LAYAR KOMUNITAS

Begancang

Komunitas Film Layar Taman
Palembang, Sumatera Selatan
Indonesia
22 minutes
2021
Fiction
Director: Chrismadi Rahmawan
Writer: Rifqi Mardhani
Producer: Rifqi Mardhani
Cast: Hasan, Eva Apria Novalina, Jorgie Campos, M. Fahmi

Dadan (40) has a dependence on stimulants drugs to have sex with his wife, Ida (37). The problem arose when one night in the month of Ramadhan, Dadan realized that his stimulants drug had run out. Due to Dadan’s unable to contain his wife’s whimpers, he ordered an online motorcycle transportation to buy the stimulants drug. However, as if the universe didn’t support him, Fikri (29), the online motorcycle driver, met many obstacles on his way. The seconds leading up to Imsak this time were very stressful for Dadan.

Dadan (40 tahun) punya ketergantungan pada obat kuat untuk berhubungan badan dengan istrinya, Ida (37 tahun). Masalah muncul ketika suatu malam di bulan Ramadhan, Dadan baru menyadari obat andalannya itu sudah habis. Tidak kuasa menahan rengekan sang istri, Dadan memesan ojek online untuk membeli obat sakti itu. Namun seperti tidak didukung semesta, Fikri (29 tahun) sang tukang ojek bertemu banyak penghalang dalam perjalanannya. Detik-detik menuju imsak kali ini terasa sangat menegangkan bagi Dadan.

Still Images

Director’s Profile

Chrismadi Rahmawan

Chrismadi Rahmawan is a Director and Producer who was born on February 4th, 1984 in the city of Semarang. Then since 2002 he moved to Palembang, South Sumatera, to study and live until now. Starting his career in broadcasting as a program director at a local television station in Palembang, he made various feature programs which eventually attracted him to dive deeper into the world of film. Then in 2014, he and other Palembang filmmakers established a film community called Layar Taman which until now remains productive in holding screening, education, and film production activities. Currently, he also serves as chairman of the film committee of the Palembang Arts Council and is a member of the Archipelago Documentary Association (ADN). The works of short fiction and documentary films that he has produced include; dr. Vera (2012), Cita-cita (2014), Menukar Senyuman (2016), Kool of Ijah (2017), Pecah Bulu (2020), Warisan (2020), Kabar Bidar (2020), Begancang (2021) and Satoe (2021).

Chrismadi Rahmawan adalah seorang Sutradara dan Produser kelahiran 4 Februari 1984 di Kota Semarang. Lalu sejak tahun 2002 dia pindah ke Kota Palembang untuk berkuliah dan menetap sampai sekarang. Mengawali karir di dunia broadcasting sebagai program director di salah satu stasiun televisi lokal di Palembang, dia membuat berbagai program feature yang akhirnya membuat dirinya tertarik untuk terjun lebih dalam ke dunia film. Kemudian di tahun 2014 dia bersama pegiat film Palembang lainnya mendirikan sebuah komunitas film bernama Layar Taman yang hingga kini tetap produktif mengadakan kegiatan pemutaran, edukasi dan produksi film. Saat ini dia juga menjabat sebagai ketua komite film Dewan Kesenian Palembang dan tergabung sebagai anggota Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN). Karya-karya film pendek fiksi maupun dokumenter yang pernah diproduksinya antara lain; dr. Vera (2012), Cita-cita (2014), Menukar Senyuman (2016), Kool of Ijah (2017), Pecah Bulu (2020), Warisan (2020), Kabar Bidar (2020) Begancang (2021) dan Satoe (2021).

