EXHIBITION: AROUND A SPIRITED HOUSE IN JAYENG

BY GERTJAN ZUILHOF

A projection project with so called painted pictures made and shown in Yogyakarta.

This little project started in a spontaneous way in the house in Yogyakarta where it will be shown. Every year during an evening of the Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Garin Nugroho invites guests to his beautiful family house. A green palace in Jayeng.

During a tour through the house Garin opened the door to a little room, with a one person bed and nothing else. I said (kind of joking), I can stay here as artist in residency! Yes, said Garin and minutes later Ifa made it into an official announcement.

So now I stay in this little boys room (and have the rest of the palace as well) and make a drawing a day on an as well daily picture I make in the neighborhood. I make them on the tablet of my computer, so it ends up in a digital file that can be projected was my idea. And it indeed worked as we tried it out.

I am staying in the green house in the month before the festival so I will make 30 picture/drawings at least and when I overstay my visa even a few more. The basic idea of this project is to keep everything local. I make the work here, based on what I see here and I show it here. Hear, hear.

Sebuah projek proyeksi dengan karya-karya lukis yang dibuat dan dipertunjukkan di Yogyakarta.

Proyek kecil-kecilan ini bermula secara mendadak di sebuah rumah di Yogyakarta dimana proyek ini akan diadakan. Setiap tahun di sore hari saat pengadaan Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Garin Nugroho mengundang tamu-tamu ke rumah keluarganya yang indah. Sebuah istana hijau di Jayeng.

Selama tur keliling rumah, Garin membuka pintu dari sebuah ruangan kecil yang berisikan kasur untuk satu orang tanpa ditemani perabot lain. Saya pun berkata (dengan nada bercanda), saya bisa tinggal disini sebagai seniman residensi! Ya, jawab Garin dan beberapa menit kemudian Ifa mengumumkannya di pengumuman resmi festival.

Jadilah saat ini saya tinggal di ruangan kecil ini (dan juga bagian lain dari istana) dan membuat sebuah gambar setiap hari diatas gambar harian yang saya buat di lingkungan tersebut. Saya membuatnya di tablet komputer saya, jadi ide saya adalah untuk membuatnya menjadi sebuah file digital yang bisa diproyeksikan. Dan hal ini berhasil saat kami mencobanya.

Saya tinggal di rumah hijau tersebut sebulan sebelum festival, maka saya akan membuat paling tidak 30 gambar dan ketika saya memperpanjang visa saya mungkin akan ada beberapa lagi. Gagasan dasar dari projek ini adalah untuk menjaga kelokalan dari segala aspeknya. Saya membuatnya disini, berdasarkan yang saya lihat disini dan saya pertunjukkan pula disini. Dengarlah, dengarlah.

Gertjan Zuilhof

Gertjan Zuilhof

Programmer

Gertjan Zuilhof: a programmer who likes to draw.

 

Like most children I liked drawing. Unlike most children I kept on drawings after I entered high school. I liked drawing directly on the school tables. My most naughty drawings were published in the school newspaper that was censored after that.

During my university days I kept on drawing for a local political magazine. I also became a volunteer in a small art cinema where I learned how to program and write about cinema. I became a very senior programmer for the Rotterdam Film Festival.

Now (at 64) I still program, but I am also still that child that likes drawing. I did drawing projects in Singapore, Manila, Beijing, Georgetown, Makassar and a wall filling one in Yogyakarta (2016 in Taman Budaya) and now in Yogyakarta (Jeyang) again,

Happy to be back.

 

Gertjan Zuilhof: programmer yang senang menggambar.

 

Seperti kebanyakan anak kecil lainnya saya suka menggambar. Tak seperti kebanyakan anak kecil lainnya saya tetap menggambar setelah masuk SMA. Saya senang menggambar langsung di atas meja sekolah. Gambar-gambar ternakal saya diterbitkan di koran sekolah yang kemudian disensor.

Di hari-hari perkuliahan saya tetap menggambar untuk sebuah majalah politik lokal. Saya juga menjadi sukarelawan di sebuah sinema seni kecil di mana saya belajar memprogram dan menulis tentang sinema. Saya menjadi programmer yang sangat senior untuk Rotterdam Film Festival.

Sekarang (di usia 64) saya masih memprogram, tetapi saya juga masih anak kecil yang sama yang suka menggambar. Saya membuat proyek-proyek menggambar di Singapura, Manila, Beijing, Georgetown, Makassar dan mengisi tembok di Yogyakarta (2016 di Taman Budaya) dan kini di Yogyakarta (Jeyang) lagi,

Senang bisa kembali.