ASIAN PERSPECTIVES

a non-competitive section of Jogja-NETPAC Asian Film Festival. The section was developed to read the diverse Asian perspectives from the already established directors, masters and upcoming young directors who hold the future of Asian cinema.

Help Is On the Way

91 minutes | Documentary | DCP | Colour | o.v. Indonesia, Javanese, Mandarin | sub. English, Mandarin

Director:  Ismail Fahmi Lubis

Within the corrupt systems of recruitment, training and placement, millions of rural Indonesian women place their hopes and dreams in domestic care roles overseas. Help Is On The Way brings to the screen a busy nanny school in Indramayu that prepares women to work overseas as domestic workers. Every year, hundreds of women like Sukma, Meri, Muji and Tari are recruited by local agents and enrolled in local training centers, aspiring to work in countries like Taiwan, Hong Kong and Singapore.

Can competent help be delivered when the path is broken?

__

Di dalam sistem rekrutmen, pelatihan, dan penempatan yang korup, jutaan wanita desa Indonesia meletakkan harapan dan impian mereka dengan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri.

Help is On The Way (2020) memperlihatkan sekolah pelatihan di Indramayu yang membekali para wanita tersebut sebelum mengirimkan mereka ke luar negeri sebagai TKW. Setiap tahunnya, ratusan wanita yang bernasib sama dengan Sukma, Meri, Muji, dan Tari berharap dapat bekerja di luar negeri seperti Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. Akankah TKW yang berkompeten dapat lulus ketika sistem di dalamnya cedera?

Director’s Filmography

2020: Help is on the Way (Documentary)

2017: Tarling is Darling (Documentary)

2014 : Masked Monkey: The Evolution of Darwin’s Theory (Documentary)

Production Company: Two Islands DIgital

Contact: Two Islands DIgital : info@2id.asia

Cleaners 

78 minutes | Fiction | DCP | Colour | O.v. Filipino | sub. English

Director:  Glen Barit 

Cleaners is an absurd coming-of-age anthology film about high school student “cleaners” from a catholic school in a rural city back in 2008. Each of the students struggle with societal pressures of being clean, proper and pure. We follow them as they begin to discover that the world is dirty and superficial to begin with.

Stephanie accidentally poops while performing. Angeli tries to work with a group of emo boys for a dance performance. Francis will court the school flirt, Britney, to prove his masculinity. Junjun navigates his sense of morality while in a notorious political-dynasty family. In the end, we all see them together with new ways of seeing.

___

Cleaners adalah sebuah film absurd tentang antologi coming-of-age yang menampilkan siswa SMA Katolik pada tahun 2008 yang digambarkan sebagai seorang “tukang bersih-bersih”. Setiap individu di sekolah tersebut bergumul dengan tekanan masyarakat yang menghendaki mereka tetap polos dan murni. Penonton akan dibawa dalam narasi bahwa mereka lambat laun menyadari dunia adalah tempat yang kotor dan dangkal.

Berangkat dari Stephanie yang tak sengaja buang air besar saat penampilan, Angeli yang membujuk sekumpulan cowok-cowok emo untuk pertunjukan tari, Francis yang berusaha mendekati primadona sekolah, Britney, hanya karena ingin menunjukkan kejantanannya, sampai Junjun yang bergumul dengan moralitasnya saat terjebak di politik dinasti keluarga yang kejam, audiens akan melihat mereka semua melalui perspektif dan kacamata baru.

 

Director’s Filmography

2019: Cleaners (feature)

2018: Nangungupahan (Short)

2017: Aliens ata (Short)

2014: Bundok chubibo (Short)

Najibeh

75 minutes| Fiction | DCP | Colour| O.v. Persian/ Farsi | sub. English

Director:  Mostafa Gandomkar 

Najibeh is a religious and poor old woman who wants to commit a crime because she needs to go to prison for a while. To accomplish her goal, she needs to accompany, so she tries to get help from her friend.

__

Merupakan seorang wanita tua miskin yang religius, Najibeh hendak melakukan tindakan kriminal karena ia harus masuk penjara untuk sementara. Untuk mencapai tujuannya, ia membujuk seorang teman untuk mendampinginya menjalankan misi tersebut.

