FOCUS ON JOKO ANWAR

A Brilliant Cinephile Film Director

By Budi Irawanto

 

Every year Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) focuses on one of unique Asian filmmakers whose works express a fresh and distinctive perspective on Asian culture and society. This year, JAFF is focusing on Joko Anwar who has unabashedly crossed over various genres, experimenting with disparate cinematic styles while at the same time, successfully captivating the audiences. The program of “Focus on Joko Anwar” can perhaps be easily associated with the hype of his recent, commercially successful film Pengabdi Setan (Satan’s Slave, 2017) as the highest grossing Indonesian horror film ever. In fact, this program has been planned since last year as Anwar’s films continue to offer innovative storytelling and stylish imageries transgressing the genre framework while possessing a great social and political sensibility.

Born on 3 January 1976 in an impoverished area in Medan (North Sumatra), Anwar grew up watching martial arts and horror films in cheap movie theatres in his hometown. When he was a middle school student, he wrote a play, which was an adaptation of Shakespeare’s Merchant of Venice. It seems that the worlds of art and film gravitate towards him unfailingly wherever he goes. It comes to no surprise then, that Anwar pursued a career in journalism in the English-language Indonesian newspaper, The Jakarta Post, and later on, as a film critic—in spite of his degree in aerospace engineering from Institut Teknologi Bandung.

In his directorial debut Janji Joni (Joni’s Promise, 2005), Anwar chronicles the life of a deliveryman who encounters various obstacles in keeping his promise to deliver a film reel on time to a movie theatre. Clearly, this film can be seen as the love letter of a cinephile to Indonesian film scene since the special appearance of Indonesian veteran actor Barry Prima can be found. His second film Kala (Dead Time, 2007) is perhaps the first stylistic Indonesian film noir set in an unnamed country that is rife with political conflicts and intrigues. Meanwhile, Joko Anwar’s award winning film Pintu Terlarang (The Forbidden Door, 2009) is a psychological thriller recounting a patient of a mental health hospital who imagines himself as an unusual sculptor haunted by his childhood trauma. The New York Asian Film Festival 2009 dubbed Pintu Terlarang as “one of the sickest, kinkiest movies.”

Similar to his previous film, Modus Anomali (Ritual, 2012) is a thriller depicting a man’s attempt in saving his two children when they disappear during holiday in the woods. A Copy of My Mind (2015) is another Anwar’s film related to the rampant film piracy in Indonesia, intersecting with the current political situations. The main character of this film is a pirated DVDs subtitle maker, who falls in love with a cheap salon worker, whose life is threatened by the political situation heating the country. Conceived after almost five years, Pengabdi Setan (Satan’s Slave, 2017) is his homage to the Indonesian cult horror film. The commercial success of Pengabdi Setan indicates the enduring demand of the Indonesian film audience for quality horror films with a masterful craft and captivating plot. At the same time, Anwar has the capability to leave a distinctive mark in the conventional film genre. Moreover, he is able to elevate the status of horror film as a cheap and tacky production into an artistic piece.

Aside from writing and directing his own films, Anwar also wrote numerous scripts for commercially successful films such as Arisan! (Nia Dinata, 2003), Jakarta Undercover (Lance Laggong, 2007), Quickie Express (Dimas Djayadiningrat, 2007), and Fiksi (Mouly Surya, 2008). He also appeared as a cameo in several his friends’ films to observe and learn the human psyche in order to hone his actor directing skills. To Anwar, the cinema is a universe where he lives and breathes as a truly brilliant cinephile film director in Asia. It is clear that Anwar’s brilliance and ingenuity is a product of his indefatigable commitment to art and film.

Sang Sutradara Cinephile yang Brilian

Oleh Budi Irawanto

 

Setiap tahun, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) memberi fokus pada salah satu sutradara Asia yang unik dan karyanya mengekspresikan perspektifnya yang penuh kesegaran serta distingtif terkait kultur dan masyarakat Asia. Tahun ini, JAFF memfokuskan perhatian pada sosok Joko Anwar yang tanpa tedeng aling-aling melintasi pelbagai genre dan bereksperimen dengan gaya sinematik yang senantiasa berbeda. Program “Focus on Joko Anwar” barangkali gampang disangka terpengaruh oleh histeria kesuksesan film terbarunya Pengabdi Setan (2017) sebagai film horor Indonesia terlaris hingga kini. Kenyataannya, JAFF telah mengancang program ini setahun silam mengingat film Joko Anwar senantiasa menawarkan cara bertutur yang inovatif dan melampaui bingkai genre yang selama ini dikenal, namun tak pernah kehilangan sensibilitasnya pada kondisi sosial-politik masyarakatnya.

