Setelah berkelana ke berbagai festival internasional, akhirnya film The Seen and Unseen menyambangi Yogyakarta sebagai kota pertama pemutaran di Indonesia, tepatnya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12 “Fluidity” dalam program Asian Feature. Film yang berlatar belakang perdesaan di Pulau Bali ini digarap dengan sinematografi apik dan jalan cerita yang menghanyutkan. Kisah persaudaraan kakak-beradik kembar ‘buncing’ pun menjadi objek utama dalam cerita ini. Namun, sang sutradara ternyata memiliki tujuan lain mengenai apa yang ingin ditampilkan dalam The Seen and Unseen.

Salah satu contoh yang paling kentara adalah efek sinematografi, khususnya suasana malam hari yang sangat dominan sepanjang film. “Setiap film punya efek berbeda di setiap bagian. Tapi memang film ini ingin memberikan pintu-pintu tentang banyak macam emosi seperti takut, terganggu, ngeri, dan lain sebagainya. Nah, memang film ini seperti itu tujuannya,” ujarnya seraya tersenyum puas setelah sesi tanya jawab di Empire XXI Yogyakarta, Selasa (5/12). The Seen and Unseen yang oleh masyarakat Bali sendiri merupakan kepercayaan Sekala Niskala ingin menuturkan bahwa hidup haruslah selaras dengan apa yang terlihat dan tidak terlihat. Maka terdapat banyak sisi magis sepanjang film dan perbedaan tipis antara khayalan atau halusinasi sang tokoh terhadap kenyataan. Meski begitu, Kamila tetap bisa menunjukkan bahwa film ini merupakan sebuah perspektif anak-anak tentang melihat bagaimana hidup dan mati bagi mereka. Hal in terwujud dalam visual yang menceritakan kesedihan antarsaudara kembar ketika salah satunya menderita sakit parah dan mulai kehilangan kepekaan indranya.

Film yang sejak dipublikasikan telah membius para penikmat film untuk segera menontonnya ini, dengan senang hati diberikan Kamila untuk diputar di JAFF tahun ini. Alasannya, kedekatan dan kepercayaannya terhadap festival tahunan inilah yang meyakinkannya bahwa JAFF adalah salah satu medium yang tepat, untuk mempertemukan karya keduanya ini dengan penonton. “JAFF sudah 12 tahun menjadi ruang untuk ‘membaca’ film yang menurut saya sangat penting. Seperti terlihat, film ini (The Seen and Unseen) cukup art house, tidak mudah membaca film seperti ini sebenarnya. Tapi saya percaya penonton dan programmer JAFF, bahwa mereka bisa membaca film ini seperti seharusnya. Apresiasi terhadap interpretasi, keberagaman cara bertutur dan lain-lain itu yang sangat saya nantikan untuk film ini bertemu dengan audience di sini, di JAFF Jogja,” paparnya ramah.

Angela Shinta Dara Puspita