Director’s Filmography

2020: Najibeh (feature)

2017: Alan (short)

2012: Coat (short)

2009: Be Soo-Ye Khoshbakhti (short)

The Forbidden Strings

72 minutes| Documentary | DCP | Colour | O.v. Persian/ Farsi | sub. English

Director:  Hasan Noori 

They’ve been making music together for years, despite the disapproval of the people around them. Akbar, Soori, Mohammed and Hakim are the only young immigrants in Iran who have formed a rock band. All they miss now is an opportunity to play live. The Forbidden Strings shows the musical foursome struggling to get themselves heard, and follows them in the run-up to a historic day. As the title suggests, they face quite a few challenges along the way. All four band members are children of Afghan parents who fled to Iran, and that means they face dangers if they return to their homeland. Their families are worried about them. The rockers promise to stay out of trouble when they go to Kabul for their show, but they realize what they’re up against soon after arriving. Clearly, Afghanistan is still a very dangerous place. The moments of joy are infectious, but sobering reality is always lurking. An honest film about four young people who have to break with tradition to express themselves.

__

Di samping segala larangan dari orang-orang di sekitar mereka, Akbar, Soori, Mohammed, dan Hakim tetap membuat musik bersama bertahun-tahun. Mereka adalah satu-satunya kelompok imigran muda di Iran yang tergabung dalam sebuah band rock. Mereka bermimpi untuk dapat tampil secara langsung di atas panggung. The Forbidden Strings menceritakan tentang kegigihan dan perjuangan historik mereka berempat untuk membuat musiknya didengar dan dinikmati orang-orang. Seperti judulnya, mereka akan menghadapi banyak kesulitan dan tantangan di sepanjang jalan. Keempat anggota band adalah anak-anak dari orang tua Afghanistan yang melarikan diri ke Iran. Mereka pun berjanji untuk menghindari masalah saat mereka pergi ke Kabul untuk pertunjukan mereka. Sayangnya, saat mereka sampai di Kabul, mereka baru sadar akan bahaya yang mengintai mereka di Afghanistan. Walaupun kegembiraan adalah hal yang menular, mereka berempat disadarkan bahwa realita selalu mengintai. The Forbidden Strings adalah sebuah film tentang empat anak muda yang harus mendobrak tradisi untuk mengekspresikan diri.

 

Director’s Filmography

2019: The Forbidden Strings (feature)

Production Company: Docmanaics

MEKONG 2030

93 minutes| Fiction | DCP | Colour| O.v. Khmer, Lao, Akha, Thai, Vietnamese | sub. English

Director:  Anocha Suwichakornpong, Pham Ngoc Lan, Kulikar Sotho, Anysay Keola, Sai Naw Kham

MEKONG 2030 is a film anthology, comprising five stories that envision the future of the Mekong River from different cultural perspectives. Set in the year 2030, it aims to both entertain and inspire audiences to actively protect this critical life source.

__

Mekong 2030 merupakan sebuah antologi film yang terdiri dari lima cerita yang menggambarkan masa depan Sungai Mekong melalui berbagai perspektif kultural. Berlatarkan tahun 2030, Mekong 2030 bertujuan untuk menghibur dan menginspirasi audiens untuk melindungi Sungai Mekong, sebuah sumber kehidupan yang teramat penting.

Director’s Filmography

Anocha Suwichakornpong

2019: Krabi, 2562 (feature)
2018: The Ambassadors (short)
2016: By the Time It Gets Dark (feature)
2016: Nightfall (short)
2015: Coconut (short)
2015: Thursday (short)
2012: Overseas (short)
2010: reakfast, Lunch, Dinner (feature)
2009: Mundane History (feature)
2008: Black Mirror (short)
2008: Like. Real. Love (short)
2007: JAI (short)
2006: Graceland (short)

Pham Ngoc Lan

2020: The Unseen River (short)
2019: Blessed Land (short)
2016: Another City (short)
2012: The Story of Ones (short)

Kulikar Sotho

2016: Asian Three-Fold Mirror 2016: Reflections (feature)
2016: Beyond The Bridge
2014: The Last Reel (feature)