Gema Lama Gamalama

Komunitas Film LXSecond
Ternate, Maluku Utara
Indonesia
23 minutes 
2021
Docudrama
Director: Ryan Wanboko
Writer: Shahnaz Salsabilah
Producer: Zandry Aldrin
Cast: Gio Febriyanto, Sugiarto, Munazad DJ Ahmad

This film tells about the struggle of Gema, a clove farmer. Gema is trying to support his father, Mr. Yusuf, who has gotten sick when the price of cloves falls and the clove trees have not yet entered the harvest period. Meanwhile, cloves are their only source of income. Together with other clove farmers. Gema, Adam and Fahmi make an innovation with cloves to make interesting Spiced Coffee and Aromatherapy to make a living. However, they have some obstacles in the manufacturing process of the product and have disagreements with each other. At the same time Pak Yusuf’s illness gets worse and Gema begins to be confused to find a way out. Until Pak Yusuf suggested that they sell their clove garden. However, Gema can’t just sell it right away. Gema feels that the clove farm has enormous sentimental value for her. While the sales of Spice Coffee and Aromatherapy products they sell have decreased due to their unattractive packaging. They don’t give up immediately and try to make more attractive packaging. Thanks to the tireless effort. Gema, Adam and Fahmi are invited to be guest stars on the “Jalur Rempah” program. Investors like their Spice Coffee and Aromatherapy Products are by and they are invited to cooperate with them. Gema, Adam and Fahmi are excited to hear that and happy because their efforts and hard work has been paid off. Gema is also grateful that his father is recovering quickly from his illness. They showed that using clove as the basic ingredient, can produce more innovative clove derivative products.

Film ini menceritakan tentang perjuangan Gema yang merupakan petani cengkeh. Gema berusaha untuk menghidupi Ayahnya, Pak Yusuf yang sedang sakit disaat harga cengkeh sedang turun dan pohon cengkeh belum memasuki masa panen. Sedangkan, cengkeh merupakan satu-satunya sumber kehidupan mereka. Bersama teman petani cengkeh lainnya. Gema, Adam dan Fahmi berinovasi dengan cengkeh untuk membuat Kopi Rempah dan Aroma Terapi yang menarik untuk membiayai kehidupan mereka. Namun, mereka memiliki kendala dalam pembuatan produk dan perselisihan satu sama lain. Disaat itu juga sakit Pak Yusuf semakin parah dan Gema mulai kebingungan untuk mencari jalan keluar. Hingga Pak Yusuf menyarankan untuk menjual kebun cengkeh milik mereka. Tetapi, Gema tidak bisa langsung menjualnya begitu saja. Gema merasa bahwa kebun cengkeh memiliki nilai histori yang sangat besar. Disaat produk Kopi Rempah dan Aroma Terapi yang mereka jual mengalami penurunan dikarenakan kemasan mereka yang kurang menarik. Mereka tidak langsung menyerah dan berusaha membuat kemasan yang lebih menarik. Berkat usaha yang tak patah semangat. Gema, Adam dan Fahmi diundang untuk menjadi bintang tamu di acara “Jalur Rempah”. Produk Kopi Rempah dan Aroma Terapi mereka disukai oleh Investor dan mereka pun diajak kerjasama oleh Investor tersebut. Gema, Adam dan Fahmi semangat mendengarnya dan merasa senang karena, usaha dan kerja keras mereka membuahkan hasil. Gema juga bersyukur karena, ayahnya yang lekas pulih dari sakit. Mereka menunjukkan bahwa dengan bahan dasar cengkeh dapat diproduksi menjadi produk turunan cengkeh yang lebih berinovatif.

Still Images

Director’s Profile

Ryan Wanboko

Born in Tidore, 1992, Ryan Wanboko is a filmmaker who won awards for the best short films several times, some of which are: His short film, “Marimoi” (2019), selected as the best short film in Indonesia at Kemenkop Ukm short film festival, A year ago several films produced by lxsecond’ short film community from Ternate City consisting of Ryan Wanboko, Hendro Painting, and Sukarman Hirto won several festival honours, including Best 100 Indonesia Short Movie SCTV, BPK Short Movie and also the BNPT Short Film Festival. In 2021, Ryan Wanboko’s biggest mission was the Ministry of Education and Culture’s Spice Path film project, “Gema Lama Gamalama”, which has been produced and is currently available on the Indonesiana.TV, Youtube, and Indonesian OTT platform.

