Para penggawa Distra Budaya diundang ke pemutaran film di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Selasa (5/12). Mereka ialah anggota komunitas yang dijadikan subjek film The Unseen Word karya Wahyu Utami. Dalam keterbatasan, mereka berkarya sebagai penggiat kesenian tradisional. Selain The Unseen Word, karya an bertajuk Balada Bala Sinema juga diputar malam itu.

Orang-orang itu berjalan dalam gelap, seraya meraba-raba bermaksud mendeteksi benda-benda di hadapan mereka. Tembang dilagukan; gamelan dibunyikan. Mereka bergerak, memerankan tokoh-tokoh dalam cerita, di antara perkakas pertunjukan yang berserak di sekililing. Begitulah sekelumit gambaran mengenai The Unseen Word yang mengangkat kisah penyandang disabilitas sebagai seniman ketoprak.

Salah seorang penggawa Distra Budaya yang hadir, Harjito, menuturkan bahwa ia memutuskan untik mendirikan kelompok seni ketoprak karena belum ada difabel netra yang memainkan kesenian itu. “Teman-teman awalnya ingin mendirikan [kelompok] kuda lumping, tapi saya menyangkal, kalau kuda lumping terus terang kita tidak bisa. Nanti, sewaktu di lapangan, pasti kehilangan arah,” jelas ketua Distra Budaya.

Ide mendirikan kelompok seni tercetus pada tahun 2001, tetapi komunitas baru terbentuk setahun kemudian. Secara pengelolaan, Distra Budaya dinaungi oleh Yayasan Mardi Wuto. Meskipun mengaku sulit untuk memasarkan kesenian ketoprak, Harjito berkata biasanya mereka mendapat banyak permintaan pada akhir tahun. “Misalnya, Agustus untuk Agustusan. Terus September, biasanya manggung untuk yayasan dan FKY [Festival Kesenian Yogyakarta, red.]. Bulan-bulan akhir kami manggung di alun-alun, Pasar Malam Sekaten,” terang Harjito.

Harjito juga mengisahkan perkenalan dengan Wahyu Utami bermula dari suatu pertunjukan teater yang pernah ia mainkan. Perkenalan itu mengawali perjalanan Harjito dan anggota Distra Budaya yang lain dalam narasi film The Unseen Word. “Kalau saya tuh dari mana saja tidak ada masalah, yang penting bisa mengembangkan Ketoprak Distra Budaya supaya semakin dikenal,” ungkap Harjito terkait alasan menerima permintaan Wahyu Utami untuk memfilmkan kegiatan Distra Budaya.

Pemutaran film The Unseen Word sendiri mendapat apresiasi baik dari para penonton. Apresiasi tidak hanya ditujukan kepada sutradara, melainkan juga kepada para anggota Distra Budaya. Salah seorang penonton bahkan sempat bertanya mengenai jadwal pentas Distra Budaya sehingga dapat menyaksikan secara langsung olah gerak Harjito dan kawan-kawan.

Achmad FH Fajar