CGV* Movie Project 2017

INTRODUCTION

Learning from CGV* Cinemas Indonesia’s social program, Toto’s Film Making Class, conducted from 2013 to 2016, this year we are working to answer the needs of Indonesian filmmakers and film lovers by providing a special space to accommodate the encounter of filmmakers and both general and silver screen movie enthusiasts and screen more Indonesian movies. This space is called Rumah Film Indonesia that has been around since July 2017. As an opening celebration of Rumah Film Indonesia, CGV* holds a competition entitled CGV* Movie Project 2017 which is open for public.

Belajar dari program sosial CGV* Cinemas Indonesia, Toto’s Film Making Class, yang telah berjalan dari tahun 2013 hingga 2016, tahun ini kami berupaya untuk menjawab kebutuhan para insan film Indonesia dengan menyediakan wadah khusus untuk bertemunya para sineas serta penikmat film umum & layar yang menayangkan lebih banyak film Indonesia. Wadah ini bernama Rumah Film Indonesia dan sudah kami buka pintunya sejak Juli 2017. Sebagai bentuk selebrasi pembukaan Rumah Film Indonesia, CGV* menyelenggarakan kompetisi dengan tajuk CGV* Movie Project 2017 yang terbuka untuk umum.

PROGRAM DESCRIPTION

CGV * Movie Project 2017 kicked off in July 2017 and was greeted by 200 registrants coming from all over the country. Starting from the opening until the screening, the program has a total of 5 stages. After the selection process, three groups were chosen: namely BaileoDoc, Ngebedahkeun, and Eleven Cinema. They get the opportunity to join workshops and obtain film production funding worth a total of 500 million rupiah.

This year’s CGV * Movie Project involves professional Indonesian filmmakers like Salman Aristo, Anggia Kharisma, Ismail Basbeth, Ifan Ismail, and Arief Ash Shiddiq as judges and tutors at the script development workshop session.

 

CGV* Movie Project 2017 dibuka pada Juli 2017 dan disambut oleh 200 pendaftar yang masuk dari seluruh nusantara. Mulai dari pendaftaran sampai penayangan film, program ini memiliki 5 tahap. Setelah tahap seleksi, terpilihlah tiga kelompok, yaitu BaileoDoc, Ngebedahkeun, dan Sebelas Sinema yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti workshop dan pendanaan produksi film senilai total 500 juta rupiah.

CGV* Movie Project tahun ini melibatkan sineas Indonesia professional seperti Salman Aristo, Anggia Kharisma, Ismail Basbeth, Ifan Ismail, dan Arief Ash Shiddiq sebagai juri dan pengajar di sesi workshop pengembangan naskah.

FILM INFORMATION

Ngebedahkeun

Production Year : 2017

Director : Luthfan Nur Rochman

SYNOPSIS:

The movie starts from the moment when three brothers begin draining a pond. Encep takes his smallest daughter, Zizah (10 years old), while Memet takes her son, and Tito (9 years old), and Epon follows his brothers while playing with his nieces and nephews. Throughout the draining process, they talk about each other’s life and future family affairs. From the conversation, it’s obvious that Encep intends to become the oldest brother figure, but he faces opposition coming from Memet’s authoritative nature, an attitude obtained from work. The mediator figure among them is Atang, who looks jovial and wiser from the outside, but not as strong as his brothers who often mock his chaotic private life. Along the course of the conversation, they find unusual items from the bottom of the pond such as scissors, women’s underpants, and even Epon’s dolls, a discovery that makes Epon hysterical. The most surprising discovery is a black plastic bag containing bricks and the remains of a baby. This makes the three siblings shocked after realizing the association between their family pond, their former midwife mother, their sibling’s dolls, and their father’s reclusiveness days before his death. The shocking event raises the tension of the brothers’ ego feud and takes them into a debate between on the ambiguous meaning of family and morality.

 

Film bermula ketika 3 bersaudara mulai menguras balong. Encep mengajak putrinya yang paling kecil, Zizah (10 tahun), Memet membawa serta putranya, Tito (9 tahun), dan Epon mengikuti abang-abangnya sambil bermain dengan keponakan-keponakannya. Sepanjang menguras balong mereka bercakap-cakap mengenai kehidupan masing-masing dan urusan keluarga di masa depan. Dari percakapan terlihat hasrat Encep untuk menjadi kakak yang dituakan, namun ia harus berkonflik dengan perangai Memet sebagai figur yang otoritatif, sebuah sikap yang diwarisi dari pekerjaannya. Figur penengah di antara mereka adalah Atang yang dari luar terlihat periang dan lebih bijak, namun tidak sekuat kakak-kakaknya yang sering menyerang kehidupan pribadinya yang kacau. Seiring percakapan, mereka menemukan barang-barang yang tidak biasa dari dasar balong, mulai dari gunting, celana dalam wanita, bahkan boneka Epon yang membuat Epon histeris. Penemuan yang lebih mengejutkan adalah kantong kresek hitam yang di dalamnya berisi batu bata dan sisa-sisa bayi. Hal ini membuat ketiga bersaudara terguncang mengingat asosiasi antara balong keluarganya, ibu mereka yang mantan bidan, boneka adiknya, dan sikap ayah mereka yang tertutup di hari-hari terakhirnya. Hal ini menaikkan tensi perseteruan ego para saudara dan merambah ke perdebatan antara makna keluarga dan moralitas yang ambigu.

Tiket ke Bioskop

Production Year : 2017

Director : Mustafa

SYNOPSIS:

A 10-year-old kid named Yoga who lives in a village is not pleased watching Bang Jali only from television. He wants to watch it at the cinema, but he has no money and his brother, Teguh (26), does not want to take him to the cinema. Finally, he asks his friend, Hasan (10), to help him getting money by delivering stitched clothes in the neighborhood. Then, after getting the money, they cycle to the cinema. Will they ever get to the cinema to watch Bang Jali the movie?

 

Yoga (10) seorang anak kelas 5 sd yang tinggal di desa tidak puas menikmati film Bang Jali hanya melalui televisi. Ia ingin menonton film kesukaannya tersebut di bioskop, namun ia terhambat karena ketiadaan uang dan kakaknya, Mas Teguh (26), tidak mau mengantarkannya. Akhirnya ia meminta temannya, Hasan (10), untuk membantu mencari uang dengan mengantarkan pesananan jahitan baju ke tetangga. Uang yang sudah terkumpul mengantarkan keduanya bersepeda dari desa menuju ke bioskop. Apakah keduanya bisa sampai ke bioskop dan menyaksikan film Bang Jali?

Musera

Production Year : 2017

Director : Ali Bayanudin Kilbaren

SYNOPSIS:

A night before doing his job as an obituary announcer, John (46), a Musera, had a falling accident and could not run. He asks his son, Yance (24), to take his place and run as far as 45 km to give the sad news to the Grandpa Josssy’s grandchildren, Alex (12), in Iblatmumta Village. Yance is reluctant to replace his father as an obituary announcer, but Grandpa Jossy had treated him very nicely and he wants to repay his kindness. Thus, he decides to take the job and deliver the sad news to Alex. His encounter with a lot of people on his journey makes him realize the importance of a Musera, especially in the middle of a poor society with no access to transportation.

 

Semalam sebelum mendapatkan tugas mengabarkan berita duka, John (46), seorang Musera, terjatuh dan tidak dapat berlari. John meminta anaknya, Yance (24), untuk menggantikan dirinya berlari sejauh 45 km ke desa tetangga untuk mengabarkan berita duka kepada cucu Opa Jossy, Alex (12), di Desa Iblatmumta. Yance enggan menggantikan ayahnya menjadi petugas adat pemberi kabar kematian, tetapi hutang budi terhadap Opa Jossy membuat Yance memutuskan mengambil peran itu dan memberi kabar pada Alex. Perjalanan Yance memberi kabar duka dan bertemu orang-orang di perjalanannnya membuat Yance tersadar akan peran penting seorang Musera di tengah kondisi masyarakat yang miskin dan tanpa akses transportasi.