Anysay Keola

2018: The Tuk Tuk of the Fifth Kind (short)
2014: Vientiane in Love (feature)
2011: At The Horizon (feature)

Sai Naw Kham

2016: 32 Souls (short)

Production Company: Luang Prabang FIlm Festival

Fear(less) and Dear

106 minutes | Documentary | DCP | Colour| O.v. Cantonese | sub. English, Chinese

Director:  Anson Hoi Shan MAK 

Since the summer of 2019, Hong Kong has been going through one of the toughest periods of its history due to a political movement sparked by the government’s controversial extradition bill and the COVID-19 pandemic that has swept the globe. How do young parents feel? What do they think about their kids and the next generation? Director and visual artist Anson Mak invites three local artists, who are also parents—performing artist and district councillor Clara Cheung, political comic artist Justin Wong and writer Cheung Yuen-man—to genuinely share their stories regarding the notion of fear. Their artworks also powerfully respond to political unrest and personal innermost emotions, as this film in itself.

__

Sejak musim panas 2019, Hong Kong melalui salah satu periode terberat dalam sejarahnya yang dikarenakan oleh gerakan politik yang dipicu oleh undang-undang ekstradisi pemerintah yang kontroversial dan pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Bagaimana perasaan para orang tua muda? Apa yang mereka pikirkan tentang anak mereka dan generasi selanjutnya? Sutradara dan seniman visual Anson Mak mengundang tiga seniman lokal yang juga merupakan orang tua–seniman pertunjukan dan anggota dewan distrik Clara Cheung, seniman komik politik Justin Wong, dan penulis Cheung Yuen-man — untuk benar-benar berbagi cerita tentang gagasan mereka akan ketakutan. Karya seni mereka, seperti film ini sendiri, dengan kuat menanggapi kerusuhan politik dan emosi terdalam pribadi yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi.

Director’s Filmography

2020: Fear(less) and Dear (feature)

Debris of Desire 

101 minutes | Fiction | DCP | Colour |

Director:  Indranil Roychowdhury 

Satya is a petty criminal in Kolkata. His lover Beuti, who is an illegal immigrant sex-worker from Bangladesh decides to open a legit bank account. Satya decides to rob her before she can shift her cash and jewellery into the bank account.

Chandu, a retrenched factory worker is a night guard in an ATM booth. He can’t accept that his wife Soma works as a fulltime maid in a high end condo. Chandu’s co-worker in the ATM convinces Chandu to work as a courier of contraband drugs to supplement his meagre income.

Satya meets Chandu, the courier and buys the drug. Satya asks Beuti to marry him, one last time. Beuti laughs it off.
A day later, on a date out with Beuti, Satya manages to feed her a paan laced with the sedatives they had bought from Chandu. Soon, she starts showing symptoms of overdosing. She is convinced she is dying and begs him to take her to a hospital. Satya is faced with a choice that will change several lives permanently.

__

Satya adalah penjahat kelas teri di Kolkata. Kekasihnya, Beuti, adalah seorang pekerja seks imigran ilegal dari Bangladesh yang memutuskan untuk membuka rekening bank yang sah. Satya memutuskan untuk merampoknya sebelum dia dapat memindahkan uang tunai dan perhiasannya ke rekening bank.

Chandu, pekerja pabrik yang di PHK adalah penjaga malam di bilik ATM. Dia tidak dapat menerima istrinya Soma bekerja sebagai pembantu penuh waktu di sebuah kondominium kelas atas. Rekan kerja Chandu di ATM meyakinkan Chandu untuk bekerja sebagai kurir obat selundupan untuk menambah penghasilannya yang tidak seberapa.

Setelah itu, Satya bertemu Chandu dan membeli obat tersebut. Satya meminta Beuti untuk menikah dengannya untuk terakhir kalinya dan Beuti menertawakannya. Sehari kemudian, saat berkencan dengan Beuti, Satya berhasil memberinya paan yang dicampur dengan obat penenang yang mereka beli dari Chandu. Tiba-tiba, dia menunjukkan gejala overdosis. Beuti yakin dia sedang sekarat dan memintanya untuk membawanya ke rumah sakit. Satya dihadapkan pada pilihan yang akan mengubah beberapa kehidupan selamanya.

 

Director’s Filmography

2020: Debris of Desire (feature)

2017: City of Love

2013: Phoring

Phoring (feature)

Production Company: Josim Ahmed and Flipbook

Contact: 
jahmed@glbangladesh.com 
indranilrc13@yahoo.com

Numbness

80 minutes | Fiction | DCP | Colour |  

Director:  Hossein Mahkam

Jalal, a dropouts philosophy student who is influenced by the community become an abandoned from any constraints, realizes that her sister Mary, who has a bipolar disease, is married to a bourgeois man named Shahrokh who is addicted to football betting. He left the house angrily, and goes to his friend’s house, Bahman, who is an underground composer. He meets a strange taxi driver named Nasser on his way. They spent a strange night together. They go to cinema and watch the same movie. They make music for a young girl, a girl named Sama, whom Jalal met in the afternoon at university and think that he likes her. They find out, in the middle of their strange night, with Mary’s call, that Shahrokh has given Cocaine Overdose. They go to the hospital and with Mary, stay with Shahrokh till he dies. After Shahrokh’s death, Nasser tells Jalal that he is Sama’s father. And he has long been watching her daughter from afar, because he is separated from his wife and is homeless. They dance for dying like the Indian, on the street and at the night that is near the morning.

__

Jalal, seorang mahasiswa jurusan Filsafat yang putus sekolah, menyadari bahwa saudaranya, Mary, yang mengidap penyakit bipolar, menikahi seorang pria borjuis bernama Shahrokh yang memiliki kecanduan judi bola. Jalal meninggalkan rumah dengan amarah dan pergi ke rumah temannya, Bahman, yang merupakan komposer underground. Jalal juga bertemu dengan seorang sopir taxi yang aneh bernama Nasser di sepanjang perjalanan. Mereka bertiga menghabiskan malam bersama, mendatangi bioskop dan menonton film yang sama. Mereka membuat musik untuk seorang gadis cilik bernama Sama, seorang gadis yang ditemui Jalal pada sore hari di kampus dan mengira bahwa ia menyukainya. Di malam itu juga, Mary menelepon dan mengatakan bahwa Shahrokh mengalami overdosis kokain. Merekapun ke rumah sakit bersama Mary dan menemani Shahrokh hingga ajalnya. Setelah Shahrokh meninggal, Nasser memberitahu Jalal bahwa ia adalah ayah Sama, dan ia sudah lama mengamati Sama dari jauh karena ia terpisah oleh istrinya dan sekarang menggelandang. Mengenang mereka yang sudah meninggal, mereka pun menari di tengah jalan hingga pagi tiba.

Director’s Filmography

2019: Numbness (Feature)

2018: Andranic (Feature)

2017: On Call Cardiologist (Mini Series)

2016: The Anonymous Portrait (Documentary)

2013: Parole (Feature)

2008: Patient (Short film)

Production Company: Iranian Independents

Contact: Iranian Independents : info@iranianindependents.com

A Dark, Dark Man

130 minutes | Fiction | Colour | o.v. Kazakhstan, Russian | sub. English 

Director:  Adilkhan Yerzhanov

In a village in Kazakhstan, detective Bekzat’s lazy, cowardly superior assigns him to kill a suspect – a common occurrence in this fearful, corrupt society. The routine job is ruined by fearless journalist Ariana who insists the case be properly investigated. Bekzat, caught in a mafia web of bribery, blackmail and intimidation, sets out with a curious entourage and the necessary reluctance, gradually regaining his moral compass.

This jet-black, comedy-drenched, anti-Hollywood action film consists of carefully framed shots with sometimes almost imperceptible camera movement. The barren corn fields, decrepit police offices and run-down barns provide the backdrop for scenes of grim beauty, for bizarre conversations, extreme violence and developing emotions. The film reveals how a despotic society is based on a vicious circle of fear and greed that can only be interrupted by courage and insight.

__

Di sebuah desa di Kazakhstan, atasan dari detektif Bekzat yang pemalas dan pecundang mengirimnya untuk membunuh seorang tersangka — hal yang biasa terjadi di lingkungan yang menakutkan serta korup ini. Namun, rutinitas pekerjaan ini dirusak oleh seorang jurnalis pemberani bernama Ariana yang bersikukuh bahwa kasus ini harus diinvestigasi. Bekzat yang kadung terperangkap dalam jaringan suap-menyuap, pemerasan, dan intimidasi pun mengikuti keingintahuannya, sedikit demi sedikit memperoleh hati nurani kembali dalam diri.

Film aksi yang gelap, bertabur komedi, dan anti-Hollywood ini terdiri dari potret-potret yang terbingkai penuh hati-hati dengan pergerakan kamera yang tak terlihat. Lahan jagung yang gersang, polisi-polisi jompo dan kandang-kandang yang rusak menjadi latar yang menunjukkan keindahan yang suram dan digunakan untuk percakapan-percakapan aneh, kekerasan ekstrem, dan perkembangan emosi. Film ini menguak sisi kejam dari kehidupan sosial yang berdasar pada lingkaran ketakutan dan keserakahan yang hanya dapat dilawan dengan keberanian dan pengetahuan.

Director’s Filmography

2019: Atbai’s Fight (feature)
2018: The Gentle Indifference of the World (feature)
2018: Night God (feature)
2016: The Plague at the Karatas Village (feature)
2014: The Owners (feature)
2013: Constructors (feature)
2011: Realtor (feature)

Production Company: Arizona Productions, Astana Film Fund, Short Brothers

Contact: Adilkhan Yerzhanov : cooperation@adilkhanyerzhanov.com

Malu 

112 minutes | Fiction | DCP | Colour| O.v. Mandarin, Japanese, English  

Director:  Edmund Yeo

Sisters Hong and Lan are separated after their grandmother kidnaps Hong from their unstable and destructive mother. Decades pass and the two are reunited for a day, as strangers when their mother dies. They try to reconnect through their shared memories but discover they are only that.

Lan disappears the next day, now free from obligation to seek a different life in Japan. Never far from her mind, Hong receives the devastating call a few years later and tries to retrace her sister’s footsteps in the land of the rising sun.

__

Sepasang adik-kakak Hong dan Lan terpisah setelah nenek mereka menculik Hong dari sang ibu yang tak bermental stabil. Beberapa dekade berlalu dan keduanya kembali bertemu sebagai orang asing ketika sang ibu meninggal. Mereka berusaha untuk berhubungan kembali melalui kenangan-kenangan bersama, namun tak banyak memori yang ada di antara keduanya.

Lan menghilang keesokan harinya setelah terlepas dari beban-bebannya dan berniat memulai kehidupan baru di Jepang. Dengan Lan yang tak pernah jauh dari pikirannya, beberapa tahun kemudian Hong menerima kabar buruk yang membuatnya pergi menelusuri jejak langkah saudaranya di negeri matahari terbit tersebut.

Director’s Filmography

2020: Malu

2017: Aqerat (We, The Dead)

2017: Yasmin-san (documentary)

2014: River of Exploding Durians

Circa

100 minutes | Fiction | Colour | o.v. Tagalog, Filipino, English | sub. English

Director:  Adolfo Alix

Doña Atang, a once celebrated film producer from the earlier years of Filipino cinema, celebrates her one hundredth birthday. For her wish, she wants a reunion with all the actors and staff that she has worked with in the past. She is also looking for an unfinished film from one of her directors. Her grandson Michael decides to take the task of finding them. As he does, we remember the glorious years of cinema from its workers–fragments of a colorful past filled with faded memories.

__

Pada ulang tahunnya yang ke-100 Doña Atang, seorang produser film ternama pada awal kelahiran sinema Filipina. Untuk hadiah ulang tahunnya, ia ingin mengadakan reuni dengan seluruh aktor, aktris, dan staff yang pernah bekerja dengannya. Selain itu, dia juga ingin mencari film-film yang belum terselesaikan dari para sutradaranya. Michael, cucu Doña, akhirnya memutuskan untuk mengabulkan permintaan neneknya. Dalam perjalanannya, kita akan diajak mengingat kembali masa-masa kejayaan sinema dari para penggiatnya-potongan memori dari masa lalu yang penuh warna.

Director’s Filmography

2019: Circa (feature)
2019: Kiko en Lala
2019: Misterio de la Noche
2019: Bato: The Gen. Ronald Dela Rosa Story
2016: 4 days
2016: Mrs.
2016: Whistleblower
2016: Padre de Familia
2015: Chain Mail
2006: Donsol
Etc.

Production Company: ABAJ Film Productions, Hong Kong Asia Film Financing Forum, RSVP Film Studios
Swif, Productions

Contact:
email: phoenixfeatures@gmail.com

Where We Belong 

130 minutes| Fiction | DCP | Colour| O.v. Thailand | sub. English

Director: Kongdej Jaturanrasmee

It is Sue’s final moments inside her small hometown in Chanthaburi province. She’s going to continue her studies in Finland through a scholarship she applied to by herself. It’s a scholarship which she applied to without telling her father, sparking anger and silence from him. She’s never been abroad before and thus doesn’t how and what to pack. How many things will be enough to bring into her new life in the future? What is necessary? What do they not have there? What can she find there?

Unconsciously in every luggage, people take their livelihoods with them. It’s not the same for everyone. Some people bring a lot, some people bring a little. Some things have to be thrown away, while some things have to be kept.

Thus, Sue makes a checklist of all the things she has to prepare before she leaves. Belle, her bestfriend, accompanies her on this project. Through this checklist, Sue — the struggling girl who wants to escape, and Belle — the girl who may stay put through the rest of her life, wander around on a motorbike through the nooks and crannies of the town, meeting different people for the very last time. Discovering that no matter how hard she tries, she can’t take everything with her. In the midst of all the things she’s surrounded by, she’s inhibited from being herself. Sue struggles her hardest to get away — anywhere else in the world where she can feel comfortable in her skin.

__

Kala itu merupakan momen terakhir Sue di kampung halamannya, Chanthaburi. Ia berencana melanjutkan studinya di Finlandia melalui beasiswa yang ia daftarkan tanpa sepengetahuan sang ayah. Momen tersebut adalah momen pemercik kemarahan ayah Sue. Sue yang belum pernah pergi ke luar negeri sebelumnya tak tahu apa yang harus disiapkan. Berapa banyak barang yang diperlukan untuk membawanya ke kehidupan di masa depan? Apa saja yang penting? Apa saja yang tak ada di sana? Apa saja yang akan dia temui?

Pada setiap bagasi, orang-orang tanpa sadar membawa pula kehidupan mereka di dalamnya. Tak ada bagasi yang sama untuk semua orang. Beberapa dari mereka membawa banyak, sebagian lagi membawa sedikit. Beberapa barang harus dibuang, sementara beberapa lainnya harus disimpan.

Berawal dari sana, Sue –ditemani Belle, sahabatnya– membuat daftar kelengkapan barang yang harus ia persiapkan sebelum pergi. Melalui daftar ini, Sue – gadis yang ingin melarikan diri, dan Belle – gadis yang mungkin akan tetap tinggal di sini hingga akhir hayatnya, pergi berkelana dengan sepeda motor melewati sudut-sudut dan celah-celah kota serta bertemu berbagai macam orang untuk terakhir kalinya. Sue menyadari bahwa tak peduli sekeras apapun ia mencoba, ia tak mungkin bisa membawa semua hal dengannya. Di tengah segala hal yang mengelilingi, ia tak dapat menjadi dirinya yang sesungguhnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk pergi – ke manapun di dunia ini di mana ia merasa nyaman dengan diri sendiri.

 

Director’s Filmography

2019: Where We Belong (feature)
2015: Snap
2014: So Be It
2013: Tang Wong
2011: P-047
2009: Sawassdee Bangkok
2008: Handle Me with Care
2005: Midnight My Love
2003: Sayew

Production Company: Song Sound Production

Contact: Song Sound Production : bbunghim@yahoo.com

Atbai’s Fight

133 minutes | Fiction | Colour | o.v. Kazakhstan, Russian | sub. English

Director: Adilkhan Yerzhanov

The film tells the story of a street thug Atbai, who decides to take part in MMA tournament, where the winners are already decided. But Atbai is going to win, because for him this victory is a chance to start a new life: to return to big sports and to get his beloved woman back.

__

Bercerita tentang seorang petarung jalanan bernama Atbai yang memutuskan untuk mengikuti turnamen MMA, sebuah turnamen yang telah dicurangi karena pemenang telah ditentukan sejak awal. Tapi Atbai bersikeras bahwa ia harus menang, karena baginya kemenangan ini adalah kesempatan untuk memulai kehidupan barunya : kembali ke liga-liga olahraga besar dan memenangkan hati perempuan yang ia cintai.

Director’s Filmography

2019: A Dark, Dark Man (feature)
2018: The Gentle Indifference of the World (feature)
2018: Night God (feature)
2016: The Plague at the Karatas Village (feature)
2014: The Owners (feature)
2013: Constructors (feature)
2011: Realtor (feature)

Production Company: Sunny Production, Short Brothers, Arizona Productions

Contact: Adilkhan Yerzhanov : cooperation@adilkhanyerzhanov.com

Mañanita 

143 minutes| Fiction | DCP | Colour|
O.v. Tagalog | sub. English

Director: Paul Soriano

After being discharged from the military service, Edilberta Agawin embarks on a journey back to her hometown where she searches for the man who killed her parents. She finds herself pondering on the state of the world and the possibility of forgiveness after all the turmoil that she has encountered. In the end, Edilberta is left with a choice. When she finally sees the man who scarred her surrendering for the crimes he did – will she still choose to seek vengeance or will she forgive?

__

Usai menjalani dinas militer, Edilberta Agawin memulai petualangannya kembali ke kampung halaman untuk mencari pria pembunuh kedua orangtuanya. Ia menemukan dirinya bimbang atas kondisi dunia dan mempertimbangkan kemungkinan akan sebuah pengampunan setelah segala kekacauan yang ia temui. Pada akhirnya, Edilberta dihadapkan pada sebuah pilihan saat ia melihat pria pembunuh orangtuanya menyerahkan diri atas kejahatan yang ia lakukan –apakah Edilberta akan tetap membalas dendamnya atau justru memaafkan?

Director’s Filmography

2019: Mañanita (feature)
2018: First Love (feature)
2017: Siargao (feature)
2016: Dukot (feature)
2015: Kid Kulafu (feature)
2011: Thelma (feature)

Do You Think God Loves Immigrant Kids, Mom? 

90 minutes | Documentary | Colour | o.v. Armenian | sub. Turkish, English

Director: Rena Lusin Bitmez

This film tells the struggle of Armenian families migrated to Turkey/Istanbul who try to provide education for their children despite all the circumstances. In the core of this struggle, which started in 2003, there stands a dining hall centered school, located in a basement of a church where migrant children receive education from volunteer educators. During the film, the struggle of children and their families, their daily lives, their former habits, longings, their hardship associated with living in a foreign land are told through the eyes of 4 migrant children.

__

Film ini berkisah tentang perjuangan keluarga-keluarga Armenia yang bermigrasi ke Turki/Istanbul untuk mencoba menyediakan pendidikan kepada anak-anak mereka di tengah semua kesulitan yang menghadang. Pada pusat dari perjuangannya yang dimulai tahun 2003, berdirilah sebuah sekolah yang terletak di dalam basement sebuah gereja tempat anak-anak pendatang mengenyam pendidikan dari para pengajar sukarelawan. Selama film berlangsung, perjuangan anak-anak dan keluarga mereka, kehidupan sehari-hari, kebiasaan lama, keinginan, serta segala kesulitan yang mereka hadapi berkaitan dengan hidup di tempat yang asing diceritakan melalui perspektif 4 anak-anak pendatang.

Director’s Filmography

2019: Do You Think God Loves Immigrant Kids, Mom? (feature)

Contact: Rena Lusin Bitmez : renalusin@gmail.com

Colorless Dreams 

75 minutes | Fiction | DCP | Colour

Director: Ayub Shakhobiddinov

After seventeen years of imprisonment, Kashmira returns to her Homeland. In her house, everything is quiet and calm and will always be so… Kashmira wants nothing to change in the house that she so eagerly sought, but after returning, events begin that she did not expect and was not ready…

__

Setelah menghabiskan tujuh belas tahun di penjara, Kashmira kembali ke kampung halamannya. Di dalam rumahnya, segala hal terasa begitu sunyi dan tenang –dan akan selalu begitu… Kashmira ingin tak ada yang berubah dari rumah yang sangat ia rindukan. Namun, saat ia kembali, peristiwa yang tak pernah ia bayangkan mulai terjadi; dan Kashmira tak siap menghadapinya.

Director’s Filmography

2020: Colorless Dreams (feature)

2012: Parizod (Heaven – my dwelling place)

2011: Late Life

2008: Telba

2007: Yurt

2003: Tulip in the Snow

Production Company: Uzbekkino Cinema Agency

 

Tears of Mokpo 

83 minutes | Fiction | DCP | Colour| O.v. Korean | sub. English

Director: Park Kiyong

In order to avoid her husband who’s asking for a divorce, a middle-aged woman gets on a bullet train without any plan and ends up in Mokpo: a port city in the southwestern part of Korea. Mokpo was one of the main ports of Korea during the Japanese colonial era, and still retains traces of that period. It’s a place that seems as if time stood still. There, she encounters two men by some chance: a college classmate she vaguely remembers and a much younger photographer she secretly desires.

__

Untuk menghindari pertemuan dengan suaminya yang minta diceraikan, seorang wanita paruh baya memutuskan untuk pergi tanpa tujuan dengan menaiki kereta peluru dan berakhir di Mokpo : sebuah kota pelabuhan di bagian barat daya Korea. Mokpo adalah salah satu pelabuhan utama Korea pada masa kolonial Jepang yang masih mempertahankan jejak masa itu hingga kini. Disanalah tempat dimana waktu rasanya berhenti bergerak.
Di tempat itu pula, ia bertemu dengan dua pria : seorang teman sekelas semasa universitas yang tidak begitu ia ingat dan seorang fotografer muda yang diam-diam ia inginkan.

Director’s Filmography

2019: Tears of Mokpo (feature)

2018: Nol Timere

2015: Yanji

2014: Fifties

2013: Garibong

2011: Moving

2001: Camels(s)

1997: Motel Cactus

 

A Hundred Years of Happiness 

62 minutes | Documentary | DCP | Colour| O.v. Vietnamese | sub. English

Director: Jakeb Anhvu

A Hundred Years of Happiness; an observational documentary, is a personal portraiture of a Vietnamese family and their daughter Tram. Raised in a farming household in Vietnam’s Mekong delta, Tram’s father instils in her, the importance of familial obligations to care for one’s ageing parents, a tradition less followed in the larger cities. With dreams of her own, Tram’s mother encourages her to secure a future devoid of economic hardship and persuades her to pursue the marriage migrant route. Determined to fulfil her role as an obedient daughter, Tram commits to a new life in South Korea as a migrant bride, but her fast-tracked journey leaves little time for reflection.

__

A Hundred Years of Happiness adalah suatu bentuk potret pribadi dari sebuah keluarga Vietnam dan anak perempuan mereka, Tram. Dibesarkan dalam keluarga petani di delta Sungai Mekong, Vietnam, ayah Tram menanamkan dalam dirinya, pentingnya memenuhi kewajiban anak untuk merawat orang tua yang sudah lanjut usia, sebuah tradisi yang jarang diikuti di kota-kota besar.
Dengan impiannya sendiri, ibu Tram justru mendorongnya untuk mengamankan masa depan tanpa kesulitan ekonomi dan membujuknya untuk menempuh jalur pernikahan imigran. Bertekad untuk memenuhi perannya sebagai putri yang berbakti, Tram memutuskan untuk menjalani kehidupan baru di Korea Selatan sebagai pengantin imigran, tapi lajur hidupnya yang begitu cepat hanya meninggalkan sedikit waktu baginya untuk berefleksi.

Director’s Filmography

2020: A Hundred Years of Happiness (feature)

2015: Dan Bau Lullaby (short)

2012: Blush of Fruit (feature)

2005: The Betel Tree (short)

2004: The Marshall Cooking Show (short)

2004: Sway (short)

 

© 2020 Jogja-NETPAC Asian Film Festival. All Rights Reserved.