di saat “aku” berbeda dari orang kebanyakan. Kisah Daniel yang sebelumnya pernah menang di Indonesian Film Festival (IFF) di Australia sebagai Best Film kategori Film Pendek akan ditayangkan di program Asian Perspectives: Shorts dalam perhelatan 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival. (2019)

Ditulis oleh Ima G. Elhasni | Disunting oleh vanis