Lahir di Tidore, tahun 1992,, Ryan Wanboko adalah seorang pembuat film yang selama ini pernah beberapa kali meraih apresiasi film pendek terbaik, beberapa diantaranya adalah : Film pendeknya, Marimoi (2019), menjadi film pendek pilihan dewan juri sebagai film pendek terbaik di festival film pendek kemenkopukm, Tarik setahun kebelakang beberapa film yg diproduksi oleh lxsecond’ komunitas film pendek yang berdomisili di Kota Ternate terdiri dari Ryan Wanboko, Hendro Lukisan, dan Sukarman Hirto telah berhasil menyabet beberapa gelar festival, diantaranya Best 100 Indonesia Short Movie SCTV, BPK Short Movie dan juga BNPT short movie festival. Di tahun 2021 ini, Ryan Wanboko memulai misi terbesar dengan menangani project film jalur rempah kemdikbudristek yang diberi judul Gema Lama Gamalama, telah selesai diproduksi dan kini bisa ditonton baik di kanal Indonesiana.TV, Youtube, dan OTT platform lainnya.

Satu!

Komunitas Film Bitung Production
Sulawesi Utara
Indonesia
7 minutes
2019
Fiction
Director: Mickey Sambuaga
Writer: Febry Valentino Pardede
Producer: Stefanus Michael Tamuntuan
Cast: Joel Rawung

Tells a story about a young man named Yosep, and his friends who want to return to their hometown to Papua with a passenger ship. At the beginning of the trip they meet a man from Minahasa who loses his luggage during transportation into the ship, due to language barrier, resulting in both of them being misunderstood, causing a commotion. While they are in an argument, a police officer who happened to be passing by approaches them. The policeman happened to be from the Minahasa tribe. He tries to break up their fight, but it doesn’t turn out well because Yosep’s emotions lead him into a bad suspicion that the policeman is more one-sided. Feeling overwhelmed, finally the policeman calls his fellow members for help, because the situation is getting more and more chaotic and heated, another policeman comes , with him are soldiers and ship crews. They are trying to break up their fight, but Yosep still assumes that they are on one side, but his assumption is negated when he learns that other policemen and the soldier are from Papuan tribes, even from several other tribes. Yosep then tells them what happened and characteristics of the perpetrators. Immediately, the policemen, soldiers as well as ship crews and some civilians in the location try to find the culprit among passengers on the ship which is about to depart. While the search is in progress, suddenly a mother with her child arrives. This woman turned out to be the wife and child of a Minahasa man. Feeling sorry and touched to see their child who appears sick, Yosep rushes to help find the culprit, so that the crime can be solved, and the thief can be caught by their cooperation.

Menceritakan tentang Seorang pemuda bernama Yosep, dan temannya bertus yang hendak Pulang ke kampung halaman mereka ke tanah Papua dengan menggunakan jasa Kapal Penumpang. Diawal perjalanan mereka bertemu dengan seorang pria Asal Minahasa yang kehilangan barang bawaannya saat diangkut kedalam kapal, dikarenakan Perbedaan bahasa yang digunakan, mengakibatkan keduanya menjadi Salah Paham sehingga menimbulkan keributan. Disaat mereka sedang dalam Pertengkaran, datanglah Seorang petugas Polisi yang kebetulan lewat disitu. Pak polisi yang kebetulan juga berasal dari suku Minahasa kemudian mencoba untuk melerai pertengkaran mereka, tapi ternyata tak berjalan baik karna Emosi Yosep membawa dia kedalam Prasangka buruk,  bahwa si Pak Polisi tersebut lebih memihak sebelah. Karena merasa kewalahan, akhirnya sang pak polisi mencoba untuk meminta bantuan sesama anggotanya, karena situasi sudah semakin ricuh dan memanas, datanglah anggota Polisi yang lain bersama dengan tentara dan Kru Kapal untuk melerai pertengkaran mereka, tapi Yosep masih dengan emosinya menganggap bahwa mereka memihak sebelah, namun semua Emosinya terpatahkan ketika Anggota Polisi lain dan Tentara yang ada juga berasal dari suku Papua, bahkan dari beberapa suku yang lain. Yosep pun menceritakan kronologinya beserta Ciri-ciri pelaku yang sempat dilihatnya, dengan segera Anggota Polisi bersama Bantuan TNi juga Buruh dan Warga sipil yang ada mencoba mencari pelakunya di tengah Kerumunan Penumpang kapal yang akan segera berangkat. Saat pencarian sedang berlangsung, tiba-tiba datang seorang ibu bersama anaknya yang kemudian ternyata adalah istri dan anak dari pria Minahasa, merasa Iba dan tersentuh melihat anak mereka yang Nampak sakit, Yosep pun bergegas membantu mencari pelakunya, sehingga kejahatan tersebut boleh terungkap, dan pelaku pencurian boleh tertangkap berkat kerjasama mereka semua.

