Usaha untuk terus mengangkat wajah komunitas film Indonesia kian  marak dilakukan seiring pertumbuhan industry film nasional yang melesat. Kali ini sebuah lembaga riset yang menaruh minat besar terhadap dunia perfilman Indonesia turut andil di dalamnya. Cinema Poetica Research Centre (CPRC) memprioritaskan diri dalam menghasilkan riset yang berkualitas, strategis dan independen untuk pelaku industri media audiovisual secara khusus dan untuk public umum.

Dalam sesi sharing Forum Komunitas JAFF 2016 yang digelar di Grhatama Pustaka, Kamis (1/12) CPRC memaparkan hasil temuan awalnya yaitu Pemetaan Komunitas Film Di Indonesia. Temuan awal ini  memanfaatkan data dari TKFI (Temu Komunitas Film Indonesia) yang diikuti oleh 77 komunitas di bulan Maret 2016 yang lalu. Penelitian ini dilakukan atas dasar keinginan untuk menggambarkan perfilman Indonesia dewasa ini, namun ironisnya data perfilman hanya didominasi data-data bioskop, data jumlah penonton, data jumlah film Nasional dan itu sangat  terbatas untuk mewujukan keinginan tersebut. Melalui riset awal ini, CPRC berusaha membatasi keterbatasan data-data itu, bahwa ekosistem perfilman Indonesia tidak hanya flm-film di bioskop, melainkan ada komunitas film yang juga layak kibarkan. Jika data bioskop dengan logika industri punya standar sendiri, komunitas film pun mendapati tantangan di mana data-data awal pun tak ditemukan, itu sebabnya CPRC menjembatani hal itu.

Hasil dari analisis pertama inipun resmi keluar di bulan Oktober  yang lalu dan baru di presentasikan ke beberapa kelompok diantaranya Asosiasi Produser Film Indonesia dan Pusat Pengembangan Perfilman karena itu merupakan lembaga yang baru bisa dijangkau oleh CPRC.

Satu yang menarik dari hasil riset itu adalah, dimana dari 77 komunitas di Jawa, 70 % menunjukkan bahwa mereka aktif  mengarah ke eksibisi film dibanding dengan 5 atau 10 tahun yang lalu di mana komunitas film hanya memiliki aktivitas utama yaitu produksi sementara industrinya sedang mati suri.

Salah satu pemateri dari CPRC, Levriana Yustriani menyampaikan keingintahuannya terkait seberapa pentingkah komunitas film daerah untuk  mempunyai program berkelanjutan, berjejejaring dengan komunitas lain, memperluas program, produksi dan membayangkan distribusi di luar festival daerahnya. Jika itu semua menjadi hal yang penting, hambatan dan kebutuhannya  itulah yang perlu didiskusikan. “Cita-cita kami adalah CPRC ingin mengumpulkan dan menyajikan data yang bisa dimanfaatkan bersama, jadi kolaborasi dan kemitraan yang tak terbayangkan sebelumnya untuk menghasilkan nilai ekonomi dari potensi komunitas yang ada, disitulah  akan kami koneksikan lewat data”, papar Levrina.

Kesulitan saat ini adalah membangun database komunitas film di seluruh Indonesia,  dari situlah CPRC sedang membangun system yang memungkinkan bisa mengumpulkan data bersama dari semua komunitas di Indonesia. Itulah sebabnya Levriana mengajak untuk tiap-tiap komunitas untuk segera mengabarkan keberadaan mereka. Dengan data-data tersebut harapan CPRC nantinya banyak identitas kultural melalui karya film yang lebih terakomodasi sehingga wajah film Indonesia tidak lagi separuh-paruh.

Ayub Rohede