Marlina memenggal kepala pemerkosanya. Ia mempertahankan martabat diri sebagai perempuan.

Pemutaran perdana di Indonesia Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak (07/11) sukses membuka perjalanan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12. Film ini berhasil menjaring animo dan tanggapan positif dari masyarakat. Penikmat sinema pun tergerak berbondong-bondong membeli tiket hingga memenuhi ruang pemutaran CGV Cinemas Hartono Mall.

Film besutan Mouly Surya itu membawa kisah sederhana tentang potret perempuan Indonesia. Menariknya, perspektif perempuan yang diangkat justru berasal dari daerah yang masih jarang dieksplorasi oleh para sineas Indonesia, yakni Sumba. Padang sabana Sumba yang kering dan gersang, kekerasan budaya maskulin, serta alunan musik western menyempurnakan narasi Mouly. “Di sini, Marlina mempunyai peranan gender sebagai perempuan yang bisa dibilang go full circle. Tadinya dia seorang istri, akhirnya menjadi janda, dia pernah menjadi ibu, dia menjadi korban, dan dia berada di dapur,” ungkap Mouly.

Di sisi lain, Marsha Timothy mengaku harus menjalani rangkaian latihan berat sebelum memerankan tokoh Marlina. Ia harus berlatih dialek Sumba, menunggang kuda, dan mengendarai sepeda motor. Film ini juga menjadi kesempatan perdana Marsha untuk memerankan tokoh dari suku Sumba dengan dialek yang khas. Efek sinematografi yang digawangi oleh Yunus Pasolang terbukti memperkuat kekayaan artistik film ini. Semacam keheningan yang membeku, tapi sekaligus menonjolkan rasa sesak yang diderita Marlina di tengah-tengah para lelaki yang menyatroni rumahnya. Meski arus western jelas tampak, tapi nuansa Sumba dan Indonesia tetap kentara.

Sepanjang tahun 2017, film ini tidak hanya menarik minat penikmat sinema dalam negeri, melainkan juga telah melanglang buana di berbagai festival internasional. Bahkan, Marsha Timothy berhasil meraih penghargaan sebagai aktris terbaik di Festival Film Sitges, Spanyol. Tak ayal, jika perjalanan panjang Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak dibayar dengan pujian masyarakat sinema Yogyakarta. “Saya ingin mengucapkan selamat untuk (sineas, pen.) Indonesia yang masih mampu menghadirkan film-film berkualitas internasional,” ujar seorang penonton bernama Giovani seusai pemutaran.

Achmad FH Fajar