Still Images

Director’s Profile

Mickey Sambuaga

Micky Sambuaga, a pioneering youth in Bitung city, his activities as a photographer who make a try in audio visual medium, positioned himself as a director and producer in the community he founded, called Bitung Production Since 2018, Bitung Production is one of Photography and Videography communities Bitung, and most of the members of this community are college students.

Micky Sambuaga pemuda pelopor di kota Bitung, aktifitasnya sebagai seorang fotografer yang merambah dunia audio visual, memposisikan diri sebagai sutradara dan produser di komunitas yang didirikannya, yakni Bitung Production Sejak 2018, Bitung Production adalah salah satu komunitas yang begerak di bidang Fotografi dan Videografi di kota Bitung, dan sebagian besar anggota yang tergabung di komunitas ini adalah kalangan mahasiswa.

Legenda Telur Pecah

ARCH MEDIATAMA PRODUCTION
Tarakan, Kalimantan Utara
Indonesia
11 minutes
2021
Fiction
Director: Mashur
Writer: Sabri Safiq
Producer: Mashur
Cast: Sarah, Ipung, Ujang

This film tells about a folk tale in Bulungan Regency, North Kalimantan Province. Kuwanyi is the leader of the Hupan Dayak tribe (Dayak Kayan) who lives in the Lower Kayan River. When Kuwanyi goes hunting in the forest, he doesn’t find his prey except for a large piece of bamboo called Betung Bamboo and an egg on a stump of Jemlay’s wood. the two things he got. brought home. When night falls, Kuwanyi and his wife are fast asleep. Then they are awakened by the sound of a baby’s cry.

Film ini Adalah Salah satu cerita rakyat yang ada di Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara. Kuwanyi adalah Pemimpin Suku Bangsa Dayak Hupan (Dayak Kayan) yang tinggal di Hilir sungai kayan. Saat Kuwanyi pergi berburu ke Hutan, Ia tidak mendapatkan hewan buruannya kecuali seruas bambu besar yang disebut bambu betung dan sebutir telur yang terletak diatas tunggul kayu Jemlay. kedua benda yang didapatkannya tersebut. dibawanya pulang kerumah. Saat malam hari tiba, kuwanyi dan istrinya sedang tertidur pulas. Kemudian mereka terbangun saat mendengar suara tangisan bayi.

Still Images

Director’s Profile

Mashur

Mashur, known as Macul was born in Tarakan December 13, 1993. He graduated from SMA Negeri 2 Tarakan. He is an actor, addiction counselor, and director. His film “Sengginoki” (2019) won an award as Favorite Winner from the National Film Competition organized by the Ministry of Social Affairs with the theme NEW NORMAL VERSIKU . His film “Memaknai Kemerdekaan” (2021) won 1st Place at the 76th Republic of Indonesia Independence Day Film Contest in the Provincial level. His film “Memaknai Kemerdekaan” (2021) won 2nd Place Winner Film Competition for the 76th Independence Day of the Republic of Indonesia at the National level. His film “Kuwanyi Legenda Telur Pecah” (2021) won 1st place in the Tourism Film Competition at the Provincial level .

