Film terbaru karya sutradara Djenar Maesa Ayu kali ini berkolaborasi dengan Kan Lume sutradara asal Singapura yang berjudul hUSh.  Film ini diproduksi tahun 2016 oleh Rumah Karya Sjuman. Film bergenre drama ini dibintangi oleh Cinta Ramlan seorang artis sekaligus penyanyi. hUSh termasuk jenis film dokumenter yang menceritakan kisah kehidupan Cinta dan termasuk karya mockumentary.

Cinta Ramlan, perempuan asal Bali ini bertekad menjadi penyanyi dengan merantau ke ibu kota Jakarta. Demi menggapai kesuksesannya dia harus melewati rintangan demi rintangan kehidupan yang ditemuinya. Dari kekasihnya yang tidak tulus mencintainya hingga sahabatnya yang berubah menjadi sangat materialistik. Perjuangan Cinta mengadu nasib di Jakarta sangat dia pikirkan matang-matang dengan pikiran yang tenang dan tekad yang bulat.

Kisah perjalanan cinta nya dengan kekasihnya yang dahulu membuat Cinta sadar tentang bagaimana hubungan seorang perempuan dan laki-laki. Hingga berujung pada berakhirnya hubungan dengan sang kekasih. Cinta dengan berat hati harus melakukan hal-hal yang diluar dugaannya seperti merelakan calon bayinya dari hubungan dengan mantan kekasih.

Film yang kebanyakan belokasi di Bali dan Gili Lombok ini selain menggambarkan keindahan pantainya juga menggambarkan bagaimana kehidupan di Bali dengan banyaknya turis asing yang memadati. Dari kebanyakan film yang Djenar buat memang bertemakan tentang perempuan dengan kejahatan seksualnya. Film ini juga bertujuan agar kita mengetahui bagaimana kondisi perempuan pada saat ini. Hak perempuan yang selalu diremehkan dan disingkirkan.

hUSh tayang perdana 2 Desember 2016 pada 11th Jogja-Netpac Asian Film Festival dengan menghadirkan sutradara Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume serta pemeran utamanya sendiri yaitu Cinta Ramlan. Setelah pemutaran film hUSh seperti biasanya Djenar menggelar sesi tanya jawab di ruang terbuka lesehan di Empire XXI. Penonton begitu antusiasnya menyaksikan hUSh dan menyimak semua paparan dari Djenar.

Dalam sesi tanya jawab, Kan Lume sutradara pertama yang berkolaborasi dengan Djenar ikut memaparkan juga tentang tanggapan masyarakat dengan karya Djenar. “Buku-buku Djenar bisa merubah apapun tidak hanya kaum perempuan tetapi juga para lelaki”, ujar Kan Lume mengutarakan respon seorang laki-laki tentang buku Djenar. Karya Djenar juga merubah bagaimana kaum lelaki harus memperlakukan sosok wanita. Selain itu film ini bukanlah menjadi pencapaian tetapi bisa menjadi suara yang tercapaikan.

Salma Durroh S