COMMUNITY FORUM JURY MEMBERS

 

NENDRA RENGGANIS

Co-Founder & Director Hipwee

Nendra Rengganis, one of the judges for this year’s Community Forum, contributed in the pioneering of Indonesia’s new media, Hipwee, which was found four years ago. She has been the director of Hipwee since 2014, making her the director behind one of the most rapidly-growing new media in Indonesia. Nendra supervises all divisions to achieve each of their KPIs, helps developing business strategies for Hipwee, as well as assessing the market’s taste in order to always improve Hipwee’s products regarding qualities.


 

Nendra Rengganis, salah seorang juri dalam Community Forum, adalah salah satu perintis sebuah media baru di Indonesia, Hipwee, yang berdiri empat tahun lalu. Nendra aktif menjadi direktur Hipwee sejak tahun 2014 hingga sekarang, dan menjadi direktur wanita di balik salah satu media baru yang paling pesat perkembangannya di Indonesia. Nendra mementori seluruh divisi produksi di Hipwee dan memastikan bahwa Hipwee terus berkembang. Ia juga bertanggung jawab memimpin seluruh divisi mencapai KPI (Key Performance Indicator) masing-masing, mengembangkan strategi bisnis untuk Hipwee, dan memahami selera pasar untuk terus mengembangkan produk-produk Hipwee.

 .

 

 

RACHMAT HIDAYAT MUSTAMIN

Filmmaker, Writer

Works as a filmmaker, a poet and a performer. Currently, he is pursuing his master degree in Institut Seni Indonesia Surakarta in Film Making. He is an active member of the Imitation Film Project, a learning community focusing on the production of alternative films. He is also one of the contributors for Kinotika, a community organizing screenings and film workshops, both of which are based in Makassar. His films are including A Tree Growing Inside My Head (2016) and Blues Side on The Blue Sky (2018).


 

Bekerja sebagai pembuat film, penulis puisi dan penampil. Kini ia melanjutkan studi pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta di bidang Penciptaan Film. Ia aktif sebagai anggota kelompok belajar sinema di Imitation Film Project yang berfokus memproduksi film-film alternatif. Ia juga salah satu kontributor di Kinotika, sebuah komunitas yang mengorganisir pemutaran dan berbagai lokakarya film, keduanya berbasis di Makassar. Film-filmnya A Tree Growing Inside My Head (2016) dan Blues Side on The Blue Sky (2018).

 

.

 

 

CICILIA MAHARANI

Chairwoman Kampung Halaman

Cicilia Maharini Tunggadewi adalah seorang chairwoman dan board di Yayasan Kampung Halaman. Setelah menyelesaikan jenjang kuliah di Komunikasi Massa Universitas Indonesia pada tahun 2002, Cicilia bekerja sebagai jurnalis sebuah majalah remaja perempuan. Ketika bekerja sebagai jurnalis itulah, ia dilatih untuk mengemas nilai – nilai kehidupan yang sangat penting bagi remaja perempuan sebagai pembacanya, seperti sikap berani dan kepercayaan diri. Nilai – nilai tersebut disampaikan melalui beragam hal yang mereka sukai, dari mulai lagu, berita hiburan, hingga film. Berikutnya Cicilia melalui In-docs Junior Camp menemani para remaja untuk membuat film – film dokumenter. In-docs Junior Camp adalah program pendidikan pembuatan film dokumenter untuk remaja usia SMA di bawah bimbingan Dian Herdiany yang saat ini merupakan co-Founder dan board Kampung Halaman. Pada tahun 2006 inilah, Cicilia diajak oleh Dian Herdiany untuk turut mendirikan organisasi non profit kampung halaman yang bergerak di bidang pendidikan untuk remaja lewat media. Mereka bersama rekan kerja lain terutama generasi muda membuat metode hingga program – program untuk memfasilitasi remaja – remaja tersebut untuk menyuarakan pendapat dan pemikiran mereka. Tujuannya adalah untuk memperkuat peran para remaja ini dalam komunitasnya hingga ke ranah publik yang lebih luas. Pada tahun 2017 Yayasan Kampung Halaman berkesempatan membuat film dokumenter pendek berjudul Ahu Parmalim yang disutradari oleh Cicilia. Film ini bercerita tentang Carles Butar Buta, seorang pemuda berusia 17 tahun yang tinggal di Huta Tinggi, Pangururan, di Pulau Samosir. Carles Buta Buta disini sebagai seorang pemuda yang melalui sudut pandangnya mengamati kehidupan penganut  Ugamo Malim atau Agama Malim yang disebut sebagai Parmalim. Cicilia menetap di Yogyakarta dengan rutinitasnya untuk mengawasi Kampung Halaman sebagai Board atau “Kakak”. Cicilia Maharani selalu tertarik pada apa yang dapat diciptakan oleh kata – kata dan media audio visual.


 

 

.