Mashur alias Macul lahir di Tarakan 13 Desember 1993 berpendidikan SMA Negeri 2 Tarakan, merupakan seorang Aktor, Konselor Adiksi, Sutradara. Dengan penghargaan Juara favorit Lomba Film Nasional yang diselenggarakan Oleh kementrian social dengan tema NEW NORMAL VERSIKU dengan judul “Sengginoki” (2019). Juara 1 Lomba Film HUT Kemerdekaan RI KE-76tingkat Provinsi dengan Judul “Memaknai Kemerdekaan” (2021). Juara harapan 2 Lomba Film HUT Kemerdekaan RI KE-76 tingkat Nasional dengan judul “Memaknai Kemerdekaan” (2021). Juara 1 lomba Film pariwisata tingkat Provinsi dengan judul “Kuwanyi Legenda Telur Pecah” (2021).

Balengko

Komunitas Film Nonako Pictures
Morotai Maluku Utara
Indonesia
15 Minutes
Fiction
Director: Ryana Aryadita Umasugi
Writer: Ryana Aryadita Umasugi
Producer: Fahri Robo
Cast: Anisa Usman, Fitri Audry, Irfan Liem,Rifai Sehe,Epa Baba, Riski Kurung, MR Malase, Ryanda Umasugi

Fitri, Fais, and Ifan reunited with their friend Anisa who recently returned from Jakarta after living there for 2.5 years. They decide to play truth or dare with various challenges. One of the challenges for Anisa is playing hide and seek. Even though Anisa rejects it because it is nighttime, the game continues. The game that is initially fun turned into a mystical one.

Fitri, Fais, dan Ifan bertemu kembali dengan kawan mereka Anisa yang baru balik dari Jakarta setelah 2,5 tahun. Mereka memutuskan untuk bermain truth or dare dengan berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang didapat Anisa adalah bermain petak umpet. Meski awalnya mengalami penolakan dengan alasan sudah malam hari, namun permainan ini tetap dilanjutkan. Permainan yang awalnya seru pun berubah menjadi mistis.

Still Images

Director’s Profile

Ryana Aryadita Umasugi

Ryana Aryadita Umasugi was born in Falabisahaya on November 10, 1995. Better known as Dita, she is a mass media journalist. Even though she is familiar with writing news, Dita has only just started her career in film since early 2021. It was an unintentional move because several friends invited her to establish the Nonako Pictures Community. In the beginning, Dita wrote the script for the film Mumulaga, which was produced in March 2021. Then, Dita took on the role as a director after releasing “Gurumi”, followed by “Balengko”, and most recently “Ngungira”.

Ryana Aryadita Umasugi lahir di Falabisahaya pada 10 November 1995. Wanita yang akrab disapa Dita ini merupakan seorang jurnalis media massa. Meski terbiasa menulis berita, Dita baru saja mulai menggeluti dunia film pada awal tahun 2021. Hal ini pun tanpa disengaja karena diajak oleh beberapa kawan untuk mendirikan Komunitas Nonako Pictures. Awalnya, Dita mulai menulis naskah film Mumulaga yang diproduksi pada Maret 2021.
Kemudian, peran sebagai sutradara digeluti oleh Dita sejak film Gurumi, dilanjutkan oleh film Balengko, dan paling akhir adalah film Ngungira.

Sangkar Burung

Komunitas Film Fattah Creative
Bengkulu
Indonesia
7 minutes 
2020
Fiction
Director: Akhmad Revfaldi
Writer: Abdi Arida Surbakti
Producer: Eileena Julinda Lyana
Cast: Firdaus Alamsyah, Neti Herawati, Yulhendri, Chepy Kenia Aprisof

A modest family survives at home at the time of the Corona virus pandemic. Dang Yung (38) is a family head who is looking after his pet to take care of his bird named Joni. Then his wife, Ida (36) approached and complained to her husband if the supply of food in their home was thinning and many needs were to be met. At the same time Sanif (30) friend Dang Yung came to accompany the story and helped Dang Yung to sell his. When Sanif goes, Pipit (15) The daughter of Dang Yung dressed in neat wants to go to her friend’s house for a presentation in an online class because it does not have a quota package. Dang Yung who was worried about the condition of their pandemic and the family was in economic crisis, forbidding his daughter from going outside. When her daughter escapes, Dang Yung’s bird disappears.

Sebuah keluarga sederhana bertahan di rumah di saat pandemi virus Corona. Dang Yung (38) adalah seorang kepala keluarga yang merawat hewan peliharaannya untuk memelihara burungnya yang bernama Joni. Kemudian istrinya, Ida (36) menghampiri dan mengadu kepada suaminya jika persediaan makanan di rumah mereka menipis dan banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Pada saat yang sama Sanif (30) teman Dang Yung datang untuk menemani cerita dan membantu Dang Yung untuk menjual miliknya. Saat Sanif pergi, Pipit (15) Putri Dang Yung berpakaian rapi, hendak pergi ke rumah temannya untuk presentasi di kelas online karena tidak memiliki paket kuota. Dang Yung yang khawatir dengan kondisi pandemi dan keluarganya dalam krisis ekonomi,ia melarang putrinya pergi keluar. Ketika putrinya melarikan diri, burung Dang Yung menghilang.

Still Images

Director’s Profile

Akhmad Revfaldi

Akhmad Revaldi is one of the filmmakers from Bengkulu who studied at the Jakarta Arts Institute, Faculty of Film and Television. He started his education at a vocational high school majoring in television broadcasting and then became interested in focusing on the field of film arts. On campus, he received excellent scholarship facilities organized in collaboration with Pusbang Film and FFTV IKJ. Now he is pursuing film editing and completing his studies.

Akhmad Revaldi salah satu dari filmmaker asal Bengkulu yang berkuliah di Institut Kesenian Jakarta Fakultas Film dan Televisi. Ia mengawali pendidikannya di sekolah menengah kejuruan jurusan penyiaran pertelevisian kemudian tertarik untuk memfokuskan dirinya di bidang seni film. Di kampus ia mendapatkan fasilitas beasiswa unggulan yang diselenggarakan atas kerjasama Pusbang Film dan FFTV IKJ. Sekarang ia menekuni bidang editing film dan menyelesaikan kuliahnya.

Sanjang

Komunitas Film Studio Cerita Mojokerto Jawa Timur
Indonesia
17 minutes
2020
Fiction
Director: Wahyuddin Hasani Widodo
Writer: Wahyuddin Hasani Widodo
Producer: Indra Setyawan
Cast: Mijil Pawestri, Aldio Khalisa, Memed Karya, A.Fathoro, Vania Maulida. M. Januar Arib

Sumarni, a mother of two who works as a food seller in front of her house. She really wants her son Dio to get a decent job so he won’t be embarrassed by his neighbors. Sumarni also did various things, including forcing her son to ask for help from others. Sumarni’s desire did not go smoothly because she had difficulty in forcing Dio who wanted to work as a musician. Finally, one of Sumarni’s customers changed Sumarni’s perspective on Dio’s daily life with his friends outside.

Sumarni, ibu dua anak yang bekerja sebagai penjual makanan di depan rumahnya, Ia sangat ingin anaknya Dio mendapatkan pekerjaan yang layak agar tidak malu dengan tetangga-tetangganya. Sumarni pun melakukan berbagai cara termasuk memaksa anaknya untuk meminta bantuan orang lain. Keinginan Sumarni tidak berjalan mulus karena Ia kesulitan untuk memaksa Dio yang ingin bekerja sebagai musisi. Akhirnya, salah satu pelanggan Sumarni mengubah cara pandang Sumarni terhadap keseharian Dio dengan teman-teman bandnya di luar.

Still Images

Director’s Profile

Wahyuddin Hasani Widodo

Wahyuddin Hasani Widodo, a writer and short film director who completed his formal education at the Faculty of Film and Television in Jakarta Institute of Arts with a focus on Directing. Started getting to know cinema since he was in high school and actively networked with film communities in Malang and Surabaya. During college, he also served as program director at Sinemaflex (one of the alternative playrooms belonging to the Jakarta Arts Institute). Since 2019, he has also been actively involved in building a community in Mojokerto under the name Studio Cerita. Together with Studio Cerita, he is also involved in organizing film screenings, workshops, and short film productions.

Wahyuddin Hasani Widodo, seorang penulis dan sutradara film pendek yang berhasil menyelesaikan pendidikan formalnya di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dengan fokus Penyutradaraan. Mulai mengenal sinema sejak duduk di bangku SMA dan aktif berjejaring dengan komunitas film di Malang dan Surabaya. Semasa kuliah, Ia juga pernah menjabat ssebagai program director di Sinemaflex (salah satu ruang putar alternaltif milik Institut Kesenian Jakarta). Semenjak 2019, Ia juga turut aktif untuk membangun komunitas di Mojokerto dengan nama Studio Cerita. Bersama Studio Cerita Ia turut terlibat dalam terselenggaranya pemutaran film, workshop, dan produksi film pendek.

Pada Selembar Pesan

Komunitas Film Kincir Angin Lab Yogyakarta
Indonesia
19 minutes
2020
Fiction
Director: Iradat Ungkai Megah
Writer: Iradat Ungkai Megah
Producer: Azaro Verdo Nuary
Cast: Rizky Irawan, Verry Handayani, Abi Zurkati

Starting with receiving a wedding invitation, Wawan (32 years old) is pressured by his mother to get married immediately so that his life would be better. Wawan is shy and has no experience when it comes to meeting a woman. Until finally Wawan found an unusual way.

Berawal dari undangan nikah, Wawan (32 tahun) mendapat desakan dari ibunya untuk segera menikah supaya hidupnya menjadi lebih baik. Wawan terlampau cupu dan pemalu untuk berkenalan dengan seorang wanita. Sampai akhirnya Wawan menemukan satu cara yang tidak biasa.

Still Images

Director’s Profile

Iradat Ungkai Megah

Iradat Ungkai Megah was born in Pekalongan. Since he was little, he has been very involved in performance arts, especially music and theater at ‘Bela Studio’ studio. His artistic endeavours continued when he was in college. Together with the theater group at his campus, he performed various plays as an actor, director, screenwriter, and artistic director. In 2019, he chose film as his new medium of creation. To date, he has produced 3 films; “On a Message Sheet” (2020), “Empty Pot Ballad” (2021), and “Not Sleeping” (2021). Apart from writing and directing, he also responds enthusiastically at every offer to become an actor.

Iradat Ungkai Megah. Lahir di Pekalongan. Sejak kecil aktif terlibat di dunia pertunjukan, khususnya musik dan teater di sanggar ‘Bela Studio’. Aktivitas kesenian berlanjut saat kuliah, bersama teater di kampusnya, ia mementaskan berbagai lakon sebagai aktor, sutradara, penulis naskah, dan penata artistik. Pada tahun 2019, ia memilih film sebagai medium penciptaan baru. Sampai saat ini, ia telah menghasilkan 3 film; Pada Selembar Pesan (2020), Balada Panci Kosong (2021), dan Belum Tidur (2021). Selain menulis skenario dan menyutradarai, ia juga antusias pada setiap tawaran menjadi aktor.

Luli

Komunitas Film Hotu Hotu
Atambua, Kab. Belu, NTT
Indonesia
15 minutes
2021
Fiction
Director: Emilio Rafael Seran
Writer: Emilio Rafael Seran
Producer: Cristofon Carlos Nahak
Cast: Oscar Asa

Oscar, A student who gets the task of documenting a traditional house in one of the traditional villages & meets the traditional village guard who has warned to watch his attitude and actions but Oscar doesn’t listen to his advice and gets karma for what he has done.

Oscar Mahasiswa yang mendapatkan tugas mendokumentasikan Rumah adat disalah satu kampung adat & bertemu dengan Penjaga Kampung adat yang sudah diperingati agar menjada sikap dan tindakan tetapi dilanggar oleh Oscar dan mendapatkan karma dari kesalahan tersebut.

Still Images

Director’s Profile

Emilio Rafael Seran

Emilio Rafael Seran (born 28 September 1993) is an Indonesian short film director. He started his career in 2017 with the Hotu-Hotu film community in Atambua, Belu Regency, East Nusa Tenggara with his friends.

Emilio Rafael Seran (lahir 28 September 1993) adalah seorang sutradara film pendek berkebangsaan Indonesia. Ia memulai karier sejak tahun 2017 dengan komunitas film Hotu-Hotu di Atambua Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur bersama teman-temannya.

Si’nom

Sekartaji Films, Kota Kediri Jawa Timur
Indonesia
24 minutes 
2021
Fiction
Director: Adi Chandra Ardiansyah
Writer: Adi Chandra Ardiansyah
Producer: Desi Putri Puspa Sari
Cast: Ahmad Rozak Prakosa, Aileen Hana Wahyuqa, Agus Budiono, Febta Rezanyken

Dudung (14 years), a child of a cultural figure who was born during the millennial period, experiences a different perspective on how to interpret something. Long drought is happening, all villagers are experiencing drought. The father (40 years old) planned the Tiban ritual to ask for rain from the Power. Then the mother (38 years) discussed the food stock supply in the vicinity which could only be sufficient for the next month. All residents are also concerned about the impact of the ongoing drought, but see the situation through their own eyes. Dudung (14 years old) is experiencing emotional stress because of the many perspectives that are contrary to those taught by his parents. The pressure experienced becomes a trigger for confusion about something he is looking for. Not a few of them hurt Dudung (14 years) until a fight broke out. Some residents in the village were very enthusiastic about watching Tiban performing arts with the same intention that it would rain. But not for Dudung, a child who is in the phase of searching for the Self-Identity is an important event for a new awareness because the masks shown by the Father and Mother are able to calm the pain he feels with full affection for the creature created by the Almighty.

Dudung (14 tahun) seorang anak dari tokoh budayawan yang lahir dimasa millennial mengalami perbedaan cara pandang memaknai sesuatu. Kemarau panjang sedang terjadi, seluruh warga desa mengalami kekeringan. Bapak (40 tahun) merencanakan ritual Tiban meminta hujan kepada Sang Kuasa. Kemudian Ibu (38 tahun) membicarakan persediaan stok makanan dilubung yang hanya bisa mencukupi sebulan kedepan. Seluruh warga juga meresahkan dampak kemarau panjang yang sedang terjadi, tetapi melihat situasi tersebut dengan kacamata masing-masing. Dudung (14 tahun) mengalami tekanan emosional karena banyaknya cara pandang yang berseberangan dengan diajarkan oleh orang tuanya. Tekanan yang dialami menjadi pemicu kebingungan terhadap sesuatu yang dicarinya. Tak sedikit dari mereka melukai perasaan Dudung (14 tahun) hingga terjadi perkelahian. Beberapa warga di desa sangat antusias untuk menyaksikan seni pertunjukkan Tiban dengan niat yang sama agar turun hujan. Namun tidak untuk Dudung seorang anak yang berada dalam fase pencarian Jati Diri menjadi peristiwa yang penting terhadap kesadaran baru karena dari topeng yang ditunjukkan Bapak dan Ibu mampu menenangkan kepedihan yang dirasakannya dengan penuh kasih sayang terhadap makhluk ciptaan Sang Kuasa.

Still Images

Director’s Profile

Adi Chandra Ardiansyah

A young man born in Kediri, East Java, July 6, 1999, who is currently studying his undergraduate studies at the Indonesian Institute of the Arts, Surakarta. His interest in the film world originated from his frequent attendance at Film Festivals so that he strongly encouraged him to be able to make films according to his views. According to Chandra, film is the most complex form of art for sharing the taste and intention that the maker plans to cultivate the audience’s experience.

Pemuda kelahiran Kediri yang saat ini sedang menjalani studi S1 di Institut Seni Indonesia Surakarta. Ketertarikannya berawal dari sering hadir dalam Festival Film sehingga mendorong kuat untuk dapat membuat film sesuai pandangannya. Menurut Chandra, film merupakan bentuk seni yg paling kompleks untuk membagikan rasa dan karsa yang direncanakan pembuat dalam menumbuhkan pengalaman penontonnya.