Lahir pada 3 Januari 1976 di perkampungan miskin di Medan (Sumatra Utara), Joko Anwar tumbuh dengan menonton film laga dan horor di bioskop murah di kota kelahirannya. Minat pertamanya pada kesenian tampak tatkala ia masih menjadi siswa sekolah menengah pertama dengan menulis sebuah lakon adaptasi dari karya pujangga Inggris William Shakespeare bertajuk Merchant of Venice. Agaknya seni dan film senantiasa menarik Joko Anwar ke mana pun ia mengayunkan langkahnya. Tak mengherankan, kendati ia menyelesaikan studinya dalam Teknik Penerbangan di Institut Teknologi Bandung, ia justru bekerja sebagai jurnalis di koran berbahasa Inggris, The Jakarta Post, dan kemudian menjadi penulis kritik film.

Dalam film yang pertama kali disutradarainya, Janji Joni (2005), Joko Anwar mengisahkan seorang lelaki pengantar rol film yang menemui berbagai rintangan untuk mengantar rol film itu tepat waktu di bioskop demi memenuhi janjinya pada seorang gadis yang menawan. Film ini bisa dibaca sebagai surat cinta seorang cinephile pada perfilman Indonesia karena adanya penampilan aktor kawakan Indonesia, Barry Prima. Film keduanya, Kala (2007), barangkali merupakan film Indonesia yang menggunakan gaya film noir yang berlatar di sebuah negeri antah-berantah yang disesaki konflik dan intrik politik. Sementara itu, film Joko Anwar yang meraih penghargaan internasional, Pintu Terlarang (2009), merupakan thriller psikologis yang mengisahkan pasien dari rumah sakit jiwa yang mengimajinasikan dirinya sebagai pematung yang dihantui oleh trauma kanak-kanaknya.

Nyaris serupa dengan film Joko Anwar sebelumnya, Modus Anomali (2012) merupakan thriller yang melukiskan seorang laki-laki yang berikhtiar menyelamatkan dua orang anaknya yang hilang di hutan ketika mereka berlibur. Film Joko Anwar yang lainnya, A Copy of My Mind (2015), mempertontonkan praktik pembajakan film di Indonesia yang bertaut dengan situasi politik kontemporer. Tokoh utama dalam film itu adalah seorang penerjemah subtitle DVD bajakan yang tengah dilanda asmara dengan seorang pekerja salon murah; hidup keduanya terancam oleh situasi politik yang tengah menghangat. Digagas selama hampir lima tahun, film Pengabdi Setan (2017) merupakan sebentuk persembahan Joko Anwar pada film horor Indonesia yang paling seram. Sukses komersial Pengabdi Setan mengisyaratkan hasrat penonton Indonesia yang tak pernah surut akan film horor berkualitas yang dibesut oleh tangan berbakat dan memiliki alur cerita memikat. Pada saat yang berbarengan, Joko Anwar memiliki kapabilitas meninggalkan jejaknya yang unik pada film genre konvensional. Lebih dari itu, ia mampu mengangkat status film horor yang terkesan murahan menjadi sebentuk karya artistik.

Selain menulis dan menyutradarai filmnya, Joko Anwar menulis sejumlah skenario film seperti untuk film laris Arisan! (Nia Dinata, 2003), Jakarta Undercover (Lance Laggong, 2007), Quickie Express (Dimas Djayadiningrat, 2007), dan Fiksi (Mouly Surya, 2008). Ia juga tampil sebagai cameo (figuran) dalam sejumlah film yang disutradarai oleh kawan-kawannya untuk mempelajari dan mendalami psyche manusia agar bisa mengarahkan dengan lebih baik para aktor dalam film yang disutradarainya. Bagi Joko Anwar, sinema agaknya telah menjadi semesta tempat ia hidup dan bernafas sebagai seorang sutradara film cinephile yang brilian. Kecerdasan sekaligus orisinalitas Joko Anwar, tak pelak, merupakan buah dari kesungguhannya yang tak pernah pupus pada seni dan film.

Janji Joni

Joko Anwar/83 minutes/2005/Indonesia/Fiction


Kala

Joko Anwar/120 minutes/2007/Indonesia/Fiction


Pintu Terlarang

Joko Anwar/115 menit/2009/Indonesia/Fiction


Ritual

Joko Anwar/88 minutes/2012/Indonesia/Fiction


A Copy of My Mind

Joko Anwar/116 minutes/2015/Indonesia/Fiction


Pengabdi Setan

Joko Anwar/107 minutes/2017/Indonesia/Fiction