Pengalaman pribadi seseorang kadang muncul atau sengaja diangkat sebagai suatu subjek yang menggerakkannya untuk berkarya. Begitulah penuturan Ratrikala Bhre Aditya, sutradara C’est La Vie (baca: se la vi), ketika diwawancara pada Selasa (5/12) di CGV J-Walk. Bhre, begitu ia akrab dipanggil, memutuskan untuk mengangkat pengalaman pribadi orang tuanya dalam karya fiksi pertamanya itu.

Keputusannya ini mungkin memiliki risiko, terutama terkait dengan konten yang diangkat. Namun, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan “suara-suara terbungkam” itu kepada generasi muda. “Selama ini saya telah banyak membuat film tentang aktivis ataupun gerakan-gerakan, tetapi saya tidak pernah punya keberanian untuk menceritakan ayah saya secara gamblang. Namun, ketika saya menemukan formulanya, saya putuskan untuk membuatnya,” kata Bhre.

C’est La Vie bisa dikatakan menggambarkan sosok ayah sutradara filmnya, tetapi film ini juga mewakili orang-orang yang dibuang ke Pulau Buru oleh penguasa saat itu. Bhre memilih menarasikan nasib para tahanan politik (tapol) melalui tata gerak yang khas akan seni pertunjukan teater. Apalagi, aktor kawakan film dan teater sekelas Landung Simatupang dihadirkan untuk mengisi protagonis film. Selama belasan menit, Landung berolah gerak dan berperan layaknya tapol yang diwawancara.

Tiga memoar para penyintas ‘65 yang telah dibukukan banyak mengilhami ide dan dialog film. Memoar-memoar itu berisikan ujaran atau kesaksian dari orang-orang berpengaruh dalam konteks peristiwa ’65, seperti Pramoedya Ananta Toer, Hersri Setiawan, dan Tedjabayu Sudjojono. “C’est La Vie itu kata-kata eyang saya kepada ayah saya,” kenang pria kelahiran 1986 itu.

Secara harfiah, C’est La Vie berarti “itulah”. Bhre berkata bahwa kalimat yang sekaligus menjadi tajuk filmnya itu merupakan ekspresi ketegaran dalam menghadapi hidup. Tentang dampak yang diinginkan pasca-pemutaran, Bhre tidak menarget perihal yang muluk-muluk selain keinginan untuk mewartakan peristiwa masa lampau kepada orang banyak, terutama pemuda. “Saya rasa kasus ini, ya sudahlah. Ya, itulah hidup. Tapi, pelurusan sejarah itu penting sekali [terutama untuk generasi muda],” ujar Bhre.

Bhre memang mengakui bahwa film ini merupakan tuturan sejarah berdasarkan versinya. Dari situ, ia berharap adanya perputaran dialektika dari para generasi muda untuk mempertanyakan kembali peristiwa masa lampau. Di akhir wawancara, Bhre mengungkapkan harapannya supaya orang-orang yang terkait dengan peristiwa ’65 bersedia untuk menuangkan pemikiran dan pengalamannya dalam bentuk apa pun hingga dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Achmad FH Fajar