Dongeng Kancil untuk Kemerdekaan

FOCUS ON GARIN NUGROHO


Director: Garin Nugroho

Duration: 55 minutes

Production: 1995

Country: Indonesia

Category: Documentary

SCREENING


SAT, 1 DES 2018 / CINEMAXX CINEMA A / 13:00

SYNOPSIS


The film follows the daily lives of four street kids in Yogyakarta Kancil, Topo, Sugeng and Hatta around the legendary Malioboro street, which was once the battleground against the Japanese and the Dutch. The film commemorates the 50th anniversary of Sukarno driving through the street in the aftermath and waving the Flag of Indonesia as he became the first President proclaiming, “My nationalism is humanity”.

The film investigates modern life on the street and whether early promises made by Sukarno lived up to expectations. Later, this film became the basis for narrative of a feature entitled ‘Leaf on a Pillow’ (1998) with non-professional actors (street children) as the main casts.

Film ini mengikuti secara dekat kehidupan empat anak jalanan di Yogyakarta, Kancil, Topo, Sugeng dan Hatta di seputar jalan Malioboro yang amat kondang itu. Jalan itu menjadi saksi perjuangan melawan panjajah Belanda dan Jepang. Film ini dibuat untuk memperingati 50 tahun ketika Soekarno mengendarai mobil di sepanjang jalan legendaris itu usai pengibaran bendera sesudah ia menjadi presiden yang pernah menyerukan, “Nasionalismeku adalah kemanusiaan.”

Film ini menelisik kehidupan modern di jalanan dan menimbang kembali apakah janji yang pernah diikrarkan Soekarno telah memenuhi harapan. Film ini  kemudian menjadi basis  cerita bagi film cerita bertajuk  Daun di Atas Bantal (1998) di mana anak-anak jalanan (bukan aktor profesional) menjadi pemeran utamanya. 

TRAILER


N/A

DIRECTOR


Garin Nugroho

After finishing high school in Semarang, Garin Nugroho went to Jakarta to learn about movie in the Faculty of Cinematography in Jakarta Arts Institute (graduated in 1985). Eager to learn more, Garin, who was born in Yogyakarta, studied in the Faculty of Law in the University of Indonesia (graduated in 1991). Garin started his directing career through documentary productions. People began to know his name after his first feature, Cinta Dalam Sepotong Roti (1990). The film instantly earned the title of Film Terbaik (Best Movie) in Festival Film Indonesia 1991. His second film, Surat untuk Bidadari (1992), brought him to the international stage. Starting from that moment, he gained an incredible fame paving his way to various international film festivals. In the sestercentennial celebration of Mozart (2006), he earned a place among the world’s six ‘innovative directors’ to make movies, an opportunity that gave birth to Opera Jawa. In the end of 2006, Garin co-founded Jogja-NETPAC Asian Film Festival. 

Setelah selesai menempuh pendidikan sekolah menengah di Semarang, Garin Nugroho merantau ke Jakarta untuk belajar film di Fakultas Sinematografi, Institut Kesenian Jakarta (selesai pada tahun 1985). Pria kelahiran Yogyakarta ini merasa tidak cukup hanya belajar film. Garin juga mengikuti pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (selesai tahun 1991). Garin memulai karier sebagai sutradara lewat produksi film dokumenter. Namanya mulai dikenal setelah produksi film panjang pertamanya, Cinta dalam Sepotong Roti (1990). Film tersebut langsung mendapat penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 1991. Film keduanya, Surat untuk Bidadari (1992), membawa Garin ke dunia panggung film internasional. Sejak itu, namanya melejit dan merambah ke berbagai festival film internasional. Pada Perayaan 250 tahun Mozart (2006), Garin terpilih menjadi salah satu dari enam ‘innovative directors’ dunia untuk membuat film, yang kemudian melahirkan Opera Jawa. Di akhir tahun 2006,  Garin ikut mendirikan Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Contact: