Dance Film Performance & Installation

by Faozan Rizal, Yashuhiro Morinaga, & Tony Broer

Film tari adalah sebuah istilah yang sering dipakai untuk film yang menggunakan gerak tari sebagai tema atau benang merah dari narasi film. Di beberapa film tari, koreografi tercipta dari teknik sinematik seperti penyuntingan, sudut pengambilan kamera, dan pergerakan kamera. Teknik sinematik juga digunakan untuk membentuk plot cerita dan menciptakan emosi serta kedalaman konten film. Tentu saja perdebatan tentang film tari masih terus bergulir hingga sekarang karena adanya anggapan bahwa dokumentasi tari juga bisa disebut sebagai film tari. Istilah lainnya seperti dance for camera pun muncul. Jika sebuah karya tari panggung direkam menggunakan teknik sinematik seperti penyuntingan dan sebagainya sedemikian rupa sehingga menambahkan koreografi pada karya tersebut, maka film itu disebut dance for camera. Seperti film pada umumnya, film tari selalu dipresentasikan di ruang gelap atau bioskop dengan posisi penonton menghadap layar.

Dalam karya saya kali ini, saya menggabungkan tiga hal: film tari, pertunjukan musik, dan seni instalasi. Seni instalasi adalah seni menata, menggabungkan, dan atau mengonstruksi sejumlah benda yang diharapkan bisa memberi konteks kesadaran makna tertentu. Biasanya makna sosial politik atau hal lain yang bersifat kontemporer menjadi hal yang disinggung dalam konsep karya seni instalasi. Dapat dikatakan bahwa ini merupakan eksperimen dalam bentuk pemutaran film.

Pada awal tahun 2000 saya pernah membuat trilogi film bisu. Saat itu, bagi saya gerak adalah perwujudan dari ekspresi. Dari Yasujiro Journey, Aries, a Poem for Katia hingga Fugu, a Sushi Tale, gerak merupakan elemen pembentuk narasi. Saya lebih tertarik memanfaatkan gerak daripada kata-kata verbal untuk menggambarkan suatu peristiwa. Gerak adalah bahasa tubuh. Gerak tubuh bagi saya sifatnya universal. Bahkan mungkin gerak merupakan bahasa pertama manusia, namun tentunya hal ini perlu ditelaah lebih jauh.

Anastasis dan Cerita-Cerita Sebelumnya, Burung Kayu di Pohon Berbentuk Rumah dan On Genealogy of Silence adalah tiga film tari yang saya buat tanpa suara, mulai dari pengambilan gambar hingga proses penyuntingan. Bagi saya, tubuh manusia sudah memiliki irama saat bergerak. Gerak tubuh manusia merupakan orkestrasi harmoni dari otot , tulang, dan sistem saraf.

Pada ketiga film tari tersebut saya juga mengombinasikan gerak kamera yang senada. Kamera menelusuri ruang dan berdialog dengan tubuh penari. Gerak yang berkesinambungan akan membentuk harmoni tersendiri bagi ketiga film tersebut.

Pada ketiga film tari ini saya mencoba membebaskan penonton untuk tidak hanya diam dan fokus pada satu layar. Saya ingin membawa sinema ke bentuk lain dengan memadukan seni pertunjukan, instalasi, dan sinema. Saya berkolaborasi dengan seniman suara/musik yang akan “mengiringi” ketiga film yang diputar secara serentak pada tiga layar. Saya ingin menggabungkan keselarasan gerak penari, kamera, dan respons musisi. Saya membebaskan penonton untuk melihat ke layar manapun atau bahkan hanya duduk menikmati suara/musik yang dimainkan. Ketiga layar tersebut akan mengelilingi pemusik dan secara serentak menampilkan film dengan penari dan narasi yang berbeda. Kesinambungan penyuntingan, gerak kamera, dan juga iringan musik seakan mencoba melawan harmoni. Ini seperti perayaan kebebasan, sebuah kebebasan untuk tak melulu memutar film di ruang bioskop dengan penonton yang terpaku pada satu layar.

Dance film is a term often used for films where dance is used as a theme or a read thread for the narration. In some dance films, choreography is created through cinematic techniques like editing as well as the plotting of camera angle and movement. Cinematic techniques are also used to shape the plot and create both emotion and depth of the content. The debate about dance film still continues until now because of an assumption that a documentary of dance can also be called a dance film. Thus, another term appears: dance for camera. If a staged dance work is recorded using cinematic techniques such as editing and so on, in a way that they add some choreography to the work, then it is called a dance for camera film. Like other films in general, dance film is always presented in a dark room or in movie theatre with the screen facing the audience.

This time, I combine dance film, musical performance, and art installation. Art installation is an art of arranging, combining, and or constructing some objects that are expected to provide a specific context of meaning awareness. Usually, sociopolitical and other contemporary issues are alluded in the concept of installation artwork. It could be said that this is an experiment in the form of film screening.

In early 2000, I made a silent film trilogy. For me, motion is the embodiment of expression. From Yasujiro Journey; Aries, a Poem for Katia to Fugu, a Sushi Tale, motion is a narrative-forming element. I am more interested in to use motion rather than verbal words to describe an event. Motion is body language. Motion, for me, is something universal. Motion is probably the first language of human, but of course this needs to be studied further.

Anastasis dan Cerita-Cerita Sebelumnya, Burung Kayu di Pohon Berbentuk Rumah and On Genealogy of Silence, are three dance films that I make without producing any sound. Silent right from the shooting to editing process. For me, human body produces its own rhythm when moving. Human’s body movement is an orchestration of harmony formed by muscles, bones and nervous system.

In those dance films, I also combine similar camera movements. The camera explores the space, making a dialogue with the body of the dancer. Continuous movement will form distinct harmony for those three films.

In those dance films, I try to free the audience, giving them the choice to do the opposite of sitting still and focusing on a single screen. I collaborate with musicians who will “accompany” the films that are being shown simultaneously on three different screens. I want to combine the harmony of the dancers’ motion, the cameras, and the respond of the musician, as well as letting the audience to watch certain screen or even just to sit and enjoy the music. The screens will surround the musicians and simultaneously show films with different dancer and narration. It is as if the continuity of editing, camera movement, and music is trying to fight the harmony. This is a celebration of freedom, a freedom to not always present a film in a movie theatre with audiences fixated on one screen.

Faozan Rizal

Yasuhiro Morinaga

